Halaman Sebuah Buku

Sumber : https://images.app.goo.gl/LPFukoQ5RA4he6GNA

Saat membersamai anak saya belajar mengenai bab ilusi optik, ada beberapa peristiwa yang saya jadikan catatan penting. Di sana terdapat gambar pensil yang bengkok karena ada air di dalam gelas. Pensil terlihat bengkok itu nyata adanya. Peristiwa itu bisa disaksikan oleh banyak manusia. Saya tertegun lalu tergugah untuk menggali lebih dalam apa itu ilusi.

Pencarian via google menyebutkan bahwa ilusi adalah kondisi ketika seseorang salah memahami rangsangan yang diterima dari panca indra, sehingga tidak sesuai dengan kenyataan. Ilusi bisa terjadi karena cara otak memroses informasi yang diterima mata. Saya berfikir bukan hanya mata saja yang bisa menyebabkan ilusi; pemahaman, menarasikan, atau memetakan, masih ada potensi ilusi. Saya menggarisbawahi  salah memahami.

Salah memahami di sini sering terjadi pada diri sendiri, kelompok maupun komunitas. Setiap kejadian atau kenyataan kerap disalahartikan. Dan itu wajar bagi saya karena manusia melihat dari yang tampak saja. Bagaimana bisa melihat ke dalam kalau piranti alat untuk melihatnya belum lengkap. Ilusi merupakan salah satu fenomena realitas. Hal ini nyata adanya dan bukan tidak nyata. Yang terjadi di sini adalah salah mengartikan, mendefinisikan, menarasikan, memahami karena sumber atau alat masuknya informasi melalui panca indra. Sehingga ada anggapan jika tidak sesuai dengan narasi kita, maka dianggap itu tidak nyata.

Kembali kepada gambar pensil yang bengkok tadi. Jika dilihat pensil itu memang benar-benar bengkok karena peristiwa itu yang ditangkap oleh mata. Bisa jadi merupakan kesepakatan bersama kalau pensil itu bengkok karena sudah terbukti dan disaksikan banyak manusia. Hal ini sudah bisa menjadi alat bukti kenyataan bahwa pensil itu bengkok.

Apakah keputusan ini tepat, belum tentu juga. Dengan berkembangnya pemahaman ada keingintahuan yang lebih mendalam dan kompleks. Maka tidak cuma sekedar melihat namun melakukan observasi terhadap objek. Setelah pensil diangkat, terlihat jelas bahwa pensil itu tidak bengkok. Hal ini bisa dibuktikan dengan tidak hanya dilihat saja tapi juga bisa dipegang. Dan teryata penyebab terlihat bengkok itu karena ada air yang mengakibatkan ilusi optik.

Dalam pertistiwa keseharian sering dijumpai hal-hal atau peristiwa yang ilusif. Sebuah peristiwa yang sama dan nyata, namun karena ada media di sekitarnya yang menghalangi melihat peristiwa itu sehingga timbullah ilusi. Ilusi ini nyata, bukan tidak nyata. Ambil contoh kedisiplinan. Secara spontan disiplin itu berat, penuh perjuangan, kesadaran tanggung jawab, etos kinerja serta kemauan keras. Ilusi sudah terjadi di sini karena terfokus dalam satu hal saja. Misalnya tentang kedisiplinan masuk kerja tidak terlambat. Perlu kesadaran bangun pagi, persiapan setengah jam sebelum jam masuk kerja dan semua atribut yang menunjang demi tercapainya tujuan tidak terlambat masuk kerja. Akan tetapi apakah disiplin seseram dan seberat itu. Ada hal-hal lain yang telah dilakukan secara kontinyu. Berhenti di lampu merah, makan dengan tangan kanan, memakai helm pada waktu naik motor. Hal itu juga merupakan kedisiplinan  yang dilakukan dan seperti mengalir begitu saja. Apa saya yang belum menyadari kalau disiplin itu bisa natural atau begitu berat karena salah memahami disiplin sehingga begitu terasa berat.

“Ayah pertanyaan no 7 ini jawabannya apa?” pertanyaan anak saya mengejutkan saya yang sedang melamun.

26 Januari 2025

Nanang Timur

JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik