Menikmati Jalan, Bukan Tujuan

Menikmati Jalan, Bukan Tujuan

(Tadabbur Daur part 4)

“Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah”. (QS. Al Hajj ayat 70). Apa saja tidak mustahil. “Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. An-Nisa ayat 169).

Selasa, 7 April 2026. Seberes memfokuskan diri pada angka, data, juga perhitungan pada pukul 01:34 WIB, saya bergegas pergi ke Gresik wilayah kota. Pengen menikmati kesegaran malam yang sepi dan menenangkan.

Tetapi, saya tidak berlama-lama di sana. Sebenarnya, yang betul-betul saya nikmati adalah suasana di sepanjang perjalanan itu sendiri. Bukan tujuan yang menjadikan sebab kenapa harus ke sana dini hari.

Badan capek, sudah pasti. Kantuk mata sudah pasti saya rasakan. Tetapi, sebenarnya bukan itu yang saya persoalkan. Meskipun, pada titik, skala, konteks, nuansa, dan gradasi tertentu saya pribadi tetap boleh mempersoalkannya: berkelana dini hari hanya demi mencari sensasi kenikmatan suasana Gresik Kota yang sudah lama tak saya cicipi.

Yang bisa saya persoalkan ialah: sudah enak dan nyaman untuk tidur dan beristirahat, kenapa saya malah keluyuran. Padahal, keesokan harinya pun juga bisa.

Tidak lebih dari 30 menit di Gresik Kota, saya pun balik lagi. Tetapi tidak langsung menuju rumah. Di sebuah warung yang berada di tikungan Cerme saya singgahi: membuka laptop, membaca tulisan Mbah Nun dalam rubrik Daur.

Ada semacam dorongan yang membayang-bayangi diri ketika saya menulis: keinginan untuk menepati janji, membaur ke dalam Daur. Tidak masuk akal, tetapi saya wajib mengikhtiarkannya. Apa pun hasilnya, dan kondisi bagaimana pun yang nanti menemui saya, itu soal lain. Tujuan saya sederhana: melanjutkan tulisan Tadabbur Daur.

Karena saya merasa capek, dan lelah, pikiran pun cukup sulit diajak bekerja sama untuk berpikir logis. Karena itu, judul tulisan Daur yang saya baca kali ini saya pilih seenaknya. Tanpa pertimbangan yang logis—hanya mengandalkan: kira-kira judul tulisan mana yang menarik hati saya untuk membaca? Mana yang tampak “seksi” di mata saya?

Dan saya merasa diperjodohkan dengan judul tulisan: Yang Maha Menciptakan Maiyah.

“Di lingkaran organisme kemanusiaan Maiyah yang dianjurkan oleh Markesot agar anak-anak bergabung itu, yang dilakukan adalah bersikap rendah hati terhadap relativitas jangkauan manusia terhadap kebenaran. Tujuan manusia bergaul dengan kebenaran bukanlah untuk memilikinya dan memfanatikkannya. Melainkan apakah ia menjadi manusia yang lebih baik atau tidak—meskipun yang dicapainya hanya separuh kebenaran atau apapun yang pada setiap manusia berposisi belum tentu benar.”

Masih lanjut tulisan yang saya kutip dalam Daur 2 – 309.

“Itu namanya prinsip Tadabbur. Kalau harus melakukan Tafsir, baik-baik saja, asalkan mengikatkan diri pada prinsip Tadabbur: yakni, sesudah menafsirkan, seseorang menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat, seberapapun jangkauannya terhadap kebenaran.”

Kemudian, saya sampai pada tahap mengimani paragraf lanjutannya:

“…… di dalam pengalaman Maiyah di Bumi sendiri sangat banyak keanehan, keajaiban dan fenomena-fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya di zaman dan kurun sejarah apapun. Meskipun, mereka yang berada di dalamnya dan mengalami berbagai keajaiban itu belum tentu mampu merumuskannya.”

Karena modal saya iman—yakin seyakin-yakinnya—maka tak ada alasan logis yang bisa saya ungkap seutuhnya. Meskipun sebagian di antaranya bisa saya catat, dan saya abadikan melalui tulisan. Tetapi itu masih sebagian kecilnya. Mustahil menjangkau keseluruhannya.

Mungkin saja saya bisa merumuskannya—tentu dari sudut pandang subjektif pengalaman saya sendiri. Barangkali ini juga bagian dari wujud Tahadduts Bini’matil Ma’iyah. Misalnya, proses penelitian skripsi saya berjudul: Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Loyalitas Jamaah Pada Komunitas Maiyah Damar Kedhaton Gresik.

Kemudian soal tulisan ini: bagaimana saya ingin tetap menulis, tapi tidak dengan cara yang menyiksa atau terlalu dipaksakan—disangoni Maiyah—yang bahkan mengantarkan saya menekuni aktivitas kerja tulis-menulis.

Dari tulisan pula—yang mau tidak mau saya wajib mengingat akar muasalnya juga mendapat bekal dari Maiyah—saya bisa naik pesawat terbang, ke luar negeri, meskipun hanya ke negara tetangga, ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Kemudian, di tengah keramaian zaman yang bikin pusing pikiran dan batin, yang membuat saya merasa kesepian—di tengah kesendirian itu, justru saya merasa ditemani Maiyah.

Lalu, saya bisa “mudik” ke Yogyakarta untuk menimba kesegaran murni bagi kesehatan pikiran dan batin—hampir rutin—dan itu saya rasakan sebagai nikmat sekaligus berkah Maiyah.

“Berbagai keanehan, kedahsyatan, dan keajaiban peristiwa Maiyah itu bahkan juga mustahil dicatat oleh Seger. Bahan-bahannya saja hampir tidak mungkin dihimpun, jangankan lagi merumuskannya. Sebab lingkaran energi Maiyah hanya bisa dilihat sebagiannya belaka, hanya padatan, yang kasat mata, yang ukuran-ukuran materiilnya, metodologi ilmu, dan pola pandang budayanya bisa dicari. Di luar itu tidak mungkin dicatat oleh ilmu, kata, metode, serta rumusan-rumusan dengan cara bagaimanapun—meskipun sebagai pengalaman sangat nyata, sangat menancap, dan mengalir.”

Pernah Seger memancing tiga Pakdhe melengkapi catatannya: “Dengan banyak keanehan dan keajaiban itu, kira-kira apa yang akhirnya nanti dicapai Maiyah? Apa yang akan terjadi bersama Maiyah di lingkungan masyarakat, ummat, dan bangsanya?”

“Bertanyalah kepada Yang Maha Menciptakan Maiyah”, jawab Tarmihim, “Mbah Markesot bukan yang bikin, dan memang tak mungkin mampu bikin Maiyah”.

Cerme, Selasa 7 April 2026.

 

Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)

JM Damar Kedhaton Gresik, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.