Entropi Gelembung Komunikasi

Sumber : https://images.app.goo.gl/M9pHGMTKwNgt2cUn9

“Wani pira?” Sebuah ungkapan yang sempat viral beberapa waktu yang lalu. Sebagai contoh konkrit, begitu seleh genje-nya komunikasi di tengah-tengah masyarakat. Saking luwesnya ungkapan “Wani piro?”, dia begitu dinamis masuk ke dalam lapisan komunikasi sosial, psikologi, politik, ekonomi, budaya, bahkan wilayah agama sekalipun ; transaksional — tawar menawar.  Seolah-olah menjadi sebuah kode rahasia orang yang malas mikir. Kalau bisa dibeli, kenapa harus susah-susah jujur? Kalau bisa dirapel, kenapa harus repot-repot adil? Jadinya, yang salah dibayar lunas, yang benar di-pending dulu. Tawar-menawar bukan cuma soal duit, tapi soal nurani kita yang dilelang. Di pasar kehidupan, semua bisa ditukar jadi receh, kecuali satu: harga diri yang udah digadai, cuma dapat kembalian gengsi. Menjadi sebuah entropi komunikasi ketika nilai-nilai luhur semakin terdegradasi, terurai dalam transaksi yang dangkal, membentuk kekacauan sosial yang makin tak terkendali.

Mereduksi percakapan menjadi semata-mata soal angka, meninggalkan konteks makna yang lebih dalam. Seperti mengobral hati nurani di pasar, bahasa kita menjadi alat tawar-menawar, bukan sarana memahami atau menyampaikan kebenaran. Masyarakat mulai terbiasa berbicara dengan pola pikir “apa untungnya buat saya?”, dan kehilangan kemampuan untuk berdialog tentang nilai, kebenaran, atau keadilan.

Dalam entropi ini, semua berputar dalam kekacauan nilai. Orang yang lurus dianggap bodoh. Orang yang jujur dianggap lugu. Semakin kacau komunikasi, semakin sulit membedakan mana yang benar-benar bernilai, mana yang sekadar penawaran palsu.

Kalau kita melihat dunia ini, rasanya seperti melihat sebuah simfoni besar yang dimainkan oleh orkestra dengan pemain tak terhitung jumlahnya. Setiap pemain memegang alat musiknya masing-masing. Ada yang memainkan biola, ada yang meniup trompet, ada yang memukul drum. Tapi siapa yang mengatur? Siapa yang jadi konduktor? Mungkin kita berpikir bahwa manusia ; dengan akal, ambisi, dan emosinya, adalah yang mengendalikan permainan. Namun, sebenarnya, di balik semua itu ada mekanisme yang lebih dalam, yang tak terlihat oleh mata kita. Ini bukan tentang manusia sebagai individu, melainkan tentang sistem yang mengatur bagaimana kita berkomunikasi, bagaimana kita hidup dan membuat keputusan bersama tanpa kita sadari. Namun, jika kita melihat ke realitas sehari-hari, simfoni itu sering kali terdengar sumbang, dengan pemain yang tidak sinkron dan instrumen yang tidak selaras.

Kita hidup di tengah masyarakat yang terdiri dari sekumpulan komunikasi, bukan sekadar sekumpulan individu. Saat kita membaca berita pagi, kita terhubung dengan sistem media. Ketika kita membeli sayuran di pasar, kita berinteraksi dengan sistem ekonomi. Dan saat kita berdebat soal pilihan politik di grup WhatsApp keluarga, kita berada dalam sistem politik. Setiap sistem ini berjalan dengan logika dan aturannya sendiri yang sering kali tidak bisa dipahami oleh sistem lain.

Sistem politik, misalnya, beroperasi dengan logika kekuasaan: siapa yang menang, siapa yang kalah, siapa yang punya otoritas untuk memutuskan. Sedangkan sistem ekonomi bicara tentang uang, harga, untung, dan rugi. Namun, faktanya, sering kali logika ini berbaur kacau dalam praktik sehari-hari. Ketika politik masuk ke pasar ekonomi atau agama, bisa dijadikan sebagai alat politik. Tatanan ini berubah menjadi labirin yang penuh paradoks. Sebuah entropi yang kompleks.

Bayangkan kita sedang berada di pasar tradisional. Penjual sayur berkomunikasi dengan pembeli lewat harga. Mereka tak perlu bicara soal politik atau teologi. Yang terjadi hanyalah interaksi seputar “berapa harga tomat hari ini?” atau “kenapa cabai mahal sekali?” Inilah komunikasi ekonomi. Namun, ketika harga-harga naik drastis karena kebijakan pemerintah yang asal-asalan atau permainan spekulasi segelintir elit, komunikasi ekonomi itu sudah bersinggungan dengan sistem politik. Namun, tetap saja mereka tak berbicara dengan bahasa yang sama. Sistem ekonomi akan merespons dengan menaikkan harga, sementara sistem politik mungkin merespons dengan janji subsidi yang sering kali hanya jadi alat kampanye. Janji tinggal janji, harga cabai tetap melonjak di pasar. Sementara rakyat bingung mencari alasan di balik lonjakan harga. Sistem yang seharusnya otonom, tapi kenyataannya mereka bertabrakan dalam realitas.

Sebuah sistem punya kode atau bahasa rahasianya sendiri yang menentukan bagaimana mereka memahami dunia. Dalam ekonomi, kodenya adalah untung/rugi. Di dunia politik, kodenya adalah kekuasaan/oposisi. Di wilayah agama, kodenya bisa berupa pahala atau dosa. Namun, di lapangan, kita sering menyaksikan bagaimana kode-kode ini saling tumpang tindih. Kita melihat pejabat yang menjadikan agama sebagai alat politik, atau politikus yang menggunakan kekuasaannya untuk mengatur hukum demi keuntungan pribadi. Ini menciptakan paradoks, di mana logika yang seharusnya terpisah, menjadi saling melahap, membuat kita sulit membedakan mana yang murni agama, ekonomi, atau politik.

Ketika pandemi melanda, misalnya, sistem kesehatan tiba-tiba menjadi pusat perhatian, dan semua sistem lain terpaksa menyesuaikan diri. Ekonomi terguncang, sistem politik goyah, pendidikan beralih ke dunia maya. Namun, di balik itu semua, yang terlihat adalah ketidaksiapan dan kekacauan yang menyingkap kelemahan sistem-sistem ini. Sistem kesehatan yang seharusnya berbicara soal angka kasus dan tingkat kesembuhan, malah dipenuhi dengan narasi politik. Hoax, hingga teori konspirasi. Ekonomi yang seharusnya fokus pada stimulus dan pemulihan, terjebak dalam kebijakan politik yang ambigu. Tidak ada yang benar-benar mengendalikan, tapi semua berputar dalam jaringan komunikasi yang sangat kompleks dan sulit dipahami. Bantuan sosial tersendat karena birokrasi, vaksinasi terkendala oleh politisasi, dan masyarakat kebingungan di antara klaim media yang saling bertentangan.

Di tengah kekacauan ini, kita mungkin merasa kecil dan tak berarti. Namun, kita juga adalah bagian dari proses komunikasi itu sendiri. Setiap kali kita bicara, berpikir, atau berpendapat, kita ikut menciptakan dan memperbarui sistem sosial.

Tetapi, ada paradoks yang tak terhindarkan: kita ikut berpartisipasi, namun sering kali tanpa pengaruh yang nyata. Di saat kita berharap suara kita terdengar di dunia maya, kita tenggelam dalam banjir informasi yang tidak jelas asal-usulnya. Di saat kita berdebat di media sosial, algoritma memisahkan kita ke dalam gelembung-gelembung yang hanya memperkuat bias kita sendiri. Kita berteriak lantang, tapi gema suara kita menghilang dalam labirin algoritma yang dikendalikan oleh korporasi teknologi raksasa.

Sistem sosial ini seperti jaringan saraf yang hidup, saling terhubung tanpa ada pusat kendali tunggal.

Tuhan mungkin telah menciptakan semesta dengan segala sistemnya, tetapi yang membuatnya hidup adalah komunikasi, percakapan, doa, debat, dan setiap interaksi kecil yang terjadi di antara kita.

Namun, paradoksnya, komunikasi yang menjadi fondasi kehidupan sosial ini kerap kali menjadi sumber perpecahan. Narasi tunggal yang disiarkan oleh media massa sering kali mempersempit ruang dialog. Masyarakat menjadi terpolarisasi, bukan karena perbedaan ide, melainkan karena perbedaan akses dan kendali atas narasi yang beredar. Ketika berita palsu menjadi lebih cepat viral daripada kebenaran, komunikasi justru menjadi alat untuk memecah, bukan menyatukan.

Di sinilah letak ironi dan paradoks sistem sosial modern. Sistem-sistem ini dibangun untuk menciptakan keteraturan dan stabilitas, namun di dalamnya tersembunyi ketidakpastian dan kekacauan yang tak terduga. Masyarakat bergerak di atas permukaan yang rapuh, di mana setiap keputusan, setiap kebijakan, dan setiap ucapan dapat mengubah arah arus besar sebuah sistem yang sedang berlangsung. Dunia ini mungkin seperti mesin raksasa yang begitu kompleks, tapi dalam setiap denyut nadinya, ada kontradiksi yang terus bergerak, ada harapan yang terus menyala meski sering kali terpendam di balik kebisingan.

Pada akhirnya, meski teori mengatakan bahwa sistem bisa berjalan mandiri dengan logika masing-masing, realitas menunjukkan sebaliknya. Dunia kita masih jauh dari kata ideal, pas ataupun jangkep. Komunikasi yang seharusnya memudahkan justru sering kali menimbulkan miskomunikasi. Sistem yang seharusnya berjalan otonom saling tumpang tindih dan memperebutkan ruang.

Namun, dalam setiap kekacauan ini, selalu ada ruang bagi kita untuk mengubah percakapan, untuk membawa makna baru, dan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Sebab dunia ini, meskipun penuh paradoks, tetap menjadi panggung bagi kita untuk memainkan peran, dengan komunikasi sebagai alat dan harapan sebagai landasan.

 

Rifqi Febrian Apriliansyah

JM Damar Kedhaton tinggal di Manyar, Gresik