Remaja, Transendensi, dan Rezeki Pemahaman

Remaja, Transendensi, dan Rezeki Pemahaman

(Part 7 Serial Tadabbur, Tazakkur, I’tibar, dan Tafakkur 5W+1H Mukjizat)

Mas Sabrang MDP juga menyinggung pentingnya berpikir transendental, terutama pada usia remaja. Poin itu disampaikan dalam forum Bangbang Wetan edisi Maret 2024 dengan tema “Memeluk Mukjizat.”

Berpikir tentang Tuhan, yang abstrak, dan yang melampaui keseharian, menurutnya, adalah fondasi penting bagi kedewasaan.

Ia mengaitkan hal ini dengan sains: perkembangan otak, perubahan hormonal, dan keterbatasan biologis yang memengaruhi cara manusia memahami dunia.

Kedewasaan bukan semata hasil usaha, tetapi juga rezeki pemahaman dari Tuhan.

Karena itu, sambung Mas Sabrang, generasi muda perlu dibesarkan hatinya. Bukan dengan menuntut kesempurnaan, tetapi dengan memberi ruang bagi mereka untuk menikmati proses tumbuh kembangnya.

Ketika remaja diberi kesempatan untuk berpikir transendental, kapasitas batinnya tumbuh lebih matang.

“Ada penelitian mengatakan ketika usia masih remaja (berlatih dan dilatih berpikir transendental) itu akan tumbuh dewasa lebih baik daripada remaja yang tidak ngapa-ngapain. Anak remaja yang sudah berpikir seperti itu kapasitasnya jauh lebih baik,” paparnya.

Dalam hal ini, papar Mas Sabrang, mukjizat tidak lagi hadir sebagai peristiwa spektakuler, melainkan sebagai proses pertumbuhan manusia itu sendiri—pelan, bertahap, dan penuh kedalaman makna.

Di sela obrolan yang berat bin serius: menguras kinerja otak saya, Mas Sabrang menyelipkan humor pada malam hari itu. Tak bisa dipungkiri, sebagian besar yang hadir adalah generasi muda. Karena itu, Mas Sabrang juga membesarkan hati mereka dengan gaya khas humornya.

Kowe cah enom isa pacaran, isa dolan. Tapi kowe milih lungguh ndhuk kene ora cetha, diajak mikir muter-muter ora karuan ujung-e. Tapi, di sains sudah jelas. Ada penelitian dan risetnya.” hibur Mas Sabrang.

Jagad Jawi Cerme, Senin, 9 Februari 2026

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.