
Ramadlan merupakan bulan yang penuh hikmah, hidayah dan keberkahan. Bulan di mana Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu kepada Baginda Muhammad SAW. Di bulan ini juga, selama 29-30 hari, semua umat Islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa (shaum). Perintah Allah tersebut tertulis dalam Alquran Surat Al Baqarah: 183, sedangkan tutorial atau petunjuknya tercantum dalam ayat 184 dan 185.
Kilau Ramadlan yang gemerlap dan dinanti-nanti oleh umat Islam di penjuru dunia barangkali bermula dari berbagai hadits yang menerangkan bahwa bulan Ramadlan memiliki begitu banyak keistimewaan dibandingkan bulan lain. Mulai dari perbuatan baik akan diganjar dengan pahala berlipat ganda, dosa-dosa akan mendapatkan ampunan bila kita menjalankan puasa karena iman kepada Allah SWT, terbukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka, bahkan pada bulan Ramadlan terdapat satu malam istimewa bernama Lailatul Qadar. Secara eksplisit Tuhan menyatakan keistimewaan Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan (Alquran Surat Al Qadr: 3). Pada malam tersebut terdapat keberkahan dan kebaikan yang besar. Bagi orang Islam yang memperoleh malam seribu bulan itu, do’anya akan diijabah oleh Allah SWT.
Keistimewaan-keistimewaan Ramadlan di atas, baiknya dapat dijadikan pembelajaran, sebagai autokritik terhadap diri kita sendiri dalam menyambut dan memaknai bulan Ramadlan, terutama dalam mencari esensi dari puasa itu sendiri. Ada kemungkinan kemilau imbalan pahala di bulan Ramadlan menjadi ujian dari Allah untuk kita. Coba kita flashback apa yang terjadi pada mayoritas umat Islam di negeri kita. Kedatangan Ramadlan disambut dengan sangat kentalnya keributan suara khas Ramadlan, komoditas Ramadlan, industri Ramadlan, serta eksistensi dan vokalisme taushiyah Ramadlan. Riuh rendahnya seperti kabut yang menutupi kualitas ibadah, kekhusyukan Ramadlan yang merupakan bulan privatnya Allah SWT.
Klimaks dari fenomena komoditas dan industri Ramadlan akan menjadi-jadi, bila hari akan mendekati Idul Fitri. Semua orang akan sibuk dengan apa-apa yang bersifat materi, mulai hal sandang sampai pangan. Secara sadar atau tidak, kebiasaan yang sudah membudaya seperti ini terkesan mendemonstrasikan bahwa Ramadlan seperti “penjara” dan pintu awal kebebasannya adalah Idul Fitri.
Di Maiyah, kita banyak belajar dari Mbah Nun. Pemahaman puasa beliau sangat luas. Puasa tidak disempitkan maknanya secara fisik, seperti menahan lapar dan dahaga, atau secara psikis seperti menahan amarah, dan tidak terbatas pada waktu seperti Ramadlan atau hari-hari tertentu, seperti puasa Senin-Kamis, dan lain-lain. Tetapi pemaknaan puasa diluaskan pada nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Mbah Nun juga menyebut, puasa adalah menahan diri dari ketamakan, dari haus akan kekuasaan, dan sangat tidak dibatasi waktunya. Kita bisa kapan saja ber-“puasa”. Karena itu pula, menurut Mbah Nun, kita bisa “riyaya” setiap hari.
Dulur, menepati momentum penghujung Ramadlan, Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke delapan ini akan digelar. Berbareng kita melakukan refleksi, membangun kejernihan untuk mengidentifikasi serta jujur mengakui “seberapa remeh” kandungan pamrih-level-jangkauan puasa yang telah kita jalani. Sekaligus mengaktifkan radar batin untuk meraba “seberapa rame” riak jiwa lebaran yang sedang kita songsong.
Maka, berpayung istiqomah dan tetap teguh pada wa-ilaa rabbika farghab, mari hadir pada :
Sabtu, 17 Juni 2017
Pukul 20.23 WIB
Aula MTs Miftahul Ulum
Dsn. Tlogobedah, Ds. Hulaan, Kec. Menganti, Kab. Gresik.