Prolog Telulikuran DK Edisi #11 – September 2017 “Madhangisingturu”

Dulur, sudah menjadi wilayah Sampeyan untuk – secara merdeka – merangkai asosiasi terhadap frasa di atas, “madhangisingturu”. Sampeyan berhak memilih untuk memenggalnya menjadi 3 kata, misalnya: madhang, ngising, turu. Jelas, ia menggambarkan tiga aktivitas yang lazim kita lakukan di keseharian, sebagai bagian dari kewajaran metabolisme tubuh. Saking rutinnya, seperti halnya setiap waktu kita bernapas, boleh jadi “madhang”, “ngising”, dan “turu” yang kita alami, berlangsung begitu saja. Tanpa kesadaran. Tanpa manajemen. Atau, Sampeyan termasuk kaum yang ngugemi tata caranya sebagaimana Kanjeng Rasul meneladankan ?

Benak Sampeyan juga boleh saja membangun nalar lebih jauh lagi. Misalnya, mereka-reka adegan seorang bapak menasehati anaknya yang malas, klemprak-klemprek, tak bervisi, dengan ngendikan: “Masak uripmu ate pancet nguna-ngunu ae, Le? Madhang-ngising-turu, madhang-ngising-turu…wedhus ya isa, Le!“. Ya, adegan yang barangkali menyeret kita pada ruang kesadaran reflektif untuk mempertanyakan kembali peran dan kadar kemanfaatan kita, mulai dari skala diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat sekitar.

Atau, Sampeyan memilih untuk memenggal frasa itu menjadi begini : “madhangi sing turu“? Boleh-boleh saja, Lurs. Ada pihak yang sedang “madhangi“, ada pihak yang sedang “turu“. Secara denotatif, menyalakan lampu kamar memang berpeluang membantu kawan yang sedang lelap tertidur untuk lekas terbangun. Secara konotatif, Sampeyan berwenang untuk membangun asosiasi secara mandiri. Kawan kita itu sedang tertidur mripat batinnya? Tertidur keajegan nalar logikanya? Terlelap kepekaan rasa-batinnya? Terlena kemurnian tauhidnya? Terserimpung gerak aksinya?

Atau sebaliknya, justru kita lah yang sedang “turu“?

Dialektika peran siapa yang madhangi dan siapa yang sedang turu, menyediakan ruang pencarian tiada ujung. Sekarang Sampeyan yang sedang “madhangi“, nanti sore Sampeyan yang butuh “dipadhangi“. Lantas, sikap mental seperti apa yang kita perlu siapkan demi membekali diri menyusuri lorong pencarian ini?

Atau, frasa “madhangi sing turu” membawa Sampeyan teringat pada album Menyorong Rembulan yang dirilis Kiai Kanjeng pada tahun 1999? Ya, dialektika peran antara matahari, bumi, dan rembulan ketika gerhana, memberikan referensi bagi kita untuk terus menggali dan mencari.

Dulur, Majelis Ilmu Telulikuran kini menapaki putaran ke-11. Bersama-sama akan kita gelar perjamuan ide demi melakukan elaborasi, pendalaman, penguraian serta pencarian nilai-nilai Maiyah melalui tema “Madhangisingturu“. Mari kembali berhimpun, melingkar, tetap dalam naungan payung wa ilaa rabbika farghob serta wa laa tansa nashiibaka minad-dunyaa, pada :

Rabu, 13 September 2017
Pukul 19:23
CindeLaras Cafe ‘n Gallery
Ds. Siwalan, Kec. Panceng, Gresik.