
Bahkan, tak pernah sedikit pun terlintas di benak pikiranku: mendirikan Suun Farm. Kata Suun, kepanjangan dari Sumber Untung. Sementara Farm jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah peternakan.
Semuanya serba ndilalah, serba makjegagik. Rasanya kayak ada yang mendorong dan menuntunku untuk terjun di bidang peternakan.
Semuanya berawal dari enam ekor menthok (angsa-red), hadiah kecil dari kakak iparku. Ia meminta tolong kepadaku untuk menjual enam angsa miliknya itu kepada tengkulak.
Kami saling berhadapan: terjadi tawar menawar antara aku dengan tengkulak itu. Kami saling pandang, matanya tampak penuh perhitungan, mengamati betul-betul tiap helai bulu dari angsa yang hendak kujual. Sementara itu, dalam pikiranku terus menghitung banyak kemungkinan.
Tok! Kami bersepakat, enam angsa hadiah dari kakak ipar dapat harga Rp 60 ribu. Namun, angka itu masih terus berputar-putar di kepalaku. Nominal itu makin membawaku seperti kompas penunjuk arah jalan.
Tiba-tiba terlintas keinginan untuk memiliki angsa-angsa ini, bukan sekadar untuk dijual dan senang bisa mendapat uang. Yasudah, aku tidak jadi menjual angsa kepada tengkulak. Tapi, aku memberi uang kepada kakak iparku, dengan harga yang sama seperti yang ditawarkan oleh tengkulak. Aku membeli angsa dari kakak ipar untuk diriku sendiri.
Setelah membeli angsa dari kakak ipar, aku merasa ada getaran aneh yang muncul dari dalam diri. Semacam rasa kepuasan batin yang membisikkan banyak kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Hasrat untuk beternak itu akhirnya muncul begitu saja. Awalnya hanya ada keinginan sederhana untuk memelihara angsa lagi. Tapi kemudian, keinginan itu tumbuh, berubah menjadi niat yang lebih besar: mencoba terjun beternak, mungkin juga ayam, mungkin juga bebek.
Aku mulai belajar dari media sosial, belajar banyak hal, mencari tahu beragam tutorial cara beternak. Selain itu, aku juga rutin memantau postingan jual-beli di Facebook. Setelah melihat beberapa unggahan, aku memutuskan untuk membeli anak ayam.
Aku pun bertanya kepada paman, mencari saran, masukan, dan persetujuan. Namun, beliau justru menawariku ayam peliharaannya. Tidak butuh waktu lama, ayam dari paman diberikan kepadaku; menjadi bagian dari rencanaku untuk mengembangkan usaha peternakan.
Aku merasa belum puas, berupaya untuk terus mencari, dan akhirnya mendapatkan beberapa ayam kecil serta anak menthok (angsa) lagi. Semangat ini membawaku bercerita kepada pakde soal impian baru: menjadi peternak bebek dan ayam.
Mendengar antusiasme cerita dariku, pakde langsung merespons dengan menawarkan beberapa bebeknya, baik yang masih kecil maupun yang sudah besar. Tentu saja, tawaran itu langsung aku terima.
Kebetulan, kandang milikku dekat dengan peternakan pakde dan saudara-saudara. Jadi, setiap kali bertemu, kami sering berbagi cerita soal beternak. Bahkan, mereka sempat merekomendasikan tempat terbaik untuk membeli bebek yang berkualitas.
Suatu hari, saat kembali membuka media sosial, aku menemukan postingan tentang menthok jumbo yang langsung mencuri perhatian. Tanpa pikir panjang, aku langsung memesannya secara online—empat ekor anak menthok jumbo pun segera tiba di kandang.
Kini, aku pun memutuskan untuk berinvestasi lebih serius: memperbaiki kandang dan menatanya agar lebih rapi. Pakde membantu membangun kandang, sementara itu, aku membeli mesin pencacah bahan-bahan sayuran lunak. Mesin pencacah itu aku beli untuk mempermudah proses pemberian pakan. Untuk pakan, aku mencari dari tanaman atau tumbuhan yang bisa didapatkan di sekitar, misalnya kangkung. Kemudian aku tambah sedikit dengan dedak.
Aku mulai menekuni usaha ternak bebek dan ayam sejak tanggal 23 Oktober 2024. Sederhana saja, motivasiku adalah ingin menyibukkan diri dengan hal yang produktif. Sebagian besar waktuku memang untuk pengabdian di pondok, tapi aku merasa perlu melakukan sesuatu lain yang bisa menghasilkan dan menantang diriku.
Dukungan dari keluarga, terutama restu dari ibu, memberi kepercayaan diri lebih. Ketika ibu memberikan izin dan restunya, aku merasa seolah mendapat dorongan kuat untuk melangkah lebih yakin.
Apalagi, aku selalu teringat pesan Mbah Nun, yang sering kali mengingatkan untuk menjadi manusia yang mandiri, berdaya, dan terus berjuang. Pesan ini yang membekas dalam hati, mengajarkan agar aku selalu berusaha berdiri di atas kakiku sendiri dan terus berusaha meski banyak tantangan.
Kini, usaha ternak bebek dan ayam ini menjadi semacam wadah belajar bagiku. Tidak mudah memang, tapi dengan banyaknya informasi dan ilmu yang kudapat secara gratis lewat teknologi; menjadi peluang besar untuk mengembangkan usaha peternakan.
Abdus Somad
JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik.