
Allahu Nurus Samawati Walardi. Awalan Surah An-nur ayat 35 tersebut menggerakkan saya untuk menadabburi dan menjodohkannya dengan tokoh pahlawan super favorit putra saya yang berasal dari Negeri Matahari Terbit (Jepang), yaitu Ultraman.
Ultraman berarti manusia ultra. Makna ultra sendiri adalah sangat/lebih. Ultraman memiliki tubuh raksasa dan kekuatan utama berupa kemampuan mengeluarkan nur/cahaya untuk mengalahkan musuh-musuhnya yang juga berukuran raksasa. Kisah awal manusia ultra dari Nebula ini sangat menggugah saya. Ultraman bermaksud mengejar musuh yang lari menuju planet Bumi. Namun, sebelum sampai ke Bumi, Ultraman bertabrakan dengan pesawat pasukan pelindung Bumi Space Garrison dan mencederai seorang kru bernama Hayata. Demi menyelamatkan nyawa Hayata, Ultraman harus merasuk ke dalam tubuh pemuda tersebut. Oleh karena itulah, setiap kali Ultraman dibutuhkan untuk melawan monster raksasa, Hayata harus merelakan tubuhnya menjelma menjadi raksasa cahaya, Sang Ultraman.
Nur/cahaya, sebagaimana pengaruhnya dalam dunia Islam, juga kuat mewarnai proses pencarian tuhan yang dilakukan oleh masyarakat kuno Jepang. Matahari, yang merupakan bentuk paling familiar dan mengagumkan dari unsur cahaya, begitu dipuja karena kehebatannya memancarkan sinar sebagai sumber kehidupan. Tak kurang, lahirlah agama Shinto beserta ritual Seikerei (membungkuk) saat matahari terbit demi menghormati Sang Dewi Matahari. Latar belakang ini mendorong menetasnya tadabbur awal. Saya menyimpulkan, kepercayaan spiritual mengenai nur/cahaya inilah yang membuat Eiji Tsuburaya menciptakan Ultraman.
Tadabbur selanjutnya saya peroleh dari kisah permulaan Ultraman datang ke Bumi. Kisah tersebut mengingatkan saya pada kisah Nabi Muhammad SAW. Saya mengaitkan kata Nebula, yang dalam bahasa Arab نبيل berarti “kaum bangsawan”, dengan riwayat Nabi yang lahir dari kalangan kaum bangsawan. Sementara itu, merujuk pada peristiwa pembelahan dada Nabi oleh malaikat atas perintah Allah SWT saat menggembala, berdasarkan tadabbur pribadi, adalah peristiwa yang juga menginspirasi Eiji Tsuburaya menciptakan Ultraman.
Masih berkaitan dengan tadabbur sebelumnya, nama pasukan pelindung bumi Space Garrison saya bedah menjadi space berarti “luar angkasa raya”, dan garrison dari bahasa Arab كرس yang berarti “mencurahkan/mempersembahkan”. Dalam peristiwa yang sama, Nabi Muhammad rela dibelah dadanya untuk dibersihkan hatinya oleh malaikat. Seperti yang diketahui, malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari cahaya dan mencurahkan segalanya kepada Sang Maha Cahaya yaitu Allah SWT.
Lebih jauh lagi, Eiji Tsuburaya menggunakan nama Hayata yang jelas-jelas mirip dengan kata حياة (hayati) di mana termasuk dalam 20 sifat wajib Allah SWT yang memilki makna HIDUP. Senada dengan kisah Hayata yang cahaya ultraman hidup di dalam raga hayata, juga pada peristiwa pembelahan dada Nabi, nur/cahaya juga merasuk ke dalam dada Nabi Muhammad SAW.
Demikianlah. Sang Tokusatsu (pahlawan super) lahir dari sosok manusia biasa yang memiliki kesadaran akan nur/cahaya, sehingga dapat berubah menjadi raksasa cahaya, dan mengalahkan musuh-musuh berbentuk monster/kaiju raksasa pula. Saya jadi teringat perkataan Simbah, di mana untuk mengatasi sebuah permasalahan, sebesar apapun masalah itu, kita harus lebih besar atau sepadan dengan masalah itu. Kita harus sombong/nggedeni masalah itu.
Juga, sebenarnya kegelapan itu tidak ada; yang ada adalah karena belum dimasuki cahaya. Seperti cara Ultraman menghadapi musuh yang mencoba menghancurkan Bumi; sebaliknya, semangat Ultraman bukan menghancurkan musuh, akan tetapi menerangi musuhnya. Supaya kegelapan dalam diri monster tersebut bisa sirna dan kembali kepada dirinya yang sejati, yaitu cahaya.
Kisah Ultraman membawakan saya tiga poin tadabbur. Pertama, kemunculan Ultraman berasal dari diri siapapun yang memiliki kesadaran nur. Nur yang menerangi segala sesuatu adalah Nur ciptaan pertama Allah SWT, yakni Nur Muhammad, yang menurut saya menjadi dasar cerita oleh seorang Eiji Tsuburaya. Kedua, dalam menanggapi sebuah masalah, kita harus lebih besar (nggedeni) atau sepadan dengan masalah tersebut. Ketiga, kegelapan sebenarnya hanya sesuatu yang kafir cahaya, dan harus disinari lagi oleh cahaya, serta harus dipantulkan ke segala arah, agar cahaya dapat berpendar dan bermanfaat bagi segala sesuatu.
Zulfan Efendy
Penggiat Damar Kedhaton. Aktif dalam berbagai kegiatan Maiyah.