Prolog Telulikuran DK Edisi #6 – April 2017 “Gresik Kota KawaSAN IndusTRI ?”

Gresik Kota Santri, terminologi yang cukup kental melekat pada daerah di sebelah barat laut Surabaya ini. Dengan luas wilayah 1.191,25 km2, Gresik terbagi dalam 18 Kecamatan, terdiri dari 330 Desa dan 26 Kelurahan.
Digunakannya istilah Kota Santri karena di Gresik terkenal dengan masyarakat yang religius. Ekspresi budaya yang lahir dan menghiasi perjalanan masyarakat kota ini, dapat dirunut titik berangkatnya adalah dari tradisi kaum santri. Di Gresik juga didapati banyak pondok pesantren, baik tingkat lokal sampai yang terkenal sampai ke luar daerah.

Kebudayaan dan karakter seperti itu tidak lepas dari peran para Wali yang sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Gresik. Ada banyak situs atau makam wali yang menjadi penanda. Makam Syech Maulana Malik Ibrahim di Desa Gapuro Sukolilo, Gresik Kota, dan makam Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran Kecamatan Manyar, adalah dua penanda bahwa Gresik menjadi salah satu titik persebaran islam paling awal di pulau Jawa. Satu lagi yang sangat fenomenal adalah Sunan Giri yang dikenal juga dengan gelar Sultan Ainul Yaqin. Di samping kedudukannya sebagai seorang sunan atau wali, beliau juga dianggap sebagai Sultan/Prabu (Penguasa Pemerintahan) yang menjalankan pemerintahan di kerajaan Giri Kedhaton. Tahun di mana beliau dinobatkan sebagai Raja bergelar Prabu Satmata pada tahun 1487 M, dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik.

Sejak sebelum abad ke-11 M, Gresik juga sudah dikenal secara luas sebagai kota Bandar (Pelabuhan). Posisinya yang strategis secara geografis, menjadikan Gresik (hingga kini) sebagai magnet pemikat bagi pedagang dan pelaku industri untuk masuk dan membuka usaha di daerah ini. Seiring berjalannya waktu industri di Gresik semakin berkembang pesat. Sampai saat ini ada lebih dari 1.000 perusahaan di Gresik, mulai dari kelas menengah sampai perusahaan tingkat internasional. Hal ini juga yang menjadi daya tarik para pendatang dari luar daerah menuju ke Gresik untuk mengadu peruntungannya. Situasi dan kondisi seperti ini berdampak pada struktur sosiologis masyarakat, gaya hidup, serta aspek lingkungan. Gresik yang dulu dikenal mempunyai banyak pengerajin, nelayan, petani tambak dan sawah, kini mata pencaharian masyarakat mulai bergeser menjadi pekerja/buruh di pabrik – pabrik. Banyak lahan yang dulunya adalah sawah dan tambak, sekarang beralih fungsi menjadi pabrik, pergudangan dan perumahan.

Arus urbanisasipun semakin bertambah seiring dengan semakin tumbuhnya kawasan perumahan yang ada hampir di setiap kecamatan. Jalanan Gresik yang dulu lengang sekarang menjadi cukup padat sebagai tanda berubahnya pola transportasi masyarakat Gresik. Kemudian banyak juga waduk-waduk yang semula berfungsi sebagai penampung air sekarang semakin berkurang karena beralih fungsi. Maka udaranya pun mulai bercampur polusi sebagai ongkos dari pesatnya pembangunan industri. Tak pelak, identitas khas Gresik pun tergerus.

Ada perubahan orientasi pembangunan yang kemudian merubah pola budaya masyarakat Gresik. Dari masyarakat agraris menjadi industrialis.
Atas nama modernitas maka seolah – olah budaya peninggalan leluhur adalah hal yang kuno atau ketinggalan jaman.

Menyikapi hal seperti ini, apa yang bisa kita lakukan?
Kita telah mencoba menyusun bekal melalui tiga episode tema : Nandur Katresnan, Ngandel Marang Katresnan, dan Wujud Katresnan. Kita juga telah dan terus akan berlatih menapakkan langkah dengan perspektif sejarah : masa lampau – masa kini – masa depan.
Bab sejarah ini memang entitas yang krusial untuk ditekuni. Minimal sejarah tentang diri kita sendiri. Dari mana kita berasal? Keturunan dari siapa kita ini? Cak Nun pernah ngendikan, “Kita harus mencoba mencari tahu leluhur kita, kalau bisa sampai ketujuh, atau minimal tiga sampai dengan penerus kita. Agar kita tetap tersambung dengan nenek moyang kita, dari situ kita akan punya bekal untuk hidup kita.”

Tetap dengan nuansa Katresnan kita kepada kota Gresik, mari hadir dan berbareng memperluas cakrawala mempertajam daya bidik, di Majelis Ilmu Jannatul Maiyah Damar Kedhaton, Telulikuran edisi ke-enam, yang Insya Allah akan diselenggarakan di:

Perpustakaan Daerah Gresik
Jalan Jaksa Agung Suprapto No.20 Gresik
Pada hari Rabu, 19 April 2017
Mulai pukul : 19.30 WIB sampai selesai.