Bisikan Pikiran

Sumber : https://images.app.goo.gl/5hfTxm6bE7ght9fW6

Pandangan Cak To menerawang jauh menembus cakrawala kehidupan, matanya kosong tak tahu jalan keluar. Pikiran kusut tak tau kemana kaki akan melangkah. Semua begitu sesak bagai terhimpit dua gunung. Seakan berada pada perut ikan yang gelap.

Astaghfirullaahal ‘adzim, laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntum minadz dzolimin,” suara parau terdengar lirih.

Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nashiir,” bersambung dengan lirih pula.

“Apa yang akan terjadi nanti aku tak tahu. Sementara kupasrahkan ketidakberdayaanku kepada-Nya. Mencoba tegar dalam kebimbangan, berusaha beryakin di dalam ketidakpastian,” gumamnya.

Sayup-sayup tarhim berkumandang, membuyarkan lamunan Cak To. Segera mengambil wudhu mempersiapkan diri untuk menghadap. Dengan semua penyesalan dan setumpuk proposal siap diajukan kepada Sang Penguasa. Sambil menunggu adzan subuh, Cak To duduk termenung menghitung dirinya, apa yang telah dilakukannya sehingga Allah marah kepadanya.

“Ataukah hanya sangkaanku saja? Bukan Allah marah, namun karena ulahmu sendiri. Yang hanya menuruti ego, dan sifat konsumtifmu saja. Ataukah pembelajaran untuk naik ke episode selanjutnya? Bukankah permasalahan yang kamu hadapi merupakan jalan untuk tetap hidup?”

“Bayangkan jika tak ada persoalan yang kamu hadapi bagaimana akan menjalani kehidupan. Apa atene longak-longok, plonga-plongo tanpa tahu apa yang dikerjakan. Karena semua sudah tersedia tanpa kamu harus memecahkannya. Seharusnya keadaan yang bagimanapun menjadi nutrisi dan asupan vitamin untuk lebih tegar dan gagah menjalani skenario Tuhan dalam setiap episodenya.”

Suara adzan memecah dialog Cak To dengan dirinya sendiri. Sudah saatnya mengadu kepada al – Malik Sang Penguasa kerajaan tak terbatas. Dalam berdirinya Cak To mengeluarkan segala macam keresahan yang sudah menghimpun dalam dadanya. Begitu sesak seakan ingin meluapkan semua itu.

“Namun apakah ini keterlaluan? Aku menghadap hanya membawa ocehan-ocehan yang tak bermoral yang dibalut dengan ketidakberdayaan. Jangan-jangan ini hanya bentuk ketidaksiapan dan kemalasan dalam mencari nikmat yang Allah berikan. Mudah mengeluh padahal sudah dicukupkan apa yang menjadi kebutuhan setiap mahluk-Nya.”

“Ya Allah, ampuni hamba. Terlalu hina dan dangkalnya pemahamanku tentang semua karunia yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Namun kepada siapa aku akan berkeluh kesah jika tidak kepada-Mu.”

Dalam sujudnya, Cak To semakin menjadi mengelurkan segala kebimbangan dan tersungkur.

“Beginilah rasanya, semua yang ada di kepalamu sekarang ada di bawah, bukan di atas. Apa yang ada dalam pikiranmu hanya akan dikubur dalam tanah.”

“Ya Raab, aku hanya manusia yang tak luput dari lalai. Sangat mudah terjerumus serta terpeleset pada jurang kemaksiatan dan berjalan pada kesesatan. Kekufuran seakan akrab melekat pada diriku. Jauh dari ketaatan, mengigatMu hanya sebatas pelampiasan saja ketika jalan buntu yang kutemui. Hanya sebatas itu, bukan karena penghambaan serta pemujaan atas keagunganMu. Engkaulah yang berkuasa dan mutlak mengatur apa yang terjadi di dunia ini.”

Duduk pun Cak To masih belum puas, masih terngiang kebimbangan dan keraguan dalam hatinya.

“Apa yang aku makan nanti. Apa yang akan aku bayarkan nanti. Apakah cukup untuk memenuhi kebutuhanku nanti. Sedangkan anak-anak sudah menanti dariku. Lalu, aku harus kemana?” campur aduk perasaan dan pikiran Cak To.

Belum ada lima menit sudah muncul keraguan. Sudah mulai tidak mantap apa akan kehendak Allah.

“Apakah ini yang disebut manusia. Ataukah manusia yang belum manusia. Dengan hewan pun mungkin lebih rendah kadar keyakinannya. Tak bisa ku berkata-kata lagi. Aku sudah tak bisa berretorika lagi. Lalu di mana keimananmu, itu yang perlu dipertanyakan. Apakah yang kau jalani ini hanya sekedar ritual saja tanpa ada bekas di hatimu?”

“Heee  heeee…” ada suara yang sinis serta mengejek. “Begitu saja kok sok-sokan mau hidup di jaman Kanjeng Nabi. Akan jadi umat siapa kamu nanti. Wkkkkkk kwwww wkkkk…. omong kosong! Belum tentu kamu bisa menjadi umat yang taat. Yang jadi persoalan adalah dirimu sendiri yang cengeng dan lemah hanya masuk di kepala lalu keluar lagi. Tanpa ada bekas di hatimu. Ritualmu tak lebih dari olah raga seperti senam.”

Suara itu mulai mengintimidasi.

“Tak ada implementasinya, bicara keyakinan dan tawakal pada mulutmu yang berbusa namun setelah dihadapkan pada kenyataan kamu mengingkarinya. Apakah itu bukan kafir wahai  Cak To?” suara itu semakin menjadi jadi.

Seketika Cak To tegang. Kata itu terus tergiang, “apakah benar demikian”.

“Dilihat dari kenyataannya memang seperti itu. Harus kuakui bahwasannya kekafiran sudah ada di hatiku. Sering kali berubah haluan begitu ada hambatan sedikit saja. Lalu bagaimana aku bisa mencontoh jalan orang-orang yang Kau beri nikmat. Tentu saja tak semudah dan semulus jalan tol. Banyak halangan dan rintangan yang bertubi-tubi datang.”

Nafas panjang tersengal seraya “Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nashiir

 

(Bersambung)

31 Oktober 2024

Nanang Timur

JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik