
Sejumlah pemuda dari Desa Wonokerto, Kecamatan Dukun, Kab. Gresik, pada jumat pagi 27 Mei 2016 sudah berkumpul untuk bersiap berangkat ke Menturo. Mereka berniat ndherek mangayubagya pada perhelatan Ihtifal Maiyah, yang sekaligus milad Sang Guru Muhammad Ainun Nadjib. Diniati berangkat lebih awal, dengan alasan yang sederhana: ingin jumatan di luar desa. Tiba di Menturo di sore hari, mereka bergabung melingkar bersama para pegiat Maiyah yang berasal dari pelbagai daerah. Di kesempatan itulah momentum terjadi. Rombongan dari Gresik berkesempatam sowan dan matur ke Simbah, dan menerima arahan untuk menjalin komunikasi lebih intens dengan Mas Alay dan Mas Harianto.
“Sangu” dari Ihtifal Maiyah itulah yang kemudian mendorong Gus Baydhowi dan Gus Himam (salah dua dari pemuda Wonokerto) menginisiasi pembuatan media silaturahim dunia maya bagi sesama Jamaah Maiyah (JM) Padhang mBulan dan BangbangWetan yang berdomisili di Gresik. Grup Facebook dan WhatsApp pun pelan-pelan menyedot balung-balung untuk berkumpul. Proses saling kenal, saling nyambangi, dan saling ngajak ngopi pun terjadi. Memang disadari bersama, bahwa tuning frekuensi dirasa tak cukup memadai jika hanya via ketikan jari tanpa intonasi. Maka, perjumpaan darat kecil-kecilan, diinisiatifi di dunia maya, berlangsung di dunia nyata.

Jejak-jejak para pejalan Maiyah (yang lebih dahulu ada) di Gresik pun coba ditelusuri dengan nawaitu; untuk ngraketna seduluran serta menggandengkan kehendak. Cangkir, sebuah komunitas “cangkruk’an lan dzikir” yang bermarkas di kawasan Ngebret, Cerme, pun teridentifikasi. Cak Syaiful “Bendhul” yang menggiati Cangkir, berkenan bersama menyeiramakan langkah. Abah Hamim Ahmad, Sang Mutiara Tersembunyi di kawasan Panceng, pun disowani dan disuwuni restu. Berkat liputan BMJ edisi Ihtifal Maiyah (Mei 2016), JM Gresik mendapatkan informasi tentang beliau. Sesosok pedagang desa yang dulu pernah menemani Mbah Nun “menggelandang” di Jerman, dan berproses di Patangpuluhan. Pak Kris, pegiat budaya dan sejarah Gresik, yang juga pengagum Mbah Nun dan pernah aktif di Padhang mBulan era akhir ’90an, adalah juga tokoh yang disowani JM Gresik.
Perjalanan proses kemudian membawa JM Gresik melingkar bersama untuk kali pertama, pada 24 Nopember 2016. Bertempat di situs Giri Kedhaton. Dua puluh lima orang berkumpul bersama mencoba memulai membangun kemesraan cinta segitiga, di bumi Gresik. Disepakati bersama oleh mereka untuk melingkar secara rutin setiap bulan pada tanggal 23 kalender Hijriah. Perihal lokasi melingkar, dipilih untuk tidak menetap di satu tempat, alias berpindah-pindah. Pilihan ini diambil mengingat persebaran JM Gresik yang hampir merata secara geografis. Dari 18 kecamatan di wilayah Kab. Gresik, sementara ini teridentifikasi 13 kecamatan yang ada sedulur JM tinggal di situ, yang turut melingkar. Terbentang antara Panceng di utara hingga Driyorejo di selatan, mendorong JM Gresik untuk menggilir lokasi telulikuran, sinambi saling sambang demi rumaketing paseduluran.

Disepahami juga, bahwa perlu terus meningkatkan proses intimisasi melalui jalur ngopi, untuk merekatkan yang memang perlu direkatkan. Juga lahir dari forum di Giri Kedhaton itu, beberapa usulan nama untuk JM Gresik, yang kemudian dibawa pada 8 Desember 2016 (Maiyahan Harlah LPI Nurul Islam Pongangan Manyar Gresik ), untuk dipilih dan dimintakan restu ke Isim Pusat. Di malam itulah, bayi Damar Kedhaton lahir. Dengan bantuan Mas Zakky (Progress), Mas Helmi (Progress), Cak Amin (BbW) dan Cak Lutfi (BbW), perwakilan DK diperkenankan sowan dan nyuwun berkah doa ke Mbah Nun, demi memantapkan langkah awal kelahirannya.
Berkah Maiyahan dirasakan begitu berlimpah bagi para perintis DK. Selang beberapa hari dari kelahirannya, ia mendapat suntikan energi baru. Kang Thobib (Jeddah) sedang mudik ke Gresik. Melalui skenario indah (tak terduga) dari Allah, DK berkesempatan melingkar bareng beliau dengan mengambil tempat di kawasan Terminal Bunder. Kebersamaan dengan Kang Thobib berlanjut saat bareng–bareng sowan Abah Hamim Ahmad di Panceng. Bayi DK yang baru lahir merasa mendapat limpahan, bahkan guyuran ilmu-ilmu / nilai-nilai Maiyah dari beliau berdua. Beberapa potongan kisah Abah Hamim saat membersamai Kang Nun (panggilan karib beliau pada Simbah) sempat dibagikan. Begitu pula dengan Kang Thobib, cerita-cerita beliau saat menemani Mbah Nun dan keluarga menjalankan umroh, memberikan “asupan bekal” tersendiri bagi DK.

DK menepati langkah keduanya, melingkar rutin telulikuran putaran kedua pada 22 Desember 2016, dengan mengambil tempat di halaman MTs Nurul Islam Pongangan, Manyar. Setelah wirid dan sholawatan, mereka bareng–bareng mencicil menelusuri jejak sejarah Gresik. Dengan dipandu Pak Kris, diskusi berlangsung gayeng. Hati kian bergembira ketika Cak Amin dan beberapa sedulur BangbangWetan turut hadir berbagi kemesraan dan ilmu. Cak Amin juga berbagi oleh-oleh dari Silatnas III, yakni dhawuh Simbah agar : Nandur, Puasa, Sedekah. Empat puluhan orang itu melingkar, menyerap mengulas, meresapi, nilai-nilai Maiyah, memupuk-suburkan cinta kepada Allah dan Rasulullah, berlangsung hingga jelang kumandang tarhim.
Semoga nyala kecil dari Gresik ini, bisa istiqomah.
Telulikuran Damar Kedhaton dilangsungkan tiap malam 23 Hijriah, dengan lokasi berpindah-pindah. Untuk silaturahim, terutama JM Gresik, bisa menghubungi Syaiful “Gogon” di 0815-1523-1120.
*) Pernah dimuat di BMJ Edisi Januari 2017
Ahmad Irham Fauzi
JM PB & BbW, dan sedang ikut bergiat di Damar Kedhaton.