Damar Kurung ala Damar Kedhaton di Tlogobedah

 

Suasana Telulikuran edisi 8 terasa begitu berbeda. Ada sesuatu yang sama sekali baru, yang belum ada pada edisi-edisi sebelumnya. Empat buah Damar Kurung berpendar lembut, menggantung, memperindah dan memperkhusyuk atmosfer teras mushalla Miftahul Hidayah di Dusun Tlogobedah, Ds. Hula’an, Menganti, Gresik. Di situlah digelar forum rutin sinau bareng Lingkar Maiyah Damar Kedhaton (DK) pada Sabtu malam, 17 Juni 2017. Redaksi damarkedhaton.com berkesempatan melakukan wawancara singkat dengan Cak Haqiqi, pegiat DK dari Driyorejo. Dialah yang menginisiasi pembuatan Damar Kurung. Berikut petikannya :

Dari kiri, Cak Haqiqi, Mbah Nun, dan Mas Bayu.

Hal apa yang mendorong sampeyan membuat Damar Kurung ala DK?

Kalau tidak keliru, ada tradisi leluhur masyarakat Gresik di penghujung Ramadlan, yaitu memasang Damar Kurung.  Kabarnya, ini dilakukan untuk menyambut momentum Lailatul Qadr. Nah, Damar Kedhaton kan rutin melingkar pada malem telulikur. Kebetulan bulan ini masuk bulan Ramadlan. Saya jadi teringat tradisi Damar Kurung. Kita bikin aja kalau begitu.

Tepatnya sejak kapan ide ini lahir?

Sebetulnya, ide sudah pernah terlontar sekitar setengah tahun lalu. Saya bilang ke beberapa dulur DK saat ngopi. Ide disambut baik, tapi belum ada tindak lanjut. Minggu lalu, menjelang Telulikuran, saya teringat kembali ide itu. Karena momennya pas, langsung saja kami eksekusi. H-1, kami prepare bahan-bahan. Hari-H siang hari kami produksi.

Proses pembuatan rangka Damar Kurung.

Siapa saja pihak yang terlibat proses pembuatannya?

Mas Bayu membantu menyediakan kayu untuk rangka. Saya menyiapkan desain dan mencetaknya. Belakangan, Mas Rizky membantu ngelem-ngelem dan membawa ke lokasi.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat 4 buah Damar Kurung?

Kurang lebih 7 jam. Pengerjaan mulai pukul satu siang, dan selesai ketika waktu Tarawih tiba.

Damar Kurung diangkut ke lokasi telulikuran di Tlogobedah dari Driyorejo oleh Cak Rizky dan Cak Haqiqi.

Kendala apa yang sampeyan hadapi saat proses produksi?

Kendala utamanya, saya tidak pernah secara langsung melihat Damar Kurung dari dekat. Paling banter ya meilhat (Damar Kurung, red.) yang menggantung di jalan raya itu. Selebihnya, melihat di internet. Kendala lainnya, cuaca sangat panas saat pengerjaan, dan di sekitar kami, berseliweran orang-orang yang tidak berpuasa…. Hahaha…

Rencananya, apakah Damar Kurung akan menemani setiap acara Telulikuran?

Kalau dulur-dulur yang menjadi tuan rumah berkenan, saya ya senang. Jadi, DK turut urun merawat ciri khas Gresik. Pasti juga bagus jika dikenalkan kepada anak-anak. Seperti Sabtu kemarin, ada beberapa anak (anak jamaah DK, red.) yang ikut melingkar. Jadi, mereka bisa melihat Damar Kurung dari dekat. (aif/ddk)