
“Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna kanggo mbasuh dodot ira…”
Petuah bijak itu tersurat di tembang “Lir Ilir” yang digubah oleh Sunan Ampel sekira lima abad yang lalu. Kanjeng Sunan memilih sosok penggembala, bocah angon, dan memberinya petunjuk untuk memanjat pohon belimbing. Selicin apapun pohon itu tetap perlu dipanjat, demi memetik buah belimbing untuk dipakai membasuh pakaian sang bocah angon.
Kenapa kok “bocah angon” ? Kenapa bukan Camat, Bupati, Karyawan Pabrik, atau Presiden ? Ataukah memang segala apapun profesi dan kedudukan sosial kita, memerlukan keluasan cakrawala pengetahuan dan keluhuran nilai-nilai serta keuletan skill yang melekat pada sosok bocah angon ? Bagaimana kalau Sampeyan turut menggali dan menginventarisir apa saja tentang kerja “angon” ?
Dan bagaimana tafsir Sampeyan terhadap buah belimbing yang bergerigi lima ? Mengapa bocah angon -meskipun licin- disuruh memanjat dan bukan merobohkan pohonnya ?
Dan fase berikutnya adalah membasuh pakaian. Ya, pakaian adalah salah satu indikator utama martabat kemanusiaan. Manusia yang tak berbusana di tengah keramaian, di pasar misalnya, maka martabatnya sebagai manusia hilang seketika. Andaikata kita dijepit pada situasi yang hanya menyediakan dua pilihan : telanjang tapi kenyang, atau lapar tapi berbusana, maka berbekal akal sehat tentu kita pilih yang kedua.
Bahwa kerap dijumpai orang rela melepas pakaiannya, hilang rasa malunya, demi mengenyangkan perutnya, itulah kasunyatan yang kita hadapi.
Dalam keseharian, kita makin dikepung oleh kekuatan-kekuatan tak tampak yang memproduksi ukuran-ukuran, nilai-nilai, yang jika tak kita patuhi, maka kita tak diakui zaman. Doktrin-doktrin itu tersebar massif melalui sabda para “nabi” bernama iklan di televisi dan internet. Sebut saja misalnya, bahwa ukuran orang cantik kini tak cukup hanya berkulit putih mulus, berambut hitam lurus, berhidung mancung, namun juga ketiak harus wangi dan putih.
Sampeyan sekali waktu perlu posting foto nge-gym, agar disebut bergaya hidup sehat. Sampeyan wajib sekolah hingga ke luar negeri, agar layak masuk golongan kaum berpendidikan. Sampeyan harus update status ajakan tahajud, agar tampak relijius. Ah, Sampeuan tentu bisa menambah deretan contoh-contoh ini.
Begitulah sebagian sisi kahanan yang melingkupi kita kini. Belum lagi jika kita inventarisir persoalan-persoalan “remeh” di kahanan dapur rumah tangga kita, masalah “sepele” di perempatan seberang kampung kita, hingga problem “serius” di konstelasi kenegaraan kita.
Maka bagaimanakah berbagai kahanan itu kita angon ?
Dimulai dari manakah angon kahanan kita kerjakan ?
Pada skala internal diri, apakah tak kalah pelik kahanan yang menuntut kita untuk terus di-angon ?
Dulur… Mari kita genapkan apa yang ganjil, mari kita ganjilkan dari yang terlalu genap. Tetap dalam waa ila rabbika farghab, berkenanlah untuk turut menguntai butir sinau tema Angon Kahanan pada :
Kamis, 12 Oktober 2017
Pukul 19.23 WIB
Balai Desa WedoroAnom
Ds. Wedoroanom Kec.Driyorejo Kab.Gresik