HPN: Demi Masa, dan Mengalami Pers
(Utang Roso, Sunyi, dan Belajar Merawat “Fatwa Hati”)

9 Februari. Selamat Hari Pers Nasional.
Momentum ini, entah bagaimana latar belakang sejarahnya, asal-usulnya, motifnya, sangkan paran-nya, hingga kemudian dimunculkan: “Selamat Hari Pers Nasional.” Atau yang disingkat sebagai HPN.
Sedikit yang saya tahu: HPN diselenggarakan rutin setiap tahun. Perayaan ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia. Penetapannya merujuk pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 Tahun 1985. Lima belas tahun sebelum saya dilahirkan di dunia.
Keputusan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985 itu menyebutkan bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.
Dewan Pers kemudian menetapkan bahwa Hari Pers Nasional dilaksanakan setiap tahun secara bergantian di ibu kota provinsi se-Indonesia. Penyelenggaraannya dilaksanakan secara bersama antara komponen pers, masyarakat, dan pemerintah, khususnya pemerintah daerah yang menjadi tempat penyelenggaraan.
Tahun ini, puncak HPN diselenggarakan di Provinsi Banten, 9 Februari 2026.
Bagi saya, HPN bukan sekadar acara seremoni tahunan. Ia bukan sebatas panggung, pidato, baliho, atau deretan ucapan “Selamat Hari Pers Nasional” yang lalu-lalang di media sosial. Bagi saya, HPN adalah ruang untuk merawat ingatan. Menumbuhkan kesadaran. Melatih kejujuran sejak dalam pikiran—meskipun terasa berat dan sulit.
Tiga tahun terakhir ini (2022-2025), saya betul-betul “mengeksperimenkan diri” sebagai “kelinci percobaan”. Jangan dimaknai bahwa saya hanya coba-coba dan main-main. Meski, sebetulnya sah dan layak juga bila ada yang mengatakan: saya tidak sepenuhnya bisa disebut wartawan. Karena saya belum memiliki sertifikasi UKW.
Meskipun saya punya sederet argumen lainnya. Saya pernah menjadi peserta Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian PWI Provinsi Jawa Timur Angkatan ke-XVII/2024. Sertifikat fisik juga saya miliki. Dengan nomor: 730/OKK/PWI JATIM/VIII/2024.
Adapun materi yang saya dapat saat itu, yakni:
- Perkembangan Pers di Era Digital oleh Lutfil Hakim (Ketua PWI Provinsi Jawa Timur);
- Peraturan Dasar/Peraturan Rumah Tangga PWI, UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers, Pedoman Pemberitaan Media Siber (PPMS), dan Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) oleh Machmud Suhermono (Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Provinsi Jawa Timur)
- Kode Etik Jurnalistik, Kode Perilaku Wartawan dan Dewan Kehormatan oleh Djoko Tetuko Abd. Latif (Ketua Dewan Kehormatan PWI Provinsi Jawa Timur)
Sertifikat itu ditetapkan di Gresik, 7 Agustus 2024. Bertanda tangan Ketua PWI Provinsi Jawa Timur, Lutfil Hakim dan Sekretaris PWI Jawa Timur, Eko Pamuji.
Di luar konteks administratif, saya pribadi punya banyak utang roso kepada seluruh insan pers. Kepada sesiapa saja: senior-senior di Gresik, beberapa teman seangkatan, teman-teman komunitas, teman-teman di jajaran birokrasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik, juga seluruh semesta di bumi Gresik tanpa terkecuali.
Saya sadari betul, tiga tahun itu masih seusia bayi. Belum bisa berjalan dan berdiri tegak sepenuhnya. Membaca masih terbata-bata. Ngomong pun begitu. Bahkan sering kali, saya merasa belum benar-benar paham bagaimana cara kerja profesi ini secara utuh—terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang berdampak pada informasi.
Namun, justru di tengah keresahan itu saya merasakan sesuatu yang tidak bisa saya abaikan sepenuhnya: pers bukan sekadar pekerjaan. Bukan sebatas labeling profesi. Bagi saya, pers adalah proses itu sendiri.
Pers adalah “benturan.”
Pers adalah latihan yang berulang-ulang.
Dan di dalam proses itulah diri saya ditempa habis-habisan.
‘Kan datang waktu di harimu
Saat kau merasa tak menentu
Saya dipaksa belajar ketelitian. Dipaksa belajar menata kalimat yang akurat. Dipaksa menahan diri. Dipaksa belajar menunggu waktu yang tepat. Dipaksa belajar bahwa tidak semua hal harus segera dituntaskan segera. Ada yang perlu disimpan dulu, baru “diletupkan” ketika peka membaca momentum. Pers menempa diri saya untuk belajar sekaligus memaknai “Demi masa.”
Saya belajar bahwa “Demi masa” bukan hanya kutipan indah, melainkan sebentuk peringatan yang tegas: waktu akan terus berjalan, dan manusia sering kalah oleh kelalaiannya sendiri.
Jangan kau bimbang pada waktu
Akan ku ingatkan kepadamu
Karena pers pula, saya bisa belajar tentang kecermatan pandang. Tentang kejernihan menangkap masalah. Tentang bagaimana sesuatu yang terlihat kecil—sepele, remeh, sederhana—bisa menyimpan urusan besar. Tentang bagaimana berita itu bukan sekadar peristiwa atau kejadian yang mengundang rasa penasaran publik semata. Ada luka, harapan, dan kepentingan yang bertumpuk-tumpuk serta berlapis-lapis di baliknya.
Oleh sebab itu, apa yang saya tulis ini tidak untuk mengomentari, tidak untuk mengoreksi, apalagi mengkritik. Tulisan ini saya maksudkan sebagai bentuk utang roso saya yang teramat dalam. Tak terhitung dan mustahil diwakili oleh angka, bahkan kata pun tak bisa mencerminkan semuanya.
Tentang kita dan tentang cinta
Tentang janji yang kau bawa
Karena bagi saya, pers sudah menjadi bagian dari pengalaman-pembelajaran hidup: menempa berkali-kali, membentuk-bentur diri berkali-kali. Medium yang ditakdirkan-Nya kepada saya sebagai proses peran(g) melawan diri sendiri.
Dan, apa pun yang saya alami, yang saya amati, yang saya kerjakan, yang saya tekuni—semua irisan itu membentuk sekaligus membangun banyak pengalaman bagi saya;
Pengalaman (belajar) berpikir. Pengalaman (belajar) me-roso.
Pengalaman (belajar) memahami bahwa waktu harus dijaga dengan ekstra disiplin.
Pengalaman (belajar) menyadari bahwa kata-kata memang bisa menjadi cahaya, sekaligus juga bisa menjadi api.
Dari seluruh kompleksitas pengalaman tersebut, saya mendapat banyak pembelajaran sekaligus pemaknaan. Bahwa, wartawan itu bukan semata-mata tentang kecakapan dalam menulis berita saja.
Jika nanti saat kau sendiri
Temukan-Ku di fatwa hatimu
Tetapi tentang bagaimana menjaga nurani—meskipun berupa rasa sepi, sunyi, senyap dalam diri—tetap hidup. Di tengah hiruk-pikuk bising informasi yang terkadang tidak lagi punya kejelasan arah.
Sepanjang tiga tahun itu: saya meng-alam-i perjalanan panjang. Gegap gempita. Riuh rendah. Berjejal-jejal. Namun, saya (merasa) terlempar masuk ke dalam jurang sepi. Betul-betul sepi. Sunyi. Senyap.
Selamat Hari Pers Nasional.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr Ayat 1-3).
Kamar “surga”, Senin, 9 Februari 2026
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.