Awal Kejutan di Akhir Bulan

    Sumber: foto pribadi

Beberapa hari sebelumnya kutemukan lantas kubaca sebuah kalimat di sosmed, seperti ini :

“Ikhtiar itu perbuatan, rezeki itu kejutan”.

Sesaat setelah membaca kalimat tersebut seolah diriku mendapatkan petunjuk, termotivasi dan memantik semangatku untuk kembali berjuang menikmati syahdunya akhir bulan.

Kemarin, bertepatan pada hari Kamis tanggal 28 November, di saat diriku sedang menikmati kesyahduan perjuangan di akhir bulan, terjadi di antara pagi hingga siang dengan selang waktu yang tak lama, aku mengalami setidaknya dua kali kejutan.

Ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan antara kejutan pertama dan kejutan kedua. Namun bersamaan dengan itu juga kutemukan persamaan di antara kejutan pertama dan kejutan kedua tersebut.

Sebaiknya kurinci saja supaya lebih memudahkan pembaca memahami letak perbedaan dan persamaan di antara kejutan pertama dan kejutan kedua.

Karena ketika kujelaskan dalam bentuk cerita, yang terjadi biasanya akan semakin melebar seperti badan, tak jelas arah tujuan seperti uripe sahabat terbaikku, Cak Nanang, hehehe…

Okee langsung saja. Begini rincian perbedaaan dan persamaan di antara kejutan pertama dan kejutan kedua, yaitu sebagai berikut :

Pada kejutan pertama diawali dengan uluk salam kemudian aku meresponnya dengan kalimat syukur, berbeda di kejutan kedua tidak diawali uluk salam tapi dengan saling tuding sangka. Namun di antara keduanya aku merasa diperjalankan untuk bersilaturahmi kembali dengan dua orang yang sama-sama pria dan sama-sama mengenalku sudah cukup lama. Mereka juga sama-sama lebih dahulu untuk datang menghampiriku. Yaa, mungkin karena gerak lambatku sebab badan yang cukup lemu.

Di kejutan pertama aku yang diajak berfoto selfie, berbeda di kejutan kedua aku yang mengajak foto selfie. Namun di antara kedua foto selfie yang kami lakukan, terjadi tanpa kami sengaja, ternyata sama-sama berposisi landscape.

Di kejutan pertama yang terjadi adalah tegur sapa, saling tanya kabar sembari bercerita tentang keadaan masing-masing, berbeda di kejutan kedua aku yang cukup banyak bicara, terkesan terlalu mendominasi dan pria itu menanggapiku cukup dengan beberapa kata saja yang jika disambung menjadi kalimat pun tak cukup bagiku tuk menjadi bahan pemuas sebuah kerinduan. Namun di kejutan pertama dan kejutan kedua sama-sama terjadi cukup singkat, padat dan berakhir di waktu yang pas.

Di kejutan pertama dan kejutan kedua aku bertemu pria yang berbeda, namun pria di kejutan pertama dan pria di kejutan kedua, tanpa sengaja, sama-sama memberiku pengertian dan sudut pandang baru yang cukup bermanfaat, untuk menjadi bekalku dalam menjalani proses sinau terhadap beberapa kejadian yang sedang kualami di akhir bulan ini.

Kejutan pertama dan kejutan kedua yang kualami kemarin itu, menjadi sebuah rezeki atas ikhtiar yang sudah dan sedang kulakukan di akhir bulan.

Tak lama kemudian kulanjutkan perjalanan menuju pulang, setibanya di rumah, kejutan yang lain terjadi lagi. Dalam batinku, “Terimakasih, telah senantiasa hadir, menemani mengiringi kesyahduan perjuanganku di akhir bulan.”

 

Lukman Adhi MI (Kaji Bombom)

JM Damar Kedhaton tinggal di Kedamean, Gresik