
Entah Tuhan sedang jatuh cinta atau sedang loman kepada kami, di awal kelahiran sampai berjalannya Damar Kedhaton dalam berproses, kami disuguhkan hal unik dan cerita menarik, yang semoga ini adalah pertanda ketepatan langkah kami Nandur Katresnan ber-Maiyah dalam lingkaran kecil ini.
Dipantik oleh informasi dari Mas Fauzi bahwa di daerah kami ini ada JM senior asli Gresik yang berdomisili di Jeddah, dan akan pulang ke kampung halaman. Orang yang dimaksud adalah Kang Thobibuddin. Tanpa berpikir panjang, para serdadu perkopian DK langsung bergerak. Diawali dari Cak Adib dan Kang Farhan yang rela melek sampai shubuh demi menjemput Kang Thobib di Stasiun Lamongan.
Dari ketukan tiga pegiat diatas, kami JMDK mendapatkan pintu untuk masuk ke ladang ilmu Kang Thobib. Peluang ini kami sadari bersama harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, karena beliau hanya dalam hitungan minggu mudik ke Tanah Air.
Hari berganti hari, Alhamdulillah kami cepat akrab dengan Kang Thobib karena beliau orangnya sangat unik, suka bercanda, pecinta kopi dan kretek juga. Dari seringnya ngopi dan maiyahan bersama beliau, kami sangat banyak mendapatkan referensi ilmu dan nilai Maiyah. Di setiap ngopi bareng kami selalu masuk ke dalam suasana keakraban, sampai kadang tertawa lepas, oleh guyonan Kang Thobib, melalui riwayatnya sebagai pejalan Maiyah. Yang menakjubkan, Kang Thobib mampu menularkan keakraban para senior kepada JMDK, dimana hal-hal yang menurut kami sulit bisa terjadi, dan mengalir.

Di Padhang mBulan bulan ini, kami sama sekali tidak menyangka bisa melingkar di Ndalem Kasepuhan Mentoro, bertatap wajah dan salim sungkem dengan Mbah Fuad, Mbah Nun, Cak Anang, Cak Yus, bahkan mendapat kesempatan nyruput wedang kopi dan teh tinggalan Simbah. Momen seperti itu mungkin tidak akan terjadi kalau Allah tidak mempertemukan kami dengan Kang Thobib. Dimalam berikutnya kami lanjut maiyahan rutinan BbW di pendopo Cak Durasim. Dan keakraban pun berlanjut, di mana setelah acara, kami dibawa Kang Thobib dan diperkenalkan dengan para senior seperti, Pak Dudung (BbW), Cak Slamet (BbW), Mas Gandhi (KC) dan yang lainya. Sebenarnya, kami juga diajak masuk pendopo untuk bertemu Gus Sabrang. Tapi apalah daya, penyakit minder menyerang, yang berujung kalimat : “Ngapunten, aku tak ngenteni ndik njaba wae Kang.” Karena menurut kami, para senior dan Sifat Maiyah mengetahui kalau di Gresik ada Lingkaran yang bernama Damar Kedhaton saja, itu sudah sangat membahagiakan.
Selanjutnya adalah ketika kami ngancani Kang Thobib sowan ke Kadipiro serta Mocopat Syafaat. Selama tiga hari di sana, “Berkah” Kang Thobib begitu kuat terasa. Kami yang sebelumnya belum pernah bertemu secara jasad dengan Mas Zakki, akhirnya bisa salim dengan beliau, ditemani Mas Helmi, dan Mas Jamal Jufri, melingkar sebentar. Kami hanya menyimak obrolan temu kangen antara Kang Thobib, Mas Zakki, Mas Helmi, dan Mas Jamal Jufri. Setelahnya, beliau bertiga pamit, karena memang sibuk untuk persiapan maiyahan rutinan Mocopat Syafaat pada malam harinya.

Kami juga bergegas untuk mempersiapkan diri ikut Maiyahan di Mocopat Syafaat. Ndilalaah Kang Thobib dapat kabar dari Pak Fuad Ketua PCNU Saudi yang juga sedang mudik, dan ingin ikut Maiyahan. “Pak Fuad iki rek, 35 tahun di Jeddah, beliau sangat akrab dengan Cak Nun”, terang Kang Thobib. Selang beberapa menit, Cak Anang datang dengan membawa taksi. Kami bergegas menghampiri untuk salam kemudian salim sungkem. Melihat kami yang canggung untup-untup untuk masuk mobil, Cak Anang dengan ramah mempersilahkan masuk, “Ayo rek, bareng wae sik cukup iki tempat duduk’e“. Kami pun bergegas dan berangkat menuju TKIT Alhamdulillah, Taksi diarahkan Cak Anang untuk lewat belakang, karena kalau lewat depan pasti ramai dan tidak memungkinkan. Saat sampai di lokasi, baru tersadari, ternyata mobil di belakang kami adalah mobil yang mengantarkan Simbah. Tanpa berpikir panjang kami pun langsung salam dan salim sungkem kepada beliau. Kemudian beliau berjalan menuju ndalem, kami nggak berani ikut, berhenti di luar, disebelah pas para personil Kiai Kanjeng yang lagi ngopi di warung. Kami pun berinisiatif untuk menghubungi dulur pegiat MS. Alhamdulillah kami bisa melingkar bersama dulur-dulur MS, ngobrol santai hanya sekedar perkenalan. Selesai acara, kami menghampiri Kang Thobib yang berada di ndalem, kejutan datang lagi ketika Kang Thobib bilang “Ayo rek, bareng karo mobile Kiai Muzammil”,
“Malam ini aku adalah salah satu Kremi babi yang sangat beruntung” ucapku.
Esok paginya, saat terbangun terlihat Kang Thobib sudah ngobrol dengan dulur dari Progress, Mas Arul namanya. Beliau dapat amanah untuk mengajak Kang Thobib sowan ke pendopo salah satu pengageng Keraton. Memang sebelumnya Kang Thobib sudah membuat janji sowan kalau mudik ke Tanah Air. Kami juga diajak untuk ngancani Kang Thobib. Sampai di lokasi pun kami cuma bisa menyimak perbincangan akrab Kang Thobib dengan Kanjeng Ndoro dan beliau juga bertanya “sampun nate tindak Jogja, mas? sesok ojo mulih sik ya, kaliyan Mas Thobib tak ajak kesah Keraton, ndik kono wonten museum tentang Jogja”. Kami cuma bisa jawab “Nggih ndoro”. Setelah pamit kami diajak Mas Arul keliling Jogja sebentar, jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kami datangi di Jogja. Narsis pun tak terelakkan. “Kalau nggak ditemani Mas Arul, mana tau kami tempat-tempat seperti ini, suwun loh Mas”, ucapku kepada Mas Arul. Malam harinya kami berencana untuk jalan-jalan ke Malioboro, tapi ternyata hujan turun, yaweslah, mungkin kami disuruh untuk nyantai disini. Lah ndilalaah, kami didatangi Kang Ma’ruf Azzuhruf Pegiat Mocopat Syafaat, “kangen Kang Thobib” katanya. Beliau berdua ngobrol akrab, dan lagi-lagi kita cuma bisa nyimak. Padahal pada rutinan MS kemarin kami sempat bertemu, tapi urung kenal. (dasar Kremi babi aku iki).

Esok harinya kami semangat, bersiap-bersiap karena Kang Thobib sudah janji mau memenuhi ajakan Kanjeng Ndoro. Selang beberapa menit Mas Arul pun datang, beliau juga ikut ngancani kami, kemudian datanglah Kanjeng Ndoro. Kami bergegas menghampiri mengucap salam dan salim sungkem, “sik ya ngenteni sak ududan“, sahut Kanjeng Ndoro. Kami pun nyantai sejenak, kemudian berangkat. Sampai di Keraton, rasa canggung, minder, tidak percaya diri pun terasa, “sik ta iki aku mimpi apa piye? lancang gak ya aku iki?”. Kami berkeliling area Keraton, melihat-lihat museum benda-benda peninggalan para Sultan, juga menikmati pertunjukan Tari Golek yang sudah langka. Setelahnya, kami nyantai di area Keraton dan menyimak cerita tentang Keraton oleh Kanjeng Ndoro. Kemudian kami pun bersiap untuk kembali ke Kadipiro karena Kanjeng Ndoro juga ada keperluan hari itu. Sampai di lokasi, ternyata sudah ada Mas Zakki, Mas Helmi, Mas Jamal di ruang tamu. Rasa canggung, minder, tidak percaya diri pun menyerang kami lagi. Setelah turun dari mobil, kami menghampiri beliau bertiga mengucap salam dan salim sungkem. Kami pun meninggalkan Kanjeng Ndoro, Kang Thobib, dan Mas Arul yang bergabung di ruang tamu, sedangkan kami menuju gelaran tikar, “Kremi Babi ya ndik kene wae, Dib”, ucapku. Selang beberapa waktu kemudian, Kanjeng ndoro pamit pulang, kami bergegas salim dan mengucap syukur, serta berterimakasih. Kami pun bersiap-siap untuk pulang. Setelah selesai menyiapkan semua barang-barang bawaan, kami naik ke atas, pamit kepada awak Progress, Mas Helmi, Mas Jamal Jufri dan yang lainnya. Kebetulan Mas Zakki pulang duluan karena ada keperluan. Kami diantar Mas Arul sampai di pinggir jalan dan beliau menunjukkan arah jalan serta angkutan yang benar menuju Surabaya.
Cerita perjalanan indah seperti ini, tentu karena adanya faktor serta “Berkah” dari Allah melalui Kang Thobib, tanpa pertemuan indah dengan beliau mungkin hidup kami hanya datar-datar saja
Kang Thobib berpesan Wis pokoke kudu Istiqomah ya rek, jogoen sing bener DK, ojo sampe masuk angin, ojo sampe ngerepoti MbahNun, kita iki kurang apa wis dikasih ilmu sakmunu akehe, tetep sesuai jalur ya, dan tetap difrekuensi sing bener, ojo kemajon, mengko dadi merongos
Kadipiro, 19 Januari 2017
Syaiful Gogon
Penggiat Damar Kedhaton. Aktif dalam berbagai kegiatan Maiyah.