
Kawan, kau pasti menganggap bahwa kisah yang aku ceritakan kepadamu ini adalah sebuah utopia Ashabul Kahfi. Sepenggal kisah hidup sekelompok pemuda yang mencari perlindungan ke sebuah gua, demi menyelamatkan iman mereka dari cemaran atmosfer negeri mereka sendiri. Pemuda-pemuda dalam ceritaku nyata, senyata para Ashabul Kahfi. Mereka juga sedang berjuang menyelamatkan kesadaran iman dan kesadaran kemanusiaan mereka dari udara yang semakin dipekati oleh tipu daya terencana yang mencelakakan, kepalsuan picik yang mengabuti kesejatian, kebencian yang mengunyah habis rasa cinta, dan keserakahan membabi-buta yang memangkas habis harapan hingga ke tunas-tunasnya. Pemuda-pemuda itu ‘lari’, berusaha mempertahankan kewarasan di tengah kegilaan dunia, mencari perlindungan bagi hati dan akal mereka ke dalam gua bernama Maiyah.
Kawan, mungkin kau tak akan bisa mengenali sosok mereka di keramaian. Mereka tak bergamis atau bersorban, apalagi berjas rapi dan berdasi. Mereka juga tak bersarung, kecuali saat-saat diperlukan. Penampilan mereka tak istimewa seperti alim ulama, tak jauh berbeda dari tetanggamu dan saudara-saudaramu sendiri. Tetapi, cobalah kau cecap secangkir-dua cangkir kopi bersama mereka. Kau akan mendapatkan hangatnya penerimaan, luasnya ketulusan, dan luwesnya kerendahhatian yang sudah langka di luar sana. Mereka tidak peduli siapa bapakmu, apa mahdzab serta sukumu, berapa banyak gajimu, dan seberapa maut level ketampananmu. Kau akan menemukan kedalaman yang tak pernah kau sangka-sangka. Mata mereka terbuka ketika matamu tertutup, dan kesadaran mereka bangun ketika jiwamu tengah terlelap. Mereka tak henti-hentinya bergerak, melingkar, bagaikan benda-benda langit yang senantiasa mengitari pusat tata surya. Bagi mereka, Allah-lah pusat tata surya itu, dan Rasulullah yang memimpin putaran-putarannya. Begitulah cara mereka ‘tidur’ dalam gua Maiyah.
Sungguh, Kawan. Bersama mereka, kau bisa mengobrolkan apa saja. Mulai dari urusan materi hingga spiritual, dari status jomblo hingga status negara yang sedang goro-goro, dari sejarah masa silam hingga prediksi masa depan, mulai pola pikir linier, berkelok, hingga yang berlipat-lipat. Kau akan keheranan melihat semangat mereka yang tinggi untuk terus belajar dari siapa dan apa saja. Seolah tanpa lelah, mereka sowan kepada para sesepuh yang menjadi sumur-sumur ilmu dan mendatangi majelis-majelis ilmu yang berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Bukan untuk mengumpulkan argumen-argumen demi membela benere dhewe, atau mengoleksi timbunan falsafah supaya bisa ndakik-ndakik di depan khalayak. Mereka tahu di sebalik ilmu terdapat berkah sang guru dan berkah ilmu itu sendiri bagi keberkahan hidup mereka. Mereka tahu, bahwa ilmu akan menjadi sampah jika tanpa laku.
Ah, dasar Kaum Utopis! Aku dengar dengusan cemoohmu itu, Kawan. Tak apa. Aku tak akan marah, sebab aku tahu mereka juga tak akan marah. Jangan kaget, bila setelah mencemooh, kau malah akan didatangi dengan senyum dan rangkulan persaudaraan. Sebab, di dalam gua, mereka telah diajari untuk memangku dan mencintai dunia seisinya tanpa pengecualian. Itulah yang sedang mereka perjuangkan. Padahal sesungguhnya, kondisi hidup mereka juga tak berbeda dari kamu dan aku. Coba, dengarkan petikan lembut dawai kalbu mereka:
Kami hanyalah Kremi-Kremi Babi yang melingkar bersama untuk saling menguatkan dalam pergulatan melawan musuh-musuh terbesar kami, yaitu kebodohan dan kelemahan kami sendiri. Kami hanyalah Kremi-Kremi Babi yang melingkar bersama untuk ‘nandur’, meski sekedar se-zarrah cinta, meski tangan kami bergetar lemah, dan meski esok tiada hari lagi. Kami hanyalah Kremi-Kremi Babi yang melingkar bersama, karena ingin mencari kesejatian hidup dengan menyalakan kembali damar-damar leluhur, mempelajari isi kedhaton nenek moyang, sebagai bekal menempuh lorong masa depan. Kami hanyalah Kremi-Kremi Babi yang melingkar bersama, berupaya belajar menjadi manusia, supaya pantas ber-Segitiga Cinta dengan Allah dan Rasulullah, sehingga tak tersesat dalam perjalanan ‘mudik’ ke Kampung Akhirat. Ini bukan sebuah utopia, melainkan cita-cita sejati semua umat manusia.
Eryani Widyastuti
Jannatul Maiyah Bangbang Wetan dan Damar Kedhaton.