Aku Beruntung Kenal Maiyah

Foto: Ig @gamelankiaikanjeng

Hari itu, aku sedang asyik nongkrong di warung kopi depan kampus, ketika serombongan teman dari kampus lain mendatangiku. Usai ngopi bersama, salah satu dari mereka menawari untuk ngopi lagi di TVRI Surabaya. Tanpa berpikir panjang, akupun langsung mengiyakan. Bareng-bareng kami memacu sepeda motor menuju lokasi.

Begitu sampai di halaman TVRI, aku digelitik rasa penasaran. Akupun nyeletuk bertanya, “Jare ngopi? Endi warung kopine, Cuk?“. Salah seorang teman menyahut, “Wis ta lah, lungguha dhisik. Engko ta’tukokna kopi“. Waktu itu, di depanku ada banyak sekali orang berkumpul menghadap ke panggung. Aku menduga, barangkali ini sejenis acara konser musik, atau festival budaya. Kan ya lazim, TVRI menggelar acara seperti itu. Tapi, jujur kuakui, pelan-pelan batinku ragu. Atmosfernya kok tidak biasa.

Di tengah acara yang berformat mirip diskusi tersebut, aku dikagetkan oleh penyebutan sebuah nama; Ainun Nadjib. Batinku sontak berujar, “Kaya’ jeneng’e adikku.” Selain lelaki yang – menurut perkiraanku seusia bapakku – bernama Emha Ainun Nadjib itu, acara dihadiri pula oleh tamu-tamu dari luar Pulau Jawa. Mereka berasal dari Sulawesi. Secara etnik, mereka adalah suku Mandar. Rupanya, mereka adalah teman-teman Emha Ainun Nadjib, yang kemudian disebut-sebut sebagai Cak Nun.

“Waktu itu, Cak Nun mengadakan diskusi di Mandar atas dorongan Ali Syahbana, salah seorang tokoh Mandar. Pada pertengahan diskusi, dua orang pemuda angkat bicara untuk pamit pulang. Cak Nun mencegah, sebab, perbincangan sedang hangat-hangatnya berlangsung. Dua pemuda itu tak mengindahkan ucapan Cak Nun. Mereka tetap bersikeras meninggalkan lokasi acara,” orang-orang Mandar itu bercerita. Sementara aku, dan ratusan orang di sekitarku, menyimak sungguh-sungguh.

Mereka melanjutkan kisahnya. “Selang beberapa jam kemudian, kedua pemuda tadi dikabarkan mendapat kecelakaan. Cak Nun, beserta orang-orang yang hadir, segera mengakhiri diskusi untuk menjenguk dua pemuda itu. Setibanya di rumah sakit, salah seorang dari rombongan penjenguk menyeletuk kepada dua pemuda yang sedang terbaring luka di atas tempat tidur itu; makanya, kalau Cak Nun bilang jangan pergi, ya jangan pergi. Sontak, suasana duka berubah tawa gara-gara kalimat itu.”

Kisah Cak Nun di Tanah Mandar menjadi awal mula daya tarik bagiku. Setelah Cak Nun sendiri hadir di atas panggung, daya tarik tersebut menjadi daya magnetis yang semakin kuat. Aku amat terkesan dan terdorong untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Cak Nun. Buku-buku karyanya satu persatu kubaca. Aku juga mulai rajin mengikuti event Sinau Bareng CNKK. Kekagumaku kian bertambah, ketika mengetahui bahwa orang sehebat beliau memiliki kerendahan hati yang dalam dan gaya hidup yang sederhana. Di kemudian hari, barulah aku tahu, bahwa nama adikku ‘Ainun Najib’ memang sengaja disiapkan oleh Ibu. Tahu kenapa? Rupanya, Ibuku adalah fans berat Cak Nun dan sholawat-sholawatnya! Ya ampun, ke mana saja aku selama ini? Aku pun mulai paham, mengapa selama ini, Ibu tak pernah tampak khawatir ataupun melarang, jika aku berpamitan untuk maiyah-an.

Pada malam yang sama di TVRI tadi, kekonyolan ironis akibat ketidaktahuanku terulang lagi. Ini terjadi saat lagu milik band Letto dimainkan di panggung. Aku terkesan, sebab suara vokalis yang membawakan lagu itu amat mirip dengan versi aslinya. Sampai-sampai, aku berkata kepada kawan di sebelah, “Suarane persis asline, yo?“. Ia hanya tersenyum tanpa kata. Tampaknya ia lebih asyik meresapi lagu itu. Saat itu aku betul-betul tidak tahu bahwa vokalis yang di panggung membawakan lagu Letto itu, adalah Noe, sang vokalis Letto sendiri. Batinku makin kaget, ketika menyadari bahwa Noe, ternyata adalah putra sulung Cak Nun.

Jika ingat dua momen kejadian itu, perutku jadi geli sendiri. Tetapi, di balik kekonyolan itu, ada pelajaran yang bisa aku ambil. Terkadang, apa yang kita cari-cari sebenarnya sudah disediakan Allah di dekat kita. Hanya saja, untuk menemukannya, ada proses yang harus dilalui terlebih dulu. Prosesnya barangkali melelahkan, menyedihkan, penuh liku dan suasana heroik, atau, boleh jadi menggelikan.

Oh iya, tentang proses mencari. Ada juga sisi pandang lain. Noe pernah menulis lirik apik begini :

Menemukan, tak selalu dimulai dari mencari..

 

Ibnu Adib Wibowo

Penggiat Damar Kedhaton. Aktif dalam berbagai kegiatan Maiyah.