Prasangka Baik dan Mesin Pemaknaan
(Part 6 Serial Tadabbur, Tazakkur, I’tibar, dan Tafakkur 5W+1H Mukjizat)

Dalam wilayah batin manusia, Mas Sabrang MDP menaruh perhatian besar pada prasangka baik. Bukan sebagai nasihat moral semata, melainkan sebagai mekanisme yang bekerja di otak dan alam bawah sadar.
Keputusan, menurutnya, sering kali muncul lebih dulu sebelum kita menyadarinya secara sadar.
Ada jeda waktu yang sangat singkat—sekitar 25 milidetik—antara munculnya keputusan dan kesadaran kita akan keputusan tersebut. Di sanalah mesin pemaknaan dari dalam diri bekerja.
Prasangka baik mengubah cara mesin itu beroperasi. Ketika seseorang terbiasa memaknai kejadian secara positif, jalur keputusan yang terbentuk di kepalanya pun berbeda.
“Kalau kamu menyadari keputusan, artinya itu dari mana? Jangan meloncat langsung ke Tuhan,” Mas Sabrang mengingatkan kuda-kuda berpikir kita.
Agama, dalam konteks ini, dipandang sebagai jalan pintas untuk membangun mesin pemaknaan yang sehat.
“Berdasarkan pengalaman yang kita alami, ada mesin di dalam sana.”
Bukan karena agama menguraikan mekanismenya secara rinci, tetapi karena ia langsung menuntun manusia pada sikap dasar: memaknai setiap kejadian dengan baik—husnudhan.
“Agama mengajarkan untuk mengambil keputusan yang berprasangka baik. Intinya ketika sudah berprasangka baik, mesin di otak akan bekerja berbeda. Karena kamu memaknai (sesuatu) itu baik,” tutur Mas Sabrang.
Dari sanalah refleks batin terbentuk, dan hidup menjadi lebih tertata.
“Itu sudah segaris prasangkamu sebagai hamba. Anda melakukan ini selama tiga bulan saja, hidup sudah terasa nyaman. Karena sudah menjadi refleks, memaknai apa saja menjadi positif,” pesan Mas Sabrang.
“Yang tidak dijelaskan (di agama) mekaniknya, karena agama tidak menjelaskan itu semua. Agama itu menjelaskan yang penting baik. Kalau sekolah menjelaskan agar kamu tahu,” tandasnya.
Berpasangka baik bagi Mas Sabrang punya dampak luar biasa bagi kita sebagai bekal untuk menjalani kehidupan di dunia yang penuh dengan misteri. Ada jurnal penelitian yang meriset tentang itu semua.
“Isinya, mencari jarak antara keputusan dengan menyadari mengambil keputusan. Kadangkala kita punya keputusan, tapi kita tidak tahu,’ ungkapnya.
Selain itu, Mas Sabrang juga membahas tentang keputusan yang kita ambil. Menurutnya, keputusan tersebut sering kali muncul dari alam bawah sadar sebelum kita menyadarinya secara sadar.
“Ini menunjukkan bahwa banyak keputusan kita dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan pemaknaan yang kita berikan pada pengalaman tersebut,” jelasnya.
Jagad Jawi Cerme, Senin, 9 Februari 2026
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair ataupun sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.