
Pada tanggal 28 Oktober 2024 kemarin, banyak instansi pemerintahan menyelenggarakan kegiatan upacara. Tujuannya ialah tak lain memperingati hari Sumpah Pemuda. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, pemuda-pemudi tangguh berkumpul dan menentukan sikap serta harapan demi kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia akhirnya dinyatakan merdeka dan hasilnya pun kita ikut serta nikmati kemerdekaan itu.
Sungguh dahsyat sebuah sumpah!!!
Majapahit, sekitar abad 14, memiliki Mahapatih yang bernama Gajah Mada. Sang Mahapatih memiliki Sumpah Palapa, Gajah Mada ingin menyatukan Nusantara melalui kerajaan Majapahit bahkan beliau rela tidak menikmati makanan lezat, enggan hidup enak, sebelum sumpahnya tercapai. Dan akhirnya sumpah sang Mahapatih pun dapat tercapai, bahkan wilayah Majapahit waktu itu melebihi batas dari Nusantara.
Sungguh dahsyat sebuah sumpah!!!
Sekejap penulis juga teringat pada sumpah dalam kisah Mahabarata, teringat sosok Karna dan Bisma.
Bisma, Sang Kesatria dari bangsa Kuru. Beliau adalah paman dari Pandawa dan Kurawa. Sedangkan Karna, seorang raja di Kerajaan Angga, kakak dari para Pandawa.
Sumpah Bisma yang agung “tidak akan menikah dan memiliki keturunan serta mengabdikan seluruh hidupnya demi menjaga pemegang tahta kerajaan“. Beliau merasa bersalah telah melakukan sumpah itu karena pada akhirnya Bisma termakan dengan sumpahnya sendiri. Bisma berperang melawan keponakan sendiri; Pandawa, di tengah medan pertempuran. Bisma sangat menyayangi Pandawa karena memang sikap dan tindakan Pandawa sangat mencerminkan seorang kesatria.
Sedangkan sumpah Karna, kakak para Pandawa, ialah selalu menjaga serta melindungi Duryudana, lawan tandingnya Pandawa.
Dengan sumpah itu Karna harus ber-versus di medan pertempuran dengan Pandawa, adik-adiknya sendiri. Dengan dibanjiri air mata, Raja Karna berduel hebat melawan Arjuna sang adik yang mempunyai keahlian memanah seperti dirinya. Bahkan dalam hatinya Raja Karna selalu meminta maaf setiap busur panah yang melesat. Di tengah pertempuran Baratayudha itu dia diperintah untuk membunuh keponakan sendiri ; Gatotkaca, karena Gatotkaca dinilai sebagai benteng pertahanan pasukan Pandawa.
Dengan bersungguh-sungguh Raja Karna memanah keponakannya dengan senjata pamungkas Indrastra, senjata yang diperoleh dari berkah Dewa Indra. Dengan begitu Gatotkaca langsung tersungkur dan menghembuskan nafas terakhirnya. Raja Karna sangat bersedih dengan kematian keponakan di tangannya sendiri, berbanjir air mata di pipinya namun Raja Karna harus memegang teguh sumpah untuk selalu menjaga dan melindungi sahabat karibnya; Duryudana.
Lanjut saat berhadapan denga Arjuna, Raja Karna akhirnya mengalah, karena tidak ingin semua keluarganya meninggal di tangannya. Raja Karna melepaskan baju perang yang tidak bisa ditembus oleh senjata apapun, yang merupakan pemberian Dewa Matahari. Setelah baju perangnya dilepas akhirnya Raja Karna pun meninggal dengan beribu panah yang menancap di tubuhnya. Dengan begitu Raja Karna sudah lepas dari sumpahnya untuk menjaga dan melindungi sahabat karibnya.
Sungguh dahsyat sebuah sumpah!!!
Sumpah dapat mengubah sikap, tindakan, pemikiran, serta kejadian di masa kini dan masa yang akan datang. Dengan beberapa cuplikan kisah itu, semoga kita berhati-hati ketika bersumpah karena sumpah bukanlah mainan atau barang yang bisa dijualbelikan di pasar dengan memakai mata uang rupiah atau dollar.
Gresik, 2 & 4 November 2024
Fauzi “Madrim” Effendy
JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota