Tulisan, Realitas, dan Model Berpikir

Sabtu, 14 Maret 2026, saya mengawali tulisan esai setelah beberapa hari mengambil jeda. Memberi hak pada tubuh untuk beristirahat. Ada dua sebab yang membuat saya, mau tidak mau, segera menulis tulisan kali ini.
Pertama, tentu dari Cak Fauzi. Ia bilang di grup Sajen Pawon DK, “Tulisanmu kali ini lebih mengalir, lebih nikmat dikunyah, dan lebih menuntun pikiran.”
Pernyataan dari Cak Fauzi tersebut merespon tulisan saya berjudul Jeda Di Antara Fakta dan Kata. Setelah dibaca, direview, sekaligus dikoreksi, Cak Fauzi tentu sangat sah memberikan responnya, karena tidak asal baca. Ia bahkan menambahkan, “Soal ada beberapa kata yang salah tulis, atau penggunaan istilah yang kurang tepat, tentu saja sudah kukoreksi.”
Sebab kedua adalah tulisan Bung Hasan Aspahani, serial kategori Hakikat Kerja. Seorang pria yang akrab dikenal sebagai penulis, penyair, dan jurnalis itu membuat sepuluh tulisan dalam kategori tersebut.
Tulisan ini sekaligus bentuk ikhtiar kritik dan evaluasi diri. Saya menyadari tulisan yang liar, meloncat-loncat, akan membingungkan pembaca. Persis yang pernah ditulis Cak Fauzi: “Pembaca bisa hilang arah, bisa tersingkir di tengah. Dan saya percaya Febrian paham betul soal itu.”
Selain itu, saya juga tidak mau berdiam diri di tempat. Apalagi terjebak pada romantisme logika mistika—sebutan yang akrab dibuat oleh Tan Malaka. Sebab saya sadari, sebelumnya saya sempat larut tenggelam dalam hal tersebut: Lewat Tulisan Aku BerTuhan.
Semua itu bermodal sederhana: keresahan yang saya alami. Bahkan, mungkin sebagian di antaranya cenderung saya buat-buat sendiri. Tetapi dari situ saya ingin mencoba sesuatu: menjadikan resah sebagai ‘ilmu.
Saya yang menjadikan Mbah Nun sebagai sosok sumber motivasi, teladan, sekaligus guru kehidupan, tidak boleh berhenti pada romantisme berupa kata-kata semata. Memang, modal awal yang muncul dalam perjalanan pemikiran beliau adalah keresahan yang dialami—yang kemudian menjadi pijakan awal untuk bergerak dan terus berjalan. Dari situ saya terinspirasi.
Semakin ke sini, tulisan saya mulai menemukan titik temu arahnya yang lebih presisi. Bukan berarti saya sedang ge-er dengan ke-pede-an yang berlebihan, tetapi saya seperti dipaksa oleh diri sendiri untuk menentukan arah dari tulisan yang saya buat dalam kesadaran penuh.
Keresahan yang saya alami: Resah yang Ditemani Tulisan. Keresahan itu kemudian perlu saya sadari dan dirumuskan. Supaya arah tulisan yang saya buat, seminimalnya, bisa lebih nikmat dikunyah dan lebih menuntun pikiran pembaca.
Saya menemukan semacam pegangan sekaligus fondasi kerangka berpikir melalui postingan Instagram Bu @intansahara. Belakangan ini saya cukup intens mengikuti konten yang ia buat. Saya akui, memang perlu berpikir ekstra untuk berupaya memahaminya. Tetapi saya bersyukur, karena konten-konten tersebut membantu merapikan alur kerangka pikiran saya—yang seringkali rumit, kompleks, dan justru membuat saya sendiri resah.
Ia menulis bahwa realitas atau kenyataan sebenarnya adalah apa yang kita alami dan hadapi secara langsung. Tanpa filter atau interpretasi dari model atau teori. Realitas adalah apa yang ada di sekitar kita: yang kita lihat, dengar, sentuh, dan rasakan.
Namun karena otak manusia memiliki keterbatasan, kita membutuhkan alat bantu untuk memahami dan mengorganisir semua informasi tersebut. Di situlah manusia menciptakan model atau teori. Model atau teori adalah alat bantu manusia untuk menjelaskan sekaligus memprediksi apa yang terjadi di dunia.
Namun, model atau teori tidak pernah bisa menggambarkan kenyataan secara sempurna. Ia hanyalah konstruksi pikiran manusia yang dibangun dari pengamatan, eksperimen, dan data. Kenyataan yang sebenarnya jauh lebih kompleks. Bahkan kadang lebih misterius daripada yang bisa ditangkap oleh model atau teori apa pun.
Dalam sains, sesuatu yang disebut ilmiah pada dasarnya adalah model konseptual yang berusaha menggambarkan dan memahami kenyataan. Para ilmuwan tersebut membuat model konseptual dari hasil pengamatan, eksperimen, dan data untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di dunia nyata.
Contoh sederhana yang dibuat Bu @intansahara dalam konten tulisannya: teori gravitasi. Teori gravitasi merupakan model konseptual yang menjelaskan cara kerja gaya gravitasi berdasarkan pengamatan dan eksperimen. Meskipun teori gravitasi sangat membantu dalam menjelaskan dan memprediksi fenomena gravitasi, ia tetap hanya representasi dari kenyataan—bukan kenyataan itu sendiri.
Dengan kata lain, model konseptual ilmiah membantu manusia memahami kenyataan, tetapi ia bukan kenyataan itu sendiri. Model atau teori dapat terus berkembang seiring ditemukannya data baru yang lebih akurat.
Teori dan model seperti peta. Ia dapat membantu kita untuk memahami, memprediksi, dan menjelaskan fenomena yang kompleks yang terjadi di dunia nyata. Tanpa teori, manusia akan kesulitan membuat keputusan atau mengembangkan teknologi.
Maka, sambung dalam caption tulisan Bu @intansahara, ketika ada orang berkata, “Ah, itu kan teori doang….”, pernyataan tersebut sebenarnya mirip seperti seseorang yang tersesat di hutan rimba belantara, lalu ketika diberi peta justru berkata, “Ah, itu kan peta doang…”.
Pada titik momentum ini saya mulai berpikir ulang: bagaimana jika keresahan itu tidak sekadar saya rasakan, tetapi juga saya amati? Bagaimana jika saya menjadikan diri saya sendiri sebagai bahan eksperimen?
Dalam psikologi, saya menemukan istilah refleksi diri. Sebuah proses ketika manusia mencoba memahami pengalaman batinnya sendiri. Bagaimana manusia tidak sekadar mengalami, tetapi juga mengamati pengalaman tersebut.
Oleh karena itu, bagi saya, tulisan ini menjadi penting. Tulisan bukan lagi berfungsi sebagai media curhat sesambatan, melainkan saya jadikan sebagai ruang observasi. Saya mengamati bagaimana keresahan itu muncul. Bagaimana keresahan itu berubah. Bagaimana keresahan itu memengaruhi cara saya berpikir.
Tulisan—saya ikhtiari—menjadi semacam laboratorium kecil bagi pikiran saya sendiri.
Dalam psikologi modern, proses seperti ini sebenarnya memiliki istilah yang cukup dikenal: refleksi diri (self-reflection). Filsuf sekaligus psikolog pendidikan, John Dewey, pernah mengatakan bahwa manusia tidak belajar hanya dari pengalaman, tetapi dari upaya merefleksikan pengalaman tersebut. Artinya, pengalaman hidup tidak otomatis menghasilkan pemahaman. Ia baru menjadi pelajaran ketika manusia berhenti sejenak, melihat kembali apa yang dialaminya, lalu mencoba memahaminya secara sadar.
Tulisan, bagi saya, menjadi alat untuk melakukan refleksi semacam itu.
Saya membaca ulang apa yang saya tulis, mengingat kembali apa yang saya rasakan ketika menulisnya, lalu mencoba melihat apakah pikiran saya bergerak maju atau justru berputar di tempat yang sama. Dalam proses itu, sering kali saya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak saya sadari.
Bahwa keresahan ternyata tidak selalu menjadi “musuh” yang harus saya takuti, atau saya hindari. Kadang-kadang, keresahan justru menjadi pintu masuk untuk memahami diri sendiri.
Temuan semacam ini juga pernah dibuktikan dalam penelitian psikologi. Seorang psikolog sosial dari University of Texas, James W. Pennebaker, melakukan serangkaian penelitian tentang kebiasaan menulis pengalaman emosional. Ia menemukan bahwa orang yang secara rutin menuliskan pengalaman batin mereka—terutama pengalaman yang penuh tekanan atau kegelisahan—cenderung memiliki kondisi psikologis yang lebih stabil.
Menulis, dalam penelitian Pennebaker, bukan sekadar aktivitas literasi. Ia menjadi cara bagi pikiran manusia untuk menata ulang pengalaman emosionalnya. Ketika seseorang menulis tentang apa yang ia rasakan, sebenarnya ia sedang berusaha mengorganisir pengalaman yang sebelumnya terasa kacau.
Dengan kata lain, tulisan membantu pikiran memberi struktur pada keresahan.
Saya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya hanya saya rasakan secara samar: mungkin benar bahwa keresahan tidak selalu harus dihilangkan. Kadang-kadang ia justru perlu dipahami jujur apa adanya.
Dalam psikologi eksistensial, gagasan seperti ini juga sering muncul. Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, pernah menulis bahwa manusia pada dasarnya selalu berusaha mencari makna dalam pengalaman hidupnya—termasuk dalam penderitaan atau kegelisahan yang ia alami.
Bagi Frankl, penderitaan yang tidak memiliki makna akan terasa menghancurkan. Tetapi penderitaan yang berhasil dipahami maknanya bisa berubah menjadi kekuatan batin.
Barangkali di situlah posisi tulisan dalam hidup saya. Ia bukan sekadar menjadi alat untuk menyampaikan pikiran kepada orang lain, tetapi juga cara untuk mencari makna dari apa yang saya alami sendiri.
Keresahan yang sebelumnya hanya terasa sebagai beban perlahan berubah menjadi bahan pengamatan. Ia saya amati, saya tulis, lalu saya baca kembali.
Proses itu tentu tidak selalu mudah untuk dijalani. Kadang tulisan saya masih liar, meloncat-loncat, bahkan membingungkan pembaca. Tetapi justru dari situ saya belajar bahwa berpikir memang sering kali tidak berjalan lurus. Ia berkelok, kadang mundur, kadang juga tersesat.
Dan mungkin di situlah fungsi teori atau model berpikir yang sebelumnya disebut seperti peta oleh Bu @intansahara. Ia tidak dapat menggantikan kenyataan, tetapi membantu kita memahami perjalanan di dalamnya.
Dengan cara demikian saya berikhtiar mencoba memandang tulisan saya sendiri. Bahwa tulisan bukan sekadar kumpulan kata, tetapi bagian dari proses dalam memahami diri secara jangkep. Atau, dalam istilah yang sebelumnya saya tulis: sebuah upaya menjadikan resah sebagai ‘ilmu—melalui Resah yang Ditemani Tulisan.
Cerme, 14-15 Maret 2026
Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)
JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.