Langgeng Hingga Anak Cucu : Harapan di Milad 8 Tahun Damar Kedhaton Gresik

Sumber : Foto/Dokumen DK

Malam di Juni 2017 terasa lebih panjang dari biasanya di sebuah warung kopi sederhana milik saya. Warung kecil itu, yang biasanya hanya diisi obrolan ringan pelanggan setia, mendadak kedatangan tamu-tamu tak dikenal.

Mereka memperkenalkan diri satu per satu: Cak Gogon, Mas Dedi, Cak Teguh, dan lainnya. Nama-nama tersebut, kini melekat dalam ingatan saya sebagai punggawa Lingkar Maiyah Damar Kedhaton, sebuah forum maiyah yang waktu itu baru saja berumur sekitar enam atau tujuh bulan.

Kedatangan mereka membawa tujuan sederhana, tetapi sarat akan makna: mencari dan menyambung silaturahmi paseduluran dengan para penggiat Jamaah Maiyah yang masih tersebar dan belum mengenal lingkaran ini. Di tengah perjalanan mereka menjelajah dari satu tempat ke tempat lain, langkah mereka akhirnya sampai ke Dusun Tlogobedah, Desa Hulaan, tempat saya tinggal saat ini.

Malam itu, obrolan kami mengalir ringan tetapi mendalam, dipenuhi tawa, renungan, dan visi ke depan. Tanpa terasa, waktu berlalu hingga tengah malam. Sebelum berpisah, kami melakukan survei kecil-kecilan ke sebuah lokasi yang saya rekomendasikan untuk menggelar rutinan Majelis Ilmu Telulikuran berikutnya – kegiatan bulanan Lingkar Maiyah Damar Kedhaton yang bertepatan dengan momen bulan Ramadhan.

Pada momen Telulikuran saat itu, tema yang diusung adalah “Pasane Sepi, Riyayane Rame”. Seiring berjalannya waktu, saya semakin larut dalam perjalanan Damar Kedhaton. Forum ini tidak sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang di mana, kegelisahan saya menemukan rumahnya. Ketika resah menghampiri saya, tak jarang dulur-dulur Damar Kedhaton selalu hadir, membersamai, dan mengingatkan saya tentang nilai-nilai yang menjadi fondasi Maiyah.

Damar Kedhaton bukanlah organisasi, tetapi organisme. Ia hidup, tumbuh, dan terus mengalir. Ini bukan kampus atau tempat perkuliahan, tetapi sebuah majelis ilmu tanpa sekat, yang memberikan wawasan tanpa batas.

Sebuah majelis ilmu yang juga berpedoman pada nilai kemanusian dan tak pernah lepas dari dalil serta hadist – di setiap rutinan, yang diupayakan selalu ada. Dulur-dulur Damar Kedhaton juga dulur yang nyedulur.

Di sini, saya belajar cara berpikir, bersosialisasi, dan menjalani hidup dengan keikhlasan. Dulur-dulur Damar Kedhaton mengajarkan saya untuk berbuat baik setiap hari, tanpa pamrih, tanpa harapan akan pujian atau imbalan.

Hari ini, tanpa terasa, delapan tahun telah berlalu. Semoga Damar Kedhaton terus hidup, menjadi ruang belajar bagi siapa saja yang ingin mendekat. Namun, di balik perjalanan panjang ini, saya masih merasa belum banyak berkontribusi untuk forum ini.

Di milad kali ini, yang bisa saya lakukan hanyalah menyampaikan uneg-uneg dan harapan. Semoga Damar Kedhaton tetap langgeng hingga generasi anak cucu, agar mereka pun bisa merasakan apa yang saya rasakan: belajar, tumbuh, dan menghidupi nilai-nilai di majelis ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik ini.

Damar Kedhaton adalah tempat pulang, tempat di mana cahaya kecil terus menyala, menerangi jalan bagi siapa saja yang ingin berjalan bersama. Semoga, cahaya kecil dari Gresik ini, bisa istiqomah menerangi meskipun terangnya tak seberapa.

 

Fajar Sampoerno (Cak Pitro)

JM Damar Kedhaton tinggal di Menganti, Gresik