
Akhir-akhir ini, aku dibuat cukup dilematis oleh ratusan ucapan yang entah dari mana ujungnya. Terkadang aku menggigil karena takut, terkadang aku merasa terbakar karena benci.
Tentang keseharian yang aku anggap misteri; urusan cinta, urusan perut sampai urusan bangsa, aku ikuti. Tak pernah ada jawaban pasti yang membuka mata. Malah, menguras habis air mataku. Setiap aku mencoba melangkah keluar dari kamar dan membuka pintu rumah, aku merasakan ribuan bahkan jutaan pertanyaan menanti dan memanggil-manggil, seperti retorika kehidupan yang menawarkan jasa kepalsuan yang siap membekam pikiranku.
Rotasi hari-hari yang aku lalui sangat datar. Embun polos di pagi hari membangkitkan kesejukan insani, tapi tak abadi. Aku coba hidup di siang hari, di mana pada matahari kusingsingkan lengan, tapi itu bukan hakiki. Pada rembulan yang aku geluti, yang menjadi genosida penghancur perkara hati pun terlalu cepat berlalu. Pagi, Siang, dan Malam tidak pernah menjadi revolusi.
Hari ini, aku bicara tentang sebuah dendam yang seperti rayap menghancurleburkan pohon berusia 71 tahun. Di mana salah satu ranting dan daunnya adalah aku. Kasih sayang, perhatian, dan keadilan tidak lagi sehangat api unggun. Sebagian nama yang aku kenal, seperti berlomba-lomba memenangkan sebuah permainan yang tidak mempunyai garis akhir, maupun keranjang. Saling membusungkan dada tanpa menoleh ke belakang. Entah apa yang mereka cari, aku betul-betul tidak mengerti.
Semua ini, bukan tanpa akar, tapi mengapa dibiarkan? Apakah manusia tidak perduli lagi akan manusia yang lain? Kepada alam kita menumpahkan segala benih-benih kebusukan. Kepada sahabat, teman dan bahkan kekasih, pengkhianatan kita seperti lukisan yang penuh cat-cat warna-warni penuh kebohongan. Apakah kebencian dan keserakahan telah menjadi dogma di dalam jantungmu, di dalam jantungku, dan di dalam jantung hari-hari? Apakah setiap perkataan adalah nisbi atau palsu, dan dianggap dongeng? Apakah benar, kebenaran hanya ada di langit? Lalu, untuk apa kita bicara ini dan itu, sementara kita tidak pernah menemukan sebuah jawaban?
Jari kita mengepal kencang seperti karang di laut yang geram oleh tamparan tentara-tentara kehidupan. Keringat kita percuma mengucur deras, sementara ludah-ludah masih tetap menindas setiap pori dan guratan yang dianggap provokatif. Aku masih ingat perkataan salah satu mantan demonstran, “Sepertinya, kita merayakan demokrasi. Tapi, mengapa keangkuhan memotong lidah-lidah yang berani bicara tentang kebenaran?” Apakah satu kalimat dari nurani kita tidak lagi lebih puitis daripada sampah-sampah akan jutaan janji-janji? Mengapa hati kita tidak saling mengerti dan memahami tentang dunia kita yang sama, langit dan bumi. Bendera dan lagu kebangsaan kita yang sama, Indonesia Raya. Tidakkah kita rasakan saat telanjangnya mata kita meyaksikan keajaiban sebuah pelangi? Tidak kurang dari tujuh warna yang berbeda saling mengisi dan membentuk satu lintasan yang sangat indah. Lalu kenapa kita tidak juga bersatu? Bukankah kita menyapu taman indah di halaman rumah kita menggunakan ratusan lidi, bukan satu lidi.
Tapi, aku mulai paham sekarang. Mungkin di jaman yang tidak lugu lagi seperti ini, sejarah dan sastra menjadi barang rongsokan yang pantas dibuang di tempat sampah, atau menjadi koleksi di pasar loak. Jutaan nasehat, do’a, serta perkataan manis yang mengandung kebaikan, tidak lagi disinari oleh sebuah siratan hangat mentari di tanah perjanjian ini. Walaupun dulu, tanah yang sudah menjadi darah hanya ingin mempunyai sebuah nama dan secarik bendera merah dan putih. Mereka sudah lupakan ini. Ya, mereka benar-benar sudah melupakannya.
Sekarang, hanya tertinggal sebuah adat baru, kebiasaan baru, yang sepertinya juga menjadi tuhan baru bangsa ini; yaitu, Hedoisme dan Materialisme. Keduanya menjadi “trend-setter” di tengah-tengah masyarakat yang sepertinya pragmatis dan kritis, tapi mudah terombang-ambing arus modernisasi. Mungkin hanya kaum-kaum proletar ke bawah yang aku anggap hidup dan perkasa. Meskipun setiap harinya, mereka mengais dan menjilati peluh sendiri. Tapi, merekalah manusia sejati, yang diciptakan Tuhan untuk saling mengasihi.
Janganlah kita merasa sudah berjasa atas segitiga warna, selagi kita masih dapat melihat dan mendengar setiap jerit tangis penerus bangsa di kolong jembatan dan di hamparan sisi-sisi sungai. Mereka aset berharga kita. Ayo Nusantaraku, bangitlah! Kita bukanlah seperti burung perkutut yang mudah dijadikan pesuruh! Dan, alangkah indahnya, jika kita saling ASAH, ASIH, DAN ASUH untuk sesama.
Rifqi Febrian Apriliansyah
Penggiat Damar Kedhaton. Aktif dalam berbagai kegiatan Maiyah.