
Mulai ba’da subuh tadi sudah ngopi, sing ngancani ya gery chocolatos.
Bagi kebanyakan orang datangnya hari ini sangat dinantikan, mungkin juga termasuk diriku, karena setidaknya akan tumbuh harapan baru setelah berjibaku, berjuang di akhir bulan hingga hampir offside pada titik asa perjuangan.
Tak seperti mereka yang menanti hari ini dengan full senyum riang gembira, bagi diriku porsinya terbagi antara senyum, khawatir, was-was dan bahagia. Bagaimanapun proses ainau ini harus tetap dijalani, karena sudah sejak sekitar 4 tahun yang lalu kuambil keputusan untuk menempuh perjalanan hidup di jalur yang ini.
Salah satu yang kujadikan pijakan untuk mengambil keputusan pada saat itu adalah pesan dari sosok lelaki yang kupanggil “Ayah”, dengan pesan sederhananya :
“Kerja nak endi ae, dadi apa ae kudu dadi wong sing jujur, kendel tur temen. Aja khawatir Gusti Allah nyiptakne makhluk wis dijamin sak rejekine“
Kalimat yang sederhana namun cukup membuatku sangat berani untuk mengambil langkah pertama.
Perjalanan yang telah ku tempuh bukan sebuah perjalanan yang mudah dan melulu indah. Sering juga kutemukan jalan yang terjal dan berliku hingga membuat diriku terseok cukup melelahkan, seakan beban perjalanan kian berat hingga otakpun hampir tak mampu bergerak.
Lagi-lagi, entah karena diriku beruntung atau memang sudah menjadi bagian dari perjalanan, ketika lelah mulai menghampiri seluruh organ tubuhku, yang membuatku tergerak dan mulai menggerakkan kemalasan adalah bekal sangu dari Simbah (Mbah-Nun) yang begini :
“Ucapkan pada dirimu, ‘Bisa Bisa Bisa!’ Kamu punya Allah. Bisa, Bisa, yang penting kamu kerja keras terus dengan segala kesengsaraannya. Kalau ndak mau sengsara, ya jangan hidup.”
Ya memang semua harus dilalui dengan lengkap dan presisi.
Lukman Adhi MI (Kaji Bombom)
JM Damar Kedhaton tinggal di Kedamean, Gresik