Antara Benar dan Kebenaran

Antara Benar dan Kebenaran

(Part 5 Serial Tadabbur, Tazakkur, I’tibar, dan Tafakkur 5W+1H Mukjizat)

Mas Sabrang MDP membedakan secara tegas antara “benar” dan “kebenaran” dalam Majelis Ilmu Bangbang Wetan bertajuk “Memeluk Mukjizat” pada Selasa, 26 Maret 2024, yang digelar di Gedung Pandan Sari, Jalan Raya Kandangan No. 19, Benowo, Surabaya.

Menurut Mas Sabrang, “benar” selalu lahir dari kondisi, konteks, dan situasi tertentu. “Yang perlu dipahami, benar itu lahir dari kondisi seperti apa? Karena kalau kamu melihat kejadian, akan selalu berubah menyesuaikan perkembangan zaman. Pasti berbeda dan berubah,” tegas vokalis band Letto ini.

“Benar” itu bersifat temporal. Ia bisa berubah seiring waktu dan tempat. Sementara “kebenaran” tidak membutuhkan syarat apa pun untuk berlaku.

Sains, menurutnya, tidak pernah mengklaim kebenaran mutlak. Ia hanya menawarkan kebenaran yang berlaku selama hipotesis dan metodenya masih relevan. “Kebenaran itu tidak butuh kondisi,” katanya.

Maka memperdebatkan klaim benar dari mulut manusia tanpa melihat konteksnya hanya akan menjerumuskan kita pada kebuntuan.

“Kalau kamu khawatir benar dari perspektif klaim komunitas, misalnya. Nggak usah diperdebatkan. Itu sudah pasti bener, Cuma yang perlu dipertanyakan pada kondisi seperti apa?” tanya Mas Sabrang kepada jamaah yang hadir.

“Artinya, kalau kita sadar, benar yang disampaikan mulut manusia itu tidak mungkin (bersifat) kebenaran. Tidak mungkin manusia bisa menyampaikan kebenaran. Kenapa?” tanya lebih lanjut

Masio ngomong sampai bundas, tidak akan dipahami orang lain. Semua hal pasti ada sisi enak dan tidak enaknya. Jangan ngikutin yang tidak kita pahami!” tegas Mas Sabrang.

Ia mengibaratkan “benar” seperti buah yang berada di pohon yang sama. Ada mangga yang masih mentah, matang, atau manis.

Semuanya “benar” sebagai mangga, tetapi tidak bisa diperlakukan sama. “Benar” memiliki lingkungannya sendiri—akar sejarah, konteks sosial, dan kondisi zaman.

“Kebenaran” yang mendekati “kebenaran” versi Tuhan adalah “kebenaran” yang sifatnya konsisten lintas ruang dan waktu. Semakin lama dan semakin luas ia berlaku, semakin dekat ia pada sifat keilahian.

“Seperti sifat Allah itu sendiri. Kebenaran yang berlaku di mana saja dan kapan saja.” Lanjut Mas Sabrang, “Ada yang namanya konsistensi.” Tuturnya.

Kebenaran yang muncul pada 10 tahun lalu, sambungnya, kalah benar dengan kebenaran yang berlaku selama 50 tahun. “Kebenaran yang paling benar adalah kebenaran siapa?” pertanyaan pantikan Mas Sabrang.

Di sinilah manusia diajak untuk rendah hati, menyadari keterbatasannya dalam menyampaikan “kebenaran”.

“Karena kebenaran yang tahu hanya Tuhan, dan orang-orang yang diberi rezeki pemahaman,” tukasnya.

Jagad Jawi Cerme, Senin, 9 Februari 2026

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.