
Seketika pikiran menerawang dalam bayang-bayang masa lalu. Kenangan… Ya kenangan …
Begitu indahnya sehingga manis untuk dipikirkan.Tapi kenapa begitu? Apa hal-hal yang manis dan indah senantiasa mudah dikenang? Ataukah kesusahan, hal yang tidak mengenakkan, mudah dilupakan?
Namun kurasa ini hanya godaan semata (untuk pemahaman saat ini). Masa lalu hal yang menjebak jika hal itu selalu membayangi dan seakan-akan masih berada pada dimensi waktu itu.
Bukankah kehidupan untuk maju, bergerak, dinamis, bukan malah statis. Tidak selamanya mengakses masa lalu adalah tindakan yang kurang bermanfaat. Dengan mengetahui, mempelajari, memetakan, bisa membuat strategi, memahami pola, dan mengambil tidakan yang lebih presisi titik koordinatnya.
“Namun hidup tak semudah itu kawan,” seketika aku bergumam.
Ada “faktor X’ yang membuat lebih berwarna, tak sesuai prediksi, di luar ekspetasi, kadang juga absurd. Namun itu yang membuat lebih indah.
Wajar adanya bila kekecewaan, putus asa, apatis, lelah, degradasi keyakinan terjadi. Namun semua itu adalah elemen kehidupan. Hal-hal demikian yang membuat manusia hidup. Dengan semua kelemahan itu akan muncul berbagai masalah yang membuat kehidupan berjalan normal.
Lalu peran “faktor X’ di mana? Seperti apa?
Sepemahaman saya, ia adalah penguji yang tertinggi dan paling tertinggi sekaligus penentu keberlangsungan kehidupan. Terkadang sejalan namun seringkali juga berseberangan. Ia bagaikan misteri yang harus dilalui, dijalani. Bukan diprediksi, diasumsikan, atau bahkan dinarasikan saja.
Namun tidak begitu juga kali. Ada poin kewaspadaan dalam mengambil sebuah keputusan. Dan tentu saja sudah melalui pemetaan dan akumulasi data.
Merujuk pada firman Tuhan yang memerintahkan untuk berfikir dan bertafakur ;
اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْاَنْعَامُ ۗحَتّٰٓى اِذَآ اَخَذَتِ الْاَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَآ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَآ اَتٰىهَآ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَنْ لَّمْ تَغْنَ بِالْاَمْسِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir.” (QS Yunus ayat 24)
Senin 21 Oktober 2024
Nanang Timur
JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik