
Beberapa kawan telah meratapi kesedihan, badannya capek, energi terkuras, dan lainnya lagi. Ingin liburan karena sudah muak dengan tugas yang didapat dari instansi tempat kerjanya. Maklumlah akhir tahun. Banyak yang harus ditunaikan untuk menjemput tahun berikutnya.
Belum lagi ketambahan biaya hidup yang semakin mahal di kota Gresik. Gresik disebut juga kota SANTRI – Kawasan Industri, pemenuhan biaya hidup di kota membuat orang-orang semakin stress. Jadi kasihan juga melihat keluh kesah mereka, ya spontan saja kubuat lelucon yang mungkin bisa menghibur mereka.
“Hemmm, ada yang kerjaan banyak kurang bersyukur malah menyalahkan keadaan, mungkin lebih cocok orang yang tidak dapat kerjaan lah yang wajib mengeluh, piye tukar nasib ta?”
Seketika suasana berubah, kawan-kawan lebih bersemangat, bahkan ada juga yang senyum, seperti sinis tapi aku yakin mereka terhibur.
Dunia itu ndak tentu, kadang orang yang beruang banyak tapi tidak bisa menikmati kekayaan yang diperoleh, karena ia terindikasi beberapa penyakit. Ada yang kaya namun tidak bisa merasakan enaknya makan jeroan, ada yang beruang tapi tidak bisa menikmati lezatnya bebek goreng. Ada juga yang tidak beruang namun bebas makan apa saja tanpa takut dihadang kolesterol, kencing manis, darah tinggi ataupun komplikasi. Semuanya dimakan, bahkan sampai menikmati seduhan kopi ngebon pun tidak takut.
Kehidupan tidaklah pasti, dan terus berjalan sampai pada batasnya.
Menurut Aristoteles, kehidupan adalah suatu perjalanan yang berfokus pada pencapaian kesejahteraan atau kebahagiaan yang sejati. Dengan begitu, sederhananya, ketika dirimu bahagia atau merasa bahagia, maka dirimu layak dinobatkan sebagai orang yang hidup. Sederhana bukan, kehidupan itu?!
Bagaimana cara mencapai kebahagiaan?
Yang bertanya seperti itu bisa dipastikan generasi Alpha, karena kurang mendapatkan sentuhan kasih sayang dari orangtuanya, mengalami ketergantungan pada internet, bahkan hidupnya hanya berfokus pada kecanggihan digital. Mereka kehilangan kebahagiaan secara fisik, mungkin juga semakin lama mereka akan kehilangan perasaan atau “feeling“, karena semakin intens dengan internet tanpa diimbangi dengan perjumpaan fisik. Berteman saja online semua, bahkan bermainpun tanpa memakai fisik, tanpa mengenal kawan secara hubungan emosional.
Sebenarnya feeling atau rasa sangatlah penting, hal itulah yang membedakan antara manusia dengan robot. Sepintar apapun manusia bahkan sehebat apapun jika tidak punya rasa, tak lain sama halnya dengan robot.
Di beberapa mancanegara, salah satunya Jepang, beberapa orang sudah mati rasa. Mosok tidur dengan robot boneka, bahkan sampai menikahi boneka yang tidak punya rasa. Sudah banyak yang tidak waras, mendingan menikah dengan manusia sungguhan meskipun mulutnya berpidato setiap detik merumuskan berapa harga beras, minyak tanah, token makin mahal, biaya sekolah mahal, angsuran pinjol belum terbayar. Lah hal-hal semacam itu yang menandakan kita masih hidup, karena punya memiliki rasa.
PR kita sebagai orangtua yang masuk dalam dunia generasi Alpha ialah menumbuhkan serta merawat rasa, agar generasi kita tidak menjadi manusia robot. Jangan hanya membebankan Rasa pada Cak Yayak saja, mentang-mentang beliau Ayah dari Rasa, yang sekarang lagi menempuh pendidikan di pesantren daerah Sunan Giri. Wkwkkwkwkw, selamat berbahagia.
Gresik, 06 November 2024
Fauzi “Madrim” Effendy
JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota