Mengko Lak Eruh-eruh Dhewe (3)

Sumber Foto : Pixabay

Saya merasakan perkembangan dunia terjadi sangat cepat sekali. Semua serba cepat. Dari berbagai bidang, transportasi, perdagangan, teknologi, perekononmian, pendidikan, budaya, sosial, dan masih  banyak hal lainnya, yang mungkin kalau saya tulis, malah makin bikin kepala saya ngelu.

Misalnya saja soal transportasi. Saya merasa bersyukur bisa belajar melatih mental untuk naik angkutan umum sendirian—saat masih seusia sekolah dasar. Saat itu, kalau tidak salah saya masih duduk di kelas empat SD.

Keperluan saya untuk naik angkutan umum ialah pergi ke tempat kursus bahasa Inggris, tepatnya di Desa Morowudi, Kecamatan Cerme. Jaraknya kurang lebih sekitar 2,4 km dari rumah saya. Les bahasa Inggris yang saya ikuti ini terjadwal rutin setiap hari Minggu. Mulanya saya biasanya diantar oleh ayah. Sesekali diantar oleh ibu. Baik itu diantar dengan menggunakan motor maupun naik angkutan umum BP (Balongpanggang – Pasar Turi) warna hijau.

Pelajaran yang dapat saya petik dari pengalaman saya naik angkutan umum itu adalah soal mental, keberanian, dan kepercayaan diri. Memang, untuk konteks waktu, kejadian, suasana, pengalaman, teman, dan lainnya – sudah menjadi masa lalu saya.

Jangan tanya kepada saya, bagaiamana tentang hasil kursus bahasa Inggrisnya. Apakah saya jago bahasa Inggris? Tentu tidak. Lah wong saya pernah pada suatu kesempatan mewawancarai dua orang turis asing asal Polandia yang hendak berwisata di Pulau Bawean, tepatnya pada Jum’at malam, 23 Februari 2024. Dua sejoli ini bernama Mateuz Zbizek dan Marta Wasilewzka.

Saat  itu, kebetulan saya memang diajak salah satu teman saya bernama Faiz, ke Pelabuhan Gresik. Sesampainya di lokasi,  saya melihat ada dua turis asing yang tampak kebingungan. Mereka berdua tengah berkomunikasi dengan petugas pelabuhan. Lalu, bersama Faiz, saya datangi kedua turis itu.

Setelah mendapat informasi dari petugas pelabuhan, ternyata dua turis asing ini salah mendapatkan informasi tentang jadwal keberangkatan kapal dari Gresik menuju ke Pulau Bawean. Keduanya harus menunda keberangkatannya untuk berwisata ke Pulau Bawean. Sebab, informasi yang mereka dapat dari website resmi Pemkab Gresik, ternyata tidak diperbarui. Akhirnya, mereka harus balik pulang ke tempat penginapannya di Surabaya.

Soal komunikasi saya dengan keduanya bagaimana? Ya, saya wawancara melalui handphone, lewat google translate. Ini menjadi bukti bahwa, saya tidak jago amat dalam hal bahasa Inggris. Heuheu.

Kembali lagi pada pengalaman apa yang dapat saya petik saat masih usia SD ketika belajar naik angkutan umum sendirian? Ya, poin utamanya pada nilai-nilai; nilai mental, keberanian, dan kepercayaan diri. Itu sangat relevan untuk terus dipakai di sepanjang zaman. Persis seperti rutinan Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-94 beberapa hari yang lalu, dengan tema yang serupa “Masa Lalu, Masa Kini, Masa Depan”.

Saya memulai mengetik tulisan ini pada pukul 19.30 WIB, Senin, 28 Oktober 2024. Lagi-lagi saya merasa tertantang untuk membedah konsep “mengko lak eruh-eruh dhewe”, idiom khas yang kerap dilontarkan oleh Cak Madrim. Merujuk tulisan chat ­panjang lebar yang dituangkan oleh Cak Rezky dalam grup WhatApp Damar Kedhaton, “Kali pertama, mendengar idiom khas Cak Madrim tahun 2017 di Mbah Condro. Awak dhewe iki, merasa kejewer tapi yo cocok. Kenapa? outline idiomnya bagiku, hakikat dari definisi umate Kanjeng Nabi Saw. Sanes umate Nabi Musa yang populer dengan kritis banyak tanya. Prasangka yang kubangun sejak kenal Cak Madrim yakni manusia makrifat. Abstrak, Pak. Omongan darinya selalu tak lepas dari causa prima. Meski punya pagar nilai semacam itu, ia ternyata juga aktivis yang kritis bertanya, lho kan gak nyambung,”  tulis Cak Rezky.

Uraian panjang lebar yang dituangkan melalui Cak Rezky, hingga pukul 19.47 WIB, belum ada yang memberikan respon berupa jawaban atau argumen atau sanggahan atau tambahan yang berupa tulisan pula. Meski begitu, dengan kecanggihan teknologi pada WhatsApp, yang berulangkali mengalami perubahan-perubahan pada fitur yang dimiliki, yang saya maksud adalah fitur WhatsApp Rections. Fitur ini dapat digunakan untuk menanggapi chat dari pengguna lain dengan memakai emoji yang tersedia.

Diketahui, terdapat enam emoji yang bisa dipakai oleh pengguna untuk menanggapi sebuah chat yang terdiri dari emoji jempol, hati, tertawa, sedih, terkejut hingga emoji kedua tangan simbol terimakasih. Kembali lagi pada tulisan Chat Cak rezky, ketika saya coba sentuh, ada dua orang yang sudah menanggapi melalui emoji, yaitu Cak Madrim sendiri, pencetus konsep “mengko lak eruh-eruh dhewe” dan Cak Zainul. Mereka berdua juga memberikan tanggapan dengan emoji yang sama, yaitu emoji jempol.

Saya pribadi sependapat dengan apa yang sudah disampaikan oleh Cak Rezky melalui tulisan chat-nya itu. Bahwa, Cak Madrim adalah sosok manusia makrifat dan abstrak. Saya juga mengakuinya. Tapi, sik tho. Makrifat e piye? Abstrak e kayak bagaimana? Saya sebenarnya juga merasa gemes dengan sikap Cak Madrim.

Tapi, beberapa kali, konsep “mengko lak eruh-eruh dhewe” yang dicetuskannya itu, diam-diam juga saya renungi. Secara logika dasar. Jika saya tidak berupaya untuk mencari tahu, berusaha secara sadar untuk menambah rasa keingintahuan terhadap apapun itu, terutama dengan berangkat dari kesadaran diri – ya tetap saja saya tidak akan tahu. Terkecuali jika konteksnya ialah kepahaman yang tidak lain bentuk dari rezeki.

Minimal, saya secara sadar, telah dianugerahi akal pikiran untuk mendayagunakan sebaik mungkin. Seperti halnya menyoal tujuan yang dikupas oleh Mas Sabrang – ini sudah saya tulis sedikit pada tulisan saya berjudul “Mengko Lak Eruh-eruh Dhewe” seri 2.

Sebelumnya, Cak Rezky juga melontarkan chat dengan topik pembahasan yang serupa, kurang lebih seperti berikut :

“Dua slot tulisan Febri, barusan kelar kuseruput. Dan aku dipaksa menyelam, menyisir dan diantar tiba di sebuah halaman kemudian lekas ku dituntun landing di tengah titik ruang gua pertapaan kebingungan yang selalu ia nikmati. Aku merekamnya, seolah ada protes yang dikemas secara implisit :

Febri justru ingin menantang balik, Cak Madrim. Idiom ”mengko lak eruh-eruh dhewe”, ada berapa versi definisinya? sampai coba dibedahnya, tapi justru tak kunjung bedah-bedah. Kasih contoh kasus, konkrit? Bab jodoh?

Barangkali dari versi definisi, konsep, penerapan, Cak Madrim tentang idiom itu. Dapat membuatnya terpesona dan pindah gua pertapaan. Barangkali,” papar Cak Rezky melalui tulisan chat di dalam grup WhatsApp Damar Kedhaton, pukul 17.50 WIB, pada Senin, 28 Oktober 2024.

Sembari saya menikmati untuk mengetik tulisan ini, tiba-tiba nongol salah satu pimpinan perusahaan media saya. Ia menanyakan bagaimana progres tulisan saya terkait proyek pembuatan majalah, “Oleh piro Feb tulisan e? Suwene, mene kudu mari yo!” tanya dia kepada saya. Lantas saya jawab secara singkat, padat, dan jelas, “Siyappp.”

Kembali pada tulisan chat Cak Rezky. Pada paragraf pertama, saya menyetujuinya. Bahwa, saya tengah berada di satu titik ruang gua pertapaan kebingungan, yang selalu saya nikmati. Saya juga tidak tahu kenapa, alasan, dan tujuan saya untuk mencatat dan menulis. Apakah ini memang kecenderungan yang diberikan oleh Gusti Allah kepada saya? Sehingga saya wajib untuk mensyukuri dan mendayagunakan dengan maksimal dan optimal. Tapi, sik tho.

Malah saya takut ini adalah ke-ge’er-an saya saja yang terlalu tinggi. Jangan-jangan, Gusti Allah juga masih memperkenankan saya untuk menikmati gua pertapaan saya untuk saat ini, untuk sementara ini. Kalau besok tiba-tiba saya diperkenankan-Nya untuk keluar dari gua pertapaan kebingungan, saya mau apa? Saya juga nggak tahu.

Begitu pula pada paragraf kedua. Tolong lah Cak Madrim. Jangan bikin kepala saya makin ngelu. Minimal kasih saya contoh kasus yang konkrit. Bab jodoh misalnya. Heuheu. Kalau meminjam boso kasaran, oh ghatel. Tapi, ini bukan berarti saya kecewa atau marah kepada Cak Madrim. Tapi lebih kepada ungkapan cinta, ungkapan kemesraan, ungkapan keakraban.

Soal jodoh, dulu saya di usia remaja, mulai dari SMP hingga  kuliah, saya merasa mudah sekali untuk pedekate terhadap perempuan. Tapi, untuk saat ini, saya merasa kehilangan semua daya juang itu. Tidak lantas ini diartikan secara saklek, saya anti perempuan, ya tidak dong. Saya juga masih normal. Melihat perempuan dengan paras yang anggun, saya bisa jatuh hati kok. Coba dites ta? Boleh banget dong. Heuheu. Tapi ini bukan soal sekadar jodoh suka saling suka saja. Melainkan lebih dari itu, yakni garwa atau sigaraning nyawa.

Sementara, tulisan Mengko lak eruh-eruh dhewe seri tiga cukup saya akhiri di sini dulu. Semoga, akan ada tulisan lagi lainnya. Sebagai bagian upaya untuk membedah konsep yang dicetuskan oleh Cak Madrim. Demikian, tulisan ini saya akhiri tepat pada pukul 20.44 WIB.

Bismillah… Perihal jodoh, mengko lak eruh-eruh dhewe.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, seorang bocah ingusan yang gemar riwa-riwi dan mencari inspirasi melalui secangkir kopi