Menyerah untuk Memahami Ruang Jeda, Buntu untuk Bertumbuh
(Tadabbur Daur part 2)

Benar saja, apa yang ditegaskan Mbah Nun melalui tulisan rubrik Daur. Ia seperti kepingan puzzle yang perlu dikuak, disusun, dipasangkan satu sama lain, dipelajari, direnungi, bahkan mungkin boleh saja diurutkan pembacaannya. Namun, semakin saya mencoba menyusunnya, justru semakin saya tidak menemukan bentuk utuhnya. Bahkan, barangkali ia memang bukan untuk disusun seperti itu, berurutan misalnya.
Dari berbagai cara membaca yang saya tempuh, rasa-rasanya mustahil menjadikannya sebagai kerangka konseptual yang tersusun rapi. Saya pun dibuat bertanya-tanya dan penasaran: apakah arah dari masing-masing judul tulisan itu sengaja dibuat oleh beliau berurutan? Ataukah acak? Atau justru harus dicarikan pasangan-pasangannya sendiri?
Jujur saja, pada titik ini saya menyerah. Saya angkat kedua tangan dan mengibarkan bendera putih.
Saya mencoba mendekatinya—rubrik Daur—dengan alur pikir yang logis, tapi gagal. Saya coba resapi dengan roso, dengan seluruh kejiwaan yang saya punya, nyatanya gagal juga. Yang datang justru riuh di kepala sendiri. Penuh. Ndhas ngelu. Cenat-cenut. Seperti dipaksa memahami sesuatu yang mustahil dapat dipahami dengan cara biasa-biasa saja atau pada umumnya.
Barangkali, dan ini adalah bentuk husnudzon saya, tulisan-tulisan dalam rubrik Daur itu memang diracik dengan kelengkapan bumbu roso, juga menajamkan cara berpikir saya sendiri. Ada manis yang menenangkan, tetapi sekaligus ada asam pahit yang bikin saya resah. Bagi saya, tulisan Mbah Nun dalam rubrik Daur tidak hanya ingin dimengerti saja, tetapi juga ingin dirasakan, bahkan perlu untuk digelisahkan.
Hingga tiba saya pada titik pasrah. Sepasrah-pasrahnya.
Sebab, yang saya hadapi dan alami bukan semata kebuntuan berpikir yang rasa-rasanya membuat otak saya mandheg bekerja. Saya seperti berdiri di hadapan tembok yang terlalu tinggi untuk dijangkau. Atau berada di persimpangan jalan yang terlalu banyak pilihannya, tanpa petunjuk arah yang jelas.
Mau belok kiri, khawatir menemu jalan buntu. Mau ambil arah ke kanan, kekhawatiran serupa muncul. Lurus pun tak tampak jalan yang bisa dilewati. Sementara untuk putar balik arah untuk kembali, rasanya saya sudah terlalu jauh melangkah.
Saya cukup kesulitan untuk memaknai, mengintisari, apalagi merangkum maksud dari kandungan muatannya. Namun demikian, saya tetap berikhtiar menepati janji saya: membaur ke dalam Daur. Melanjutkan ikhtiar untuk merenungi 44 judul tulisan yang saya temui, meski belum sepenuhnya mengerti.
Setidaknya dan seminimalnya, saya sedang mencoba melanjutkan satu tahapan kecil: tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan yang saya sendiri belum layak memutuskannya. Singkatnya: menghindar dari keputusan yang tidak benar. Itu yang dimaksud dari satu tahapan sebelum mengambil keputusan yang benar.
Sebagaimana Tahqiq dalam Daur 1 – 286 dengan judul Mewarisi Kelelahan:
“…Pakdhe hanya berhasil tidak ikut keputusan yang tidak benar, tapi belum pernah sampai pada keputusan yang benar…. Jadi bengong dan mubadzir sampai tua….”
Karena saya sudah tidak tahan dengan beratnya muatan yang saya rasakan, saya berupaya membaca secara berurutan beberapa judul dalam sekali duduk: Mewarisi Kelelahan, Anomali Regenerasi, Manajer Tauhid, Bukan Generasi Cangkir, Pemimpin Mbatin Allah, Wali Kok Sedih, Sworo Tanpo Rupo, hingga Garis Lurus dari dan ke Titik Qadar. Alih-alih menemukan kejelasan arah, yang saya rasakan justru seperti sedang berjalan di dalam kabut yang semakin menebal.
Saya merasa butuh pegangan, sandaran, dan tuntunan dengan harapan agar tidak tersesat. Kali ini, saya membutuhkan sesuatu layaknya cermin. Dan, saya kembali kepada Al-Qur’an.
Bagi saya, tulisan-tulisan dalam rubrik Daur itu seumpama lorong gelap tanpa pencahayaan, bahkan tidak ada peta yang jelas. Semacam kepingan puzzle zaman yang belum tentu harus disusun sesegera mungkin. Tak perlu tergesa-gesa. Yang saya rasakan: ia menunggu sesiapa saja yang cukup lapang sabarnya untuk tidak grusa-grusu menyimpulkan makna yang terkandung di baliknya.
Saya mulai curiga kepada diri saya sendiri. Apa jangan-jangan bukan tulisannya yang terlalu rumit dan kompleks untuk diurai, tetapi bisa saja cara saya yang berkeingingan lekas sampai pada kesimpulan akhir setuntas membaca. Terlalu cepat untuk memastikan: ini berurutan atau tidak, ini berpola atau acak, ini harus dipasangkan atau berdiri sendiri-sendiri.
“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit.” (QS. Al-Isra ayat 85).
Ayat yang saya jadikan cermin itu seperti menampar wajah saya. Bukan semata karena apa yang saya resahkan dan pertanyakan dalam konteks roh, memang satu paket ayat tersebut memuat konteks roh. Karena yang saya gelisahkan adalah pemahaman terhadap tulisan dalam rubrik Daur.
Ada lapisan lain yang dapat saya tadabburi, sekaligus menjadi cermin refleksi diri: bahwa segala pengetahuan sekaligus pemahaman, yang saya miliki ternyata sangat sedikit. Dan, sedikitnya itu pun bukan murni atas hasil jerih payah usaha saya sendiri, melainkan wujud pemberian-Nya.
Mungkin yang perlu saya pahami bukan terletak pada narasinya, melainkan pada adanya ego dalam diri saya sendiri yang ingin cepat-cepat sampai pada tahap pemahaman. Padahal, sebelumnya saya juga sudah sadari betul, bahwa pemahaman adalah bentuk rezeki-Nya.
Karena itu, saya mencoba menurunkan ego. Menekan ambisi yang berlebihan, meredam nafsu yang ingin tahu secepatnya. Memberi ruang jeda kepada roso untuk bekerja. Namun, lagi-lagi yang datang justru riuh di kepala. Penuh. Seolah tidak muat menampung seluruhnya. Seperti berputar di tempat yang sama.
Di tengah kondisi seperti itu, muncul satu ayat Al-Qur’an lain yang saya temukan dalam proses pencarian ini.
“Bagaimana engkau akan sanggup bersabar terhadap sesuatu yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentangnya?” (QS Al-Kahfi ayat 68).
Saya diingatkan, barangkali masalahnya bukan pada sulitnya memahami, tetapi pada belum sampainya saya pada cara membaca yang tepat, cara memaknai yang presisi, cara mengintisari yang jangkep. Atau bahkan, saya memang belum diberi waktu dari-Nya untuk memahami. Atau jangan-jangan, rezeki pemahaman itu akan muncul seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, sekaligus pengalaman.
Satu-satunya kepastian yang saya yakini sejauh ini: tidak semua petunjuk-Nya datang melalui mekanisme cara kerja berpikir manusia. Tidak semua makna tersusun rapi layaknya kurikulum pendidikan yang tinggal menelan saja.
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Al-Baqarah ayat 2).
Maka, meskipun belum mengerti sepenuhnya, saya mulai melihat bahwa kebuntuan berpikir ini bukanlah garis akhir untuk putus asa dan menyerah begitu saja. Ia mungkin sebentuk ruang jeda—ruang multidimensional yang belum sanggup saya jangkau seutuhnya.
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji?” (QS Al-Ankabut ayat 2).
Barangkali kegelisahan dan keresahan yang saya alami sejauh ini adalah bagian kecil dari ujian itu. Ujian paling sederhana: apakah saya tetap mau melanjutkan perjalanan, meski belum diberi rezeki pemahaman? Atau justru saya akan memilih mundur karena merasa tidak menemukan apa-apa di dunia ini?
“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah ayat 216).
Untuk saat ini, saya memilih tetap terus berjalan. Bukan karena saya sudah mengerti banyak hal, tetapi karena saya belum ingin berhenti di tengah jalan.
Cerme, Ahad, 5 April 2026.
Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara).
JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengangum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan rela menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.