Saya Terus Menulis Karena Saya Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun

Saya Terus Menulis Karena Saya Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun

(Part 1 Berguru Kepada Simbah Secara Kaffah)

Foto: Adin (Dok. Progress)

Melanjutkan apa yang pernah saya janjikan. Janji yang saya buat sendiri—dari diri saya kepada diri saya. Janji itu lahir ketika saya “mengampanyekan” tulisan saya kepada publik luas: “Maka lewat tulisan aku bertuhan.” Salah satu baris terakhir dari puisi yang saya tulis ketika mendaki Gunung Lawu, 21 Agustus 2020.

Saya tidak sedang mengada-ada, apalagi meromantisasi pengalaman lewat “penipuan” kata-kata. Bahkan tanpa mendaki Lawu sekali pun, siapa saja—termasuk Sampeyan—seharusnya bisa meng-ada-kan sebuah puisi atau tulisan dalam bentuk apa pun. Tinggal membubuhkan tanggal, bulan, tahun, dan lokasi; maka tulisan itu sah menjadi saksi keberadaan diri.

Karena itu pula saya tidak heran, bahkan merasa masuk akal, ketika diri saya “diperjalankan” dan “dipertemukan” dengan Damar Kedhaton lewat  Nderes Tema Ngreksa Wasita Sinandhi. Kiai Tohar (Toto Rahardjo) pernah menulis dalam tulisan berjudul “Pertanyaan-pertanyaan yang Mempertanyakan“, dan tulisan itu sengaja saya kutip menjadi landasan sekaligus penguat narasi saya kali ini.

Kalau ada yang bertanya, “Kenapa mengambil rujukan itu?” Saya akan mencari cara aman dengan menjawab: embuh. Mengko lak eruh-eruh dhewe. Heuheu.

Kata Kiai Tohar: “Sebaiknya anakmu dibiasakan untuk selalu mengembangkan ‘pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan’ (the questions of questioning). Karena hal itulah yang mendasari proses yang sejati proses mencari, menemukan, dan menghasilkan pengetahuan, terutama pengetahuan baru dan mencerahkan.”

Jika ditarik agak jauh, dalam tradisi kajian filsafat ilmu pengetahuan, ‘pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan’ biasanya digunakan sebagai landasan pencarian dan penemuan pengetahuan yang lebih dikenal sebagai dalil ‘segala sesuatu harus diragukan’ (omnibus dubitandum).

Dan jika Sampeyan cermat membaca pola tulisan-tulisan saya—khususnya sembilan esai menyambut Milad ke-9 Damar Kedhaton—hampir semuanya saya hubungkan dengan tulisan-tulisan di ibu informasi caknun.com. Saya menduga kuat, asumsi Sampeyan terhadap saya langsung mengarah ke Cak Nun, Mbah Nun, Maiyah, Damar Kedhaton, atau anak-putune Simbah.

Sebagai sesama pe-jalan Maiyah, sing ngaku anak putune Simbah, saya menulis ini bukan untuk kampanye mencari simpatisan, partisipan, atau pengagum Maiyah. Poin saya bukan itu. Saya hanya ingin meyakinkan Sampeyan bahwa seluruh bekal ilmu Maiyah—khususnya lewat tulisan Mbah Nun—sungguh indah, luas, dan tak ternilai. Menurut pengalaman saya, eman-eman jika tidak dimanfaatkan. Minimal dibaca sebulan sekali, bahkan lewat kutipan-kutipan pendek.

Meski begitu, saran saya jelas: jangan terjebak quotes-quotes pendek, apalagi yang tidak bersumber dari akun resmi. Sebab kebenaran yang terpotong sering menyesatkan.

Saat menulis tulisan ini, seketika saya teringat obrolan lewat chat WhatsApp dengan DUlur Ainu asal Ke(diri). Tepatnya pada 21 Mei 2025. Dia membuat status di WhatsApp, isinya adalah link tulisan oleh @rstlhkm berjudul “Surat untuk Sartre“. Seturut dengan status tersebut, ia juga membuat caption singkat yang mengiringi status WhatsApp tersebut.

Tapi, saya sudah lupa, bagaimana narasi persisnya. Maka, karena saya memang bener-bener lupa, mohon Sampeyan maklumi, heuheu. Yang masih saya ingat, ini saja tertolong oleh riwayat chat WhatsApp saya dengan dia.

Saya mengomentari statusnya itu, begini “Hehehhe… Hampir padha ambek aku. Tapi konteks objek yang ditulis, berbeda. Kenapa gak ta’tulis dhewe? Kenapa kok gak langsung nulis waktu itu? Kenapa kok hampir selalu, meremehkan “ide-ide/hidayah” yang turun seketika, tidak untuk ditulis dengan segera..” chat ini terkirim pukul 23.42 WIB.

DUlur Ainu dengan cepat merespon komentar saya, “Dalam hal ini kita lagi-lagi belum kaffah berguru marang simbah (Mbah Nun-red). Cerita dari manteman e Simbah pas acara-acara di Kadipiro dulu: simbah bar mbambung/nongkrong balik omah ga langsung turu, tapi langsung buka mesin ketik,” terkirim pukul 23.43 WIB.

“Betul bangett.. Sudah banyak cerita begitu, bahkan dari saksi hidup Simbah ketika di Jerman dan Patangpuluhan, salah satunya adalah Abah Hamim. Abah Hamim sendiri orang Gresik. Dari tiga kali pertemuanku, ya, ceritanya begitu,” jawab saya, terkirim pukul 23.58 WIB.

Dari situ saya benar-benar merasa disadarkan; menjadi tamparan keras. Saya ini, dengan wani, tatag, dan nekat, dengan penuh kesadaran diri mengaku sebagai pe-jalan Maiyah, sing ngaku anak putune Simbah, tetapi belum kaffah berguru kepada beliau dalam hal menulis.

Karena itu saya berusaha keras masuk secara total dalam kamar belajar menulis. Beberapa bulan menjelang Milad ke-9 Damar Kedhaton, janji saya untuk menulis sembilan esai seperti membuka pintu baru yang amat luas. Saya tenggelam dalam aliran air yang jernih dari tetes-tetes tulisan Mbah Nun. Saya merasakan nikmat, segar, teduh, tenteram, dan tenang.

Seperti kata Wak Syuaib pada Telulikuran edisi November 2025, saat elaborasi tema ‘Ilmun La Yanfa’. “Kita sering tidak sadar bahwa ilmu dari Mbah Nun meluber-luber, memancar deras. Tapi kita hanya berdiri di pinggirnya, tanpa menundukkan diri untuk menadah.”

Itu tepat sekali. Karena saya mendapat banyak sangu dari Maiyah—khususnya tentang tulis-menulis—maka saya mewajibkan diri untuk setia pada proses menggali kesegaran karya-karya Simbah. Bagaimana beliau konsisten produktif? Kenapa beliau bisa menulis begitu banyak? Dari mana nafas spiritnya berasal? Bagaimana cara mengelola ritmenya? Bagaimana cara beliau menangkap ide—tanda-tanda “hidayah”—untuk kemudian ditulis seketika? Dan seterusnya.

Dengan menekuni membaca (khususnya caknun.com) dan menulis apa pun bentuknya, saya sedang berjuang merawat sangu saya sendiri, yang saya dapat dari Maiyah.

Jika Sampeyan berkata, “Saya suka membaca saja, tidak pandai menulis,” saya tidak mempermasalahkan. Pintu-pintu Maiyah itu banyak, luas, dan lebar. Anda bisa masuk dari mana saja. Yang penting: kita belajar secara kaffah kepada Simbah. Total. Menyeluruh. Sungguh-sungguh.

Maka, saya mengajak Sampeyan untuk menikmati, memaknai, dan menadahi tulisan-tulisan dari ibu informasi caknun.com.

Semoga yang saya tulis ini menjadi upaya kecil untuk menunaikan janji saya sendiri:

Maka Lewat Tulisan, Aku BerTuhan.

Kamis, 27 November 2025 (02.23 WIB)

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Guranganyar, Cerme