Kok Dadakan Gini?

(Cerita di Balik Momen Pertemuan-Kebetulan di Giri dengan Bu Nyai Muzammil)

Sumber : Dokumen/foto Pribadi

Perjumpaan singkat pada siang hari itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya pribadi. Seperti sebuah doa yang mengalir tulus apa adanya. Pada pukul 14.37 WIB, pesan singkat masuk di grup WhatsApp. Cak Fauzi memberi kabar bahwa Bu Nyai Muzammil sedang berada dalam rombongan ziarah, dan baru saja naik ke makam Sunan Giri.

Melalui sambungan telepon, Cak Fauzi sempat ditanya oleh Bu Nyai Muzammil, apakah jarak rumahnya dekat dari makam Sunan Giri. Beliau berniat untuk berkunjung ke rumah Cak Fauzi. Namun, setelah mengetahui jaraknya cukup jauh, akhirnya beliau urungkan.

“Jadi, aku minta maaf ke Bu Nyai, belum bisa merapat menemani,” tulis Cak Fauzi dalam grup WhatsApp.

Oleh karena itu, Cak Fauzi kemudian bertanya kepada beberapa dulur Damar Kedhaton, siapa yang punya waktu senggang, dan berkenan untuk merapat-mendekat ke area makam Sunan Giri untuk menemui Bu Nyai Muzammil.

Kabar yang datang secara tiba-tiba, membuat saya terdiam saat itu juga. Bukan tanpa sebab, di tengah momen terdiam itu—beberapa detik—saya kepikiran banyak hal sekaligus. Termasuk memaknai momen ini sebagai kebetulan yang hadir mengalir begitu saja, tanpa saya rencanakan sama sekali.

Saya menerima kabar ketika sedang ngopi di sebuah warkop sederhana yang tidak jauh dari Giri Kedhaton. Saat itu, saya tengah ngobrol santai dengan teman alumni sepuh Darul Ulum Jombang. Pertemuan ngopi itu sebetulnya sudah kami rencanakan pada dua hari sebelumnya. Hanya saja, belum ada kesepakatan di mana tempat yang cocok dijadikan sebagai ruang untuk bertemu.

Setelah dua hari berlalu, teman alumni sepuh Darul Ulum, Cak Oyik namanya, memberikan pesan kepada saya lewat chat WhatsApp pada pada pukul 11.00 WIB, Minggu (12/1/2025).

“Posisi Pak Wartawan,” chat singkat dari Cak Oyik.

“Padeg, Cerme,” jawab saya.

Adoh e, ndak ada arah Gresik ta?,” tanya Cak Oyik yang ternyata teman kerja ibu saya ketika masih kerja di Pabrik Behaestex dulu.

Awan (siang-red) ada arah ke Gresik,” balas saya memungkasi pada pukul 12.51 WIB.

Pagi Harinya

Di hari dan tanggal yang sama, pagi harinya saya ikut kegiatan Upgrading dan Pra Raker PAC IPNU IPPNU Cerme di salah satu Madin di Desa Padeg, Cerme. Kegiatan yang digelar oleh pengurus periode 2024-2026, dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Kegiatan selesai tepat pukul 13.26 WIB, dan segera saya menelepon Cak Oyik. Dalam obrolan singkat, saya mengajak untuk ngopi sebentar. Urusan tempat, saya manut pasrah bongkok’an saja. Kebetulan, beliau menginformasikan ada rencana ke arah Giri.

Sebelum panggilan telepon saya akhiri, Cak Oyik memberitahu bahwa tidak bisa ngopi berlama-lama. Pukul 15.00 WIB sore, beliau sudah harus bergegas pulang ke rumahnya di Surabaya. Panggilan telepon singkat itu pun saya tutup. Lalu bergegas saya hidupkan motor untuk segera berangkat ke Giri.

Berangkat dari Padeg, saya mengambil rute Jalan Raya Banjarsari, simpang tiga Terminal Bunder, kemudian ambil arah kanan di Jalan Raya Gresik-Babat, lurus ke arah timur hingga pertigaan Masjid Agung Gresik.

Situasi dan kondisi arus lalu lintas memang padat, tapi tidak seramai ketika hari aktif kerja. Beberapa sepeda motor, mobil pribadi, bus Trans Jatim, hingga truk juga saya temui di sepanjang jalur tersebut.

Setiba di pertigaan Masjid Agung Gresik, saya ambil arah kanan menuju JL. Mayjend Sungkono. Dari situ, saya cukup mengikuti rute jalan saja, melewati tikungan Makam Mbah dan Nyai Condrodipo—yang sering dijadikan tempat Sinau Bareng Majelis Ilmu Telulikuran—kemudian melewati sekitar lima tikungan lagi hingga sampai di pertigaan yang mempertemukan tiga jalan; Jalan Mayjend Sungkono, Jalan Kedanyang-Gresik, dan Jalan Sunan Prapen.

Selanjutnya, saya mengambil arah kiri menuju Jalan Sunan Prapen sebelum berhenti sebentar untuk membeli rokok di salah satu warung. Saya menyempatkan diri untuk mengeluarkan handphone dari dalam tas slempang kecil yang saya bawa. Handphone sudah dalam genggaman tangan, rokok sudah saya beli, kemudian notifikasi pesan masuk dari Cak Oyik saya buka. Shareloc yang diberikan lewat pesan WahtsApp, lokasinya bernama Waroeng Black&white.

Di sana, Cak Oyik sudah menunggu saya sambil ngopi. Setelah saya cek, ternyata warung itu hanya berjarak beberapa meter saja dari Giri Kedhaton. Setelahnya, saya memasukkan handphone dan rokok ke dalam tas slempang kecil, dan bergegas ke warung untuk menemui Cak Oyik.

Detik-detik Jelang Pertemuan

Setelah mendapat kabar dari Cak Fauzi, dan mendapat nomor WhatsApp beliau, saya langsung menyampaikan pesan chat singkat kepada Bu Nyai Muzammil. “Sebenarnya, ini peristiwa apa sih?,” gumam dalam batin saya. “Kok semuanya terasa kayak dadakan gini,” lanjut pikiran saya.

Belum tuntas saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, selang beberapa menit Kemudian, Bu Nyai Muzammil langsung menelepon saya. Tidak panjang komunikasi yang berlangsung saat itu, pikir saya, Bu Nyai Muzammil pasti tengah bersantai sejenak di Pendopo Sunan Prapen atau di sekitar Makam Sunan Giri. Dengan berbekal komunikasi singkat, saya langsung meluncur menuju ke lokasi.

Sampai di parkiran Sunan Prapen, saya mematikan mesin sepeda motor sebelum menghubungi Bu Nyai. Ketika komunikasi tengah berlangsung, saya merasa tergopoh-gopoh, semacam kebingungan untuk mencari Bu Nyai Muzammil. Jujur saja, saya belum hapal betul wajah beliau. Memang, pada bulan Desember tahun 2024 kemarin, saya bersama beberapa dulur Damar Kedhaton sempat diperjalankan dan bisa sowan ke ndalem-nya di Bantul, Yogyakarta, sekaligus ziarah ke Makam Kiai Muzammil.

Hanya saja, pada momen itu, tidak ada dokumentasi foto bareng bersama beliau. Karena itu, saya cukup panik ketika menerima kabar bahwa Bu Nyai Muzammil ada agenda ziarah ke makam Sunan di Gresik. Dengan bekal seadanya, saya memberanikan diri dan nekat untuk menemui beliau ketika ketiban momen kebetulan ini.

Benar saja, Bu Nyai Muzammil seakan-akan paham bahwa saya tengah kebingungan. Dalam obrolan lewat telepon, beliau ngendikan akan mengirim shareloc, panggilan telepon WhatsApp pun saya tutup. Setelah mendapat shareloc dari beliau, saya kembali menghidupkan sepeda motor untuk melaju menuju tempat Parkir & Wisata Makam Sunan Giri yang berada di Jalan Kedanyang-Gresik.

Berdasarkan peta Google Maps, dari titik parkiran Sunan Prapen berjarak sekitar 1,2 km dengan waktu tempuh 4 menit. Jam di layar handphone menunjukkan pukul 15.09 WIB. Perjalanan darat kembali saya lakukan. Namun, setiba di sana, saya sempat kebingungan karena beliau masih belum terlihat. Parkiran dipenuhi bus wisata, sementara pangkalan ojek, dan dokar kuda tampak ramai menanti peziarah.

Sumber : Dokumen/foto Pribadi

Dua kali saya menelpon, tapi tak kunjung bertemu dengan beliau. Ketika saya hampir putus asa, akhirnya di kejauhan tampak sosok Bu Nyai di antara deretan bus, panggilan telepon saya akhiri. Dengan langkah cepat, melewati belasan tukang ojek yang siap mengantar peziarah, akhirnya saya bisa bertemu. Saya pun langsung mencium punggung tangan beliau, sebagai bentuk rasa hormat.

“Tadi saya ikut rombongan bus, tapi busnya sudah berangkat. Nggak apa-apa, nanti saya ikut mobil saja,” ujar beliau kepada saya sambil melangkahkan kaki mencari tempat duduk ke arah deretan warung yang berada di sisi barat tempat parkir.

Di sebuah warung kopi sederhana, kami duduk berhadapan dengan batas meja warung berwarna kuning. Tak ada pesanan kopi atau minuman, hanya obrolan singkat yang mengalir begitu alami. Bu Nyai menanyakan kabar teman-teman Maiyah Gresik, dan saya sempat menceritakan sedikit tentang DamPro yang sedang dijalankan awal tahun 2025 ini. Respon beliau sangat positif, “Alhamdulillah, bisa saling bermanfaat,” ujarnya dengan senyum hangat.

Walau ingin bercerita lebih banyak tentang Damar Kedhaton, saya tahu waktu beliau terbatas. Usai ziarah di Gresik, beliau harus melanjutkan perjalanan ke Ampel, Madura, dan Kediri, sebelum akhirnya kembali ke Jogja.

Saya pun menyimak pesan terakhirnya dengan penuh perhatian, “Saya pengennya seperti Kiai Muzammil, bisa silaturahim ke mana-mana. Tapi, saya perempuan, bisanya ya nunut saja. Kalau ke Jogja, jangan sungkan datang ke rumah. Titip salam untuk teman-teman Maiyah Gresik,” katanya memungkasi.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, sehari-hari menjalankan profesi sebagai jurnalis, tinggal di Cerme, Gresik.