
“Muhammad sebagai manusia, dengan segala rincian perilaku kemanusiaanya. Muhammad manusia, yang sebisa mungkin kita temukan presisi penguraiannya dengan Muhammad Nabi dan Muhammad Rasul. Bukan sekadar Muhammad dalam peta sejarah, Muhammad dalam peristiwa-peristiwa dakwah, politik, kebudayaan dan akhlak. Tapi yang lebih bernuansa dan berkarakter dari itu, yakni kepribadian Muhammad. Kisah-kisah tentang energi hidupnya, keluasan jiwanya, kelembutan hatinya, ketekunan perjuangannya”
– Mbah Nun, epilog buku “Sejarah Otentik Nabi Muhammad SAW” –
Kiranya telah menjadi garis tinakdir, setitik Nur Muhammad mengawali penciptaan jagad semesta raya seluruhnya. Bahkan, para nabi pendahulu pun mengakui kehadirannya, dalam perjanjian dengan Allah. “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, ‘Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) yang membenarkan kamu, niscaya kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.'” (QS Ali ‘Imran [3]: 81)
Kanjeng Muhammad SAW adalah suri tauladan bagi seluruh umat manusia. Tidak hanya bagi kaum muslim saja melainkan mencakup seluruh umat manusia. Tidak sedikit pula para cendekiawan beserta penyair yang mengabadikan kehidupannya melalui kerja-kerja aktif dan kreatif, baik melalui karya ilmiah ataupun karya sastra. Sebagai penutup para Nabi sekaligus penyempurna ajaran Allah, perjuangan yang dilaluinya mencerminkan nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang dengan teguh.
Dan kita tidak ingin berhenti hanya dengan menggunakan perspektif emosional belaka ketika melihat perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Perspektif yang menawarkan sebatas pandangan bahwa Allah berpihak dan menjaga Rasul-Nya dari segala macam ancaman, tantangan dan penderitaan, sehingga selamat dari permusuhan dan penyiksaan kaum musyrikin. Perspektif yang beresiko mengecilkan nilai kejuangan yang diupayakan Rasul dalam menghadapi lawan-lawannya.
Kita harus maju selangkah lagi. Dengan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai role model, kita perlu belajar lebih tekun dalam menyelami perjuangannya, setidaknya dengan melakukan penggalian yang lebih dalam untuk mendapatkan mutiara teladan dari aspek syama’il dan sirrah beliau.
Dengan meneguhkan spirit belajar tanpa henti, mari kendurikan pengetahuan tentang suri tauladan dalam diri Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan, dari pengetahuan yang saling kita bagi, dapat menjadi jalan kemudahan untuk kita ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dulur, mari melingkar pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-57, pada :
Jumat, 29 Oktober 2021
Pukul 19.23 WIB
Di Masjid Jami’ NuruL Jannah
Desa Slempit, Kec. Kedamean, Kab. Gresik