
“Bagaimana ini?! Ta’tinggal saja! Ndak ada kemungkinan untuk menang,” gerutu Cak No sambil melemparkan tas di serambi rumahnya yang sudah mulai termakan usia.
“Sudah dibelani bangun pagi. Sudah ta’ajari detailnya, masih saja salah dalam pengaplikasiannya. Ini gara-gara kebanyakan main HP, jadi nggak fokus dalam melakukan sesuatu. Besok main HP-nya stop! Nggak usah dikasih lagi. Nilai sekolahnya juga merosot drastis. Diajak bicara juga nggak fokus,” Cak No terus mengomel.
Di tengah emosi kekesalannya terus meluap-luap, tiba tiba HP berdering mengabarkan bahwa jagoannya dapat juara satu. Dengan sumringahnya Cak No langsung menuju sepeda motornya yang di parkir di depan. Namun, tak sampai beberapa langkah HP berdering kembali tanda ada pesan masuk. Mengabarkan bahwa jika peserta tidak berada di tempat maka hangus, akan diganti peserta lain yang mendapat nilai tertinggi. Sontak saja raut muka Cak No berubah total. Lemas lunglai dan limbung. Tubuhnya gontai kembali ke dalam rumah. Penyesalan dan rasa bersalah mencambuk dan menampar muka dan tubuhnya. Diiringi sang jagoan sesenggukan menangis menandakan kekecewaan yang begitu mendalam.
“Seandainya aku sabar sebentar menunggu hasil pengumuman, tidak akan begini kejadiannya. Padahal hadiahnya cukup besar. Dan engkau sudah senang dan bersemangat dalam mengikuti lomba mewarnai. Kenapa aku gegabah?” ungkap Cak No pada jagoannya.
“Maafkan aku ya,” bisiknya dibarengi derai airmata tanda ungkapan penyesalan yang begitu mendalam.
Seketika suasana hening. Waktu seakan berhenti. Jam berhenti berdetak. Kesedihan dan kekecewaan begitu terlihat. Kecewa sekecewa-kecewanya.
Sekitar sepuluh menit berlangsung, Cak No melangkah keluar untuk mencari udara segar. Melepas penat dan beban di hati. Dari kejauhan nampak Cak To berjalan santai lewat depan rumah.
“Sehat, Lik?” sapa Cak To dengan ramah.
Sambil menyeka air mata, Cak No menjawab dengan suara parau, “sehat Lik.”
“Duduk sini sebentar,” pinta Cak No.
“Ada apa? Kulihat matamu sembab. Ada masalah apa gerangan?” Cak To mulai meraba dan mencermati keadaan.
“Jagoanku menang tapi hangus, Cak To. Terlalu cepat mengambil keputusan meninggalkan lomba sebelum lomba usai. Aku berpikir tidak akan menang karena menurut penilaianku sudah di luar harapanku. Apa yang aku ajarkan dan briefing-kan tadi pagi sama sekali tidak dilaksanakan. Tapi aku salah,” sesalnya. Dan kembali tangis Cak No pecah.
“O, begitu ya. Sudah lah. Bagaimanapun itu sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Itu sudah masa lalu, siapa tahu itu adalah kehendak Allah yang kita tidak bisa untuk mengubahnya,” Cak To berusaha menenangkan.
“Itu adalah pembelajaran buat kamu. Keputusan yang diambil ketika marah tidak akan akurat dan tepat. Dan kemarahan sebenarnya tidak akan ada keuntungan sama sekali,” tambah Cak To.
“Iya benar memang,” Cak No mengangguk tanda sepakat.
“Ingatkah kisah Sayyidina Ali? Ketika dalam perang beliau diludahi musuhnya yang sudah terpojok. Beliau mengurungkan untuk membunuhnya. Karena takut dalam membunuh musuhnya diliputi kemarahan sehingga menodai kemurnian hatinya,” Cak To berkisah.
“Semua yang sudah terjadi adalah masa lalu. Jangan engkau terbebani olehnya. Karena hal itu tidak kembali dan berubah. Sekarang waktuny menentukan sikap apa yang akan kau perbuat dengan keadaan ini. Bukankah islam mengajarkan, bila marah, berhenti sebentar. Duduklah. Bila belum reda, berdirilah. Bila belum reda juga, maka berwudhulah. Semua di dunia ada kalanya belum tentu,” jelas Cak To.
“Mungkin dengan hal ini merupakan teguran buat dirimu agar sedikit bersabar dan jangan gegabah menentukan hasil,” tegas Cak To.
“Iya, Cak To. Padahal aku pergi pulang itu pengumuman akan segera dilaksanakan. Tapi karena egoku dan prediksiku tak akan menang, maka aku memutuskan untuk pulang,” timpal Cak No.
“Sekarang waktunya kamu memperbaiki sabarmu. Kamu sudah mengalaminya sendiri. Bukan lagi katanya-katanya. Bahwa masa depan itu misteri. Jangan gegabah menyikapinya. Sudah. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, itu hanya akan menguras energimu saja. Ridholah atas semua ketetapan Allah,” Cak To menenangkan.
(bersambung)
Minggu, 27 Oktober 2024
Nanang Timur
JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik