Hari Pahlawan

Sumber : https://images.app.goo.gl/ZcZoDB4inbAs3Qvx6

10 November 2024, beberapa hari yang lalu telah terjadi fenomenal pahlawan, beberapa kawan upload status ” Selamat Hari Pahlawan”. Maaf, penulis amatir baru bisa menuntaskan tulisan hari ini.

“Pahlawan?” dalam pikiran langsung terbesit sosok orangtuaku. Menurutku merekalah pahlawan dalam hidupku. Saat aku kecil, aku sering menganggap ayahku hanyalah sosok yang selalu bekerja keras, pulang larut malam, dan memberi perintah yang harus aku ikuti. Beliau terlihat sangat sibuk, dan sering kali aku merasa bahwa beliau lebih mengutamakan pekerjaannya daripada waktu bersamaku. Bahkan ayah juga jarang pulang.

Beliau berambut gondrong berkumis tebal dilengkapi dengan brewokan, postur tubuhnya juga tinggi ideal ; tinggi badan dan berat badan seimbang. Yang kutahu ayah jarang sekali marah atau memukuli aku ketika kecil. Beliau juga sangat dermawan dan “gak tegoan”; suka menolong orang yang minta bantuan. Selain itu ayah juga agak “pahit lidah”; ucapannya sering terjadi. Ayah mempunyai banyak bakat atau keahlian ; cerdas tapi tidak pernah mengenal bangku sekolah.

Menurutku ayah sebenarnya pemarah tapi pandai memendam amarah, terlihat ketika beliau sedang marah, kemarahan sukar untuk dibendung. Yang paling membekas di ingatanku ialah ayah sangat mencintai ibu. Ayah pasti menegur anak-anaknya jika membuat ibu marah. Ayah sangatlah tidak rela jika siapapun melukai ibu, aku merasa sepertinya ayah lebih cinta ibuku tinimbang anaknya.

Karena ayah jarang pulang, mungkin itu yang membuatku merasa kurang dekat dengannya. Begitu seringnya ayah berkata “Jangan lukai hati ibumu” ketika pas bersama denganku. Aku sih cuek aja ketika mendengarnya, bahkan mungkin agak sinis kayaknya. Lah gimana sih pulang ae jarang, pas lagi deket mesti ceramah hal yang sama. Mungkin bahasa gaul hari ini yang patut diucapkan ketika era itu adalah “Siapa sih loe, banyak ceramah!”

Rasa cintaku kepada sang ayah tumbuh ketika usia sudah menginjak dewasa dan beristri. Terlebih lagi ketika aku sudah mempunyai momongan. Aku mulai menyadari bahwa Ayah bukan hanya orang yang wajib kusayang tapi beliau menurutku sesosok pahlawan. Aku mulai membuka cakrawala dan mengetahui bahwasannya tiada yang salah dengan ayah. Semua tindakan dan perilakunya benar. Apapun yang dilakukan adalah demi anak turunnya, entah materi atau non materi.

Bercermin ke sosok ayah, mungkin itulah alasan kenapa aku lebih mencintai istriku daripada anak-anakku. Bukan aku tak mencintai mereka namun kadar cintaku pada sang istri lebih tinggi, mungkin juga dilandasi pengabdian dan perjuangan sang istri merawat aku dan anak-anakku. Dengan hati ikhlas sang istri membersamaiku dari angka minus secara perilaku dan materi. Aku memang orang bandel sejak bujangan bahkan melarat, tapi sang istri benar-benar telaten merawatku hingga aku mulai ada perubahan secara berangsur. Kata sang istri sih, aku sudah berubah lebih baik dari yang sudah-sudah.

Menurutku mengenal sisi pahlawan itu sangatlah mudah. Misalnya ketika sedang di warung mau bon kopi tapi dibayari teman, mungkin pahlawan. Ketika perut keroncongan, terus ada teman yang membawakan makanan untuk kita, mungkin itu juga pahlawan. Ketika kita sedang sumpek, terus ada teman yang menghibur, mungkin itu juga pahlawan. Tulis kejadian pahlawan sendiri ya! Sambil mengingat kebaikan yang diberikan orang-orang kepada kita.

Ayah, ibu, dan istri, mungkin merekalah secuil sosok pahlawan dalam hidupku. Terima kasih banyak pahlawanku. “Selamat Hari Pahlawan”.

Gresik, 15-16 November 2024

Fauzi “Madrim” Effendy

JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota