Kerajaan Uang

Sumber : https://images.app.goo.gl/RJ4vwYpaiF8acFSz9

(respon atas tulisan Cak Madrim berjudul Tuhan yang Bernama Uang)

Ya betul, saya sepakat akan hal itu. Uang adalah raja dan berpengaruh besar dalam kehidupan untuk saat ini. Karena uang, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Yang sulit menjadi mudah, dan mudah menjadi sulit.

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh uang. Dari memelintir keputusan, memutar balikkan fakta, bahkan menggoyangkan keimanan seseorang. Perkataan atau janji dari orang yang beruang lebih dipercaya dari pada orang yang tidak beruang. Karena kebanyakan masyarakat sepakat akan hal ini.

Namun tenang saja masih ada manusia murni yang memegang nilai memanusiakan manusia walau jumlahnya sedikit sekali. Atau mungkin sulit dideteksi. Uang juga bisa dijadikan tolok ukur kebenaran, kedermawanan, kebaikan akhlaq, bahkan juga kesalehan.

Saya sendiri ketika dihadapkan dengan uang juga tak punya banyak pilihan bagaimana menyikapinya. Sering dan sering menomorsatukannya, walau saya tahu itu bukan semestinya. Banyak hal yang memengaruhi keputusan itu. Begitu sengkarut dan kompleks ; karena menyadari saya tidak sendiri, ada jiwa yang menjadi tanggung jawab saya. Hal ini juga yang membuat semakin dilematis. Ketika idealisme dibenturkan dengan kenyataan bahwasannya orang-orang terdekatlah yang menjadi hijab akan kebenaran itu.

Menurut teori uang tidak akan mengubah karakter seseorang. Uang hanyalah akan mempertebal, memperjelas karakter tersebut. Namun untuk mendapatkannya itu perkara lain.

Ada satu nasihat, “Jangan kau kejar uang, uang akan lari.”

“Tapi jika tidak dikejar, mana bisa saya dapatkan?” saya menyela.

Uang ibarat angin pergi dan datang begitu saja. Saya pikir-pikir, uang adalah alat tukar saja, tidak lebih. Yang lebih berarti ketika uang ditukarkan dengan aset yang bisa mencetak uang. Uang sendiri mengalami penurunan harga yang namanya inflasi. Rokok Surya yang dahulu 150 per batang sekarang 3000 perbatang. Nilai uang tidak bisa abadi tapi aset yang mencetak uang akan bertahan lebih lama.

Lalu akan kamu tukarkan dengan apa?

Mungkin agak lain dan terkesan munafik jika kejujuran, ketaatan, kesetiaan pada nilai itu adalah aset pencetak uang. Terkesan omong-kosong dan sok idealis, di tengah gempuran yen ora edan ora keduman. Suara “klunthing” lebih menentramkan hati dari pada suara tarhim dan adzan subuh.

Sungguh mengganggu sekali di saat enak terlelap harus bangun melawan hawa dingin serta meninggalkan selimut yang hangat. Begitu pula janji akhir bulan sungguh begitu percaya dan mengimaninya, dari pada janji Allah tentang akhir hidup. Memang uang adalah sumber kepercayaan untuk mengarungi hidup dari hari ke hari, minggu ke minggu, serta bulan dan tahun ke tahun. Merasa pede menghadapi tantangan, problem dan masalah di depan jika ada uang.

Namun juga tak semudah itu ferguzo. Selalu ada hal yang belum diketahui, terdeteksi, terindikasi bahwasannya ada celah untuk menghadapi kerajaan uang. Kemungkinan-kemungkinan di luar prediksi, nalar, dan cara berfikir manusia yang bisa menjungkirbalikkan dengan mudahnya. Jangan kaget bila tiba saatnya banyak kejutan-kejutan bertubi-tubi bagi para peyakin nilai. Yang menjadikan pola pikir dan kecerdasan serta kesadaran sebagai manusia sebagai aset pencetak uang. Akan datang masanya hal itu menjadi nyata adanya. Sekarang apakah tetap kuat dan bertahan pada keyakinan pada nilai dan kesadaran manusia?

Uang bisa memengaruhi ke mana arah dan tujuan manusia menentukan pilihan. Dengan uang bisa menyetir siapa saja yang dikehendaki untuk dijadikan budaknya. Mematuhi segala perintah dan yang dilarang. Sudah menyaingi Tuhan dan menjadikan raja. Mengesot-ngesot menjilat-jilat, serta merangkak-rangkak untuk menyembahnya. Dengan harapan menjadi abdinya.

Sungguh ini adalah kenyataan yang ada di depan mata. Setiap detail kehidupan tak lepas dari uang. Muak dan marah menghadapi ini, namun bagaimana dengan ketidakberdayaan apa yang dilakukkan. Empati sudah tergadai dengan uang.

Ohhh uang ..beri hamba uang, beri hamba uang…

 

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah)

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ ࣖ

yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan

(QS Quraish, ayat 3-4)

 

01 November 2024

Nanang Timur

JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik