fluida batin, tekanan arus kedalaman yang bikin resah diri

Berangkat dari keterbatasan diri—sebagai seseorang yang nekat merawat kegelisahan—saya menemukan resonansi pada sosok Cak Fauzi. Secara pribadi, beliau mampu membidik titik simpul di dalam diri saya yang sering luput saya sadari.
Cak Fauzi datang dari dunia angka, data, dan statistik—wilayah yang menuntut ketelitian, presisi, dan keteraturan. Segala sesuatu seolah memiliki koordinat yang jelas: ada titik, ada sumbu X dan Y, ada garis yang dapat ditarik untuk melihat arah. Dari situlah saya belajar: Cak Fauzi itu jeli, cermat, teliti, dan terukur.
Sementara saya sendiri, (mungkin) berasal dari wilayah yang agak berbeda. Bukan semata karena jurusan kuliah—Manajemen Dakwah—yang berada dalam rumpun keilmuan sosial-humaniora, tetapi karena cara berpikir saya memang lebih akrab dengan bahasa, metafora, majas, dan hiperbola: sesuatu yang kadang sulit diukur oleh angka, tetapi mampu menangkap nuansa rasa dan keresahan.
Meski begitu, saya menyadari bahwa membenturkan dua wilayah ini—sastra dan matematika—sebagai kutub yang berlawanan mungkin kurang tepat. Dari berbagai percakapan dan insight yang saya dapat dari Mas Sabrang, saya belajar bahwa pada konteks tertentu, matematika bekerja seperti Sunnatullah: tertib, konsisten, dan dapat diuji. Hal ini menjadi jembatan bagi saya untuk memahami perbedaan cara berpikir Cak Fauzi dan diri saya sendiri—bukan pertentangan, tetapi jalur yang berbeda menuju tujuan yang sama.
Maka hari ini saya katakan: saya dan Cak Fauzi sedang berjalan menuju tujuan yang sama, hanya melalui jalur yang berbeda.
Di tengah perjalanan itu, muncul sesuatu yang sulit saya jelaskan: letupan sunyi di dalam diri, yang ingin naik ke permukaan. Sesuatu yang terlalu lama diam di kedalaman, menanggung tekanannya sendiri, dan kini ingin muncul—apakah sebagai gagasan, kegelisahan, atau kata-kata yang hendak dilepaskan ke dunia. Kadang rasanya ingin saja saya lemparkan semuanya ke tengah keramaian yang bising dan memuakkan.
Di momen itu, saya teringat tulisan Cak Fauzi: Tak Sekadar Perlu Dibaca, Tapi Ditemani. Di sana ia menulis:
“Tidak semua orang mendengar. Tidak semua yang mendengar mampu menangkap. Dan tidak semua yang menangkap tahu harus berbuat apa dengan apa yang ia tangkap.”
Saya sepakat. Bahkan dengan penilaiannya terhadap diri saya sendiri: tulisan saya mungkin tidak selalu layak dibaca. Namun saya tetap menulis. Saya merawat keresahan, dan melalui tulisan, saya berusaha menjadikan resah sebagai ilmu—sebagai cara untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitar saya.
Barangkali itulah yang ia maksud ketika menutup pesannya kepada saya:
“Terusna, Feb. Karena menulis memang bukan untuk menyenangkan semua orang, tetapi untuk menjaga nyala kecil di dalam diri agar tak padam. Ente sudah menyalakan empat. Lima lagi menanti. Kami tidak sekadar membaca, tetapi menjaga dan menemani.”
Belakangan ini saya sering merasa bahwa pengalaman ini mirip dengan apa yang terjadi di kedalaman samudera. Permukaannya tampak tenang, tetapi di bawahnya tekanan terus bertambah. Arus bergerak tanpa henti. Kedalaman laut, gelap dan hampir mustahil digapai, menyimpan energi yang besar—persis seperti kedalaman batin manusia.
Dalam fisika fluida dikenal konsep tekanan hidrostatis:
P = ρgh
Semakin dalam (h), semakin besar tekanan (P). Air yang tampak tenang di permukaan dapat menyimpan kekuatan yang mampu meremukkan hampir semua benda yang masuk terlalu jauh. Analogi ini—menurut saya—berlaku bagi manusia: semakin dalam menyelami diri, semakin besar tekanan batin yang dirasakan. Namun dari tekanan itulah sebuah gagasan akan lahir—sebuah paradoks eksistensial: kedalaman yang menekan justru menghasilkan energi untuk bertindak, menulis, atau merenung—dalam versi saya.
Laut juga mengajarkan satu hal lain: permukaan yang tenang tidak berarti ketiadaan gerak. Arus besar dan aktivitas tersembunyi terus bergerak, membentuk sirkulasi global. Aktivitas vulkanik bahkan terjadi di dasar laut—jauh dari jangkauan pandangan mata telanjang manusia. Sama halnya dengan manusia: yang tampak di permukaan mungkin biasa saja, tetapi di kedalaman, terdapat tekanan, arus, bahkan letupan yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Saya menyadari bahwa seringkali kita tidak mampu menyelami kedalaman diri sepenuhnya. Tetapi dalam proses itulah kita belajar: belajar memahami, belajar menyalurkan keresahan, belajar menjadikan resah sebagai ilmu. Dari tekanan itulah gagasan dan kesadaran lahir.
Perjalanan ke dalam diri—ke(diri)—adalah perjalanan sunyi yang paling jujur. Entah itu secara jasad maupun ruhani. Ia mengajarkan saya bahwa apa yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan. Dan bahwa melalui ketekunan merawat keresahan, melalui kesadaran akan tekanan, saya (merasa) dapat menjaga nyala kecil di dalam diri, agar tidak padam—dan mungkin suatu hari, nyala itu bisa menyebar ke dunia. Semoga saja.
Tetapi, saya tidak akan berani optimis. Tidak berani memastikan keyakinan itu, karena sudah diingatkan lebih dulu oleh tulisan saya sendiri: Jangan Menagih Kepastian.
Cerme, Sabtu, 7 Maret 2026
Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.