Rasa Ingin Tahu Itu Apa Boleh Dimaknai Sebagai Mukjizat Era Kini?
(Part 1 Serial Tadabbur, Tazakkur, I’tibar, dan Tafakkur 5w+1H Mukjizat)

Foto diambil oleh Cak Yayak (26/3/2024) 1
Bahwa Menulis Rajutan Harapan pada akhirnya mengantarkan saya pada sebuah momen yang saya sebut sebagai “mukjizat”. Kenapa saya tiba-tiba memakai istilah yang begitu “langit”? Ini bermula ketika tulisan saya dibaca oleh Cak Fauzi, yang kemudian mempertanyakan beberapa kalimat mentahan tulisan saya part 7 (sebelum dimuat di website DK)—tepatnya dua paragraf sebelum bagian penutup.
“So, how?” tanya Cak Fauzi pada Kamis, 27 November 2025, pukul 22.07 WIB.
Pertanyaan sederhana itu muncul dari ketelitiannya membaca alur logika tulisan saya. Ada bagian yang tidak tepat secara faktual, sehingga perlu direvisi agar sesuai persis seperti peristiwa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Sambil berusaha menemukan titik ketidaktepatan itu, saya langsung saja mengetikkan keyword di google: “Mukjizat Maiyah.” Ada upaya spontan untuk mengaktivasi kembali ingatan saya tentang dua kata tersebut. Ingatan yang samar itu hanya menyisakan kata “Mukjizat” pada satu momen Bangbang Wetan edisi Maret 2024, yang pernah saya hadiri.
Karena lupa detailnya, saya merasa perlu memastikan kembali agar uraian saya tentang “mukjizat” tidak keliru. Dari situlah saya kembali teringat Sinau Bareng malam itu, yang digelar di Gedung Pandan Sari, Jalan Raya Kandangan No. 19, Benowo, Surabaya, Selasa, 26 Maret 2024, dengan tema “Memeluk Mukjizat.”
Berdasarkan penelusuran catatan pribadi saya, mukjizat kerap dianggap sebagai fenomena yang melampaui batas pemahaman manusia—sesuatu yang tidak mampu dijelaskan oleh logika atau ilmu pengetahuan yang kita miliki.
Pada malam itu, Mas Sabrang MDP mengajak jamaah melihat mukjizat dari perspektif yang jarang dibicarakan. Beliau menekankan bahwa mukjizat bukanlah sesuatu yang harus membuat kita menyingkirkan akal pikiran, melainkan sesuatu yang perlu dieksplorasi mekanismenya. Secara sederhana, kata Mas Sabrang: Mukjizat Lahir Berawal Dari Rasa Ingin Tahu.
Dan rasa ingin tahu itulah yang saya maknai sebagai mukjizat dalam konteks tanggapan Cak Fauzi terhadap tulisan saya Part 7 Edisi 9 Tahun Damar Kedhaton Gresik. Di tengah aktivitas saya ngladeni customer dan rekap data di J Cellular, saya tetap menyempatkan diri dan menyisakan ruang—pikran dan hati—untuk mencari apa sebenarnya yang dimaksud oleh Cak Fauzi. Ada dorongan alami kepada saya untuk memahami, bukan sekadar menyelesaikan revisi; mengasah alur berpikir agar logis, dan tidak terjebak pada romantisme baper dan ge-er yang tidak empan papan. Karena masih fokus memperjuangkan Fino Alla Fine di J Cellular, maka rasa ingin tahu itu saya simpan terlebih dahulu untuk dieksplorasi di lain waktu supaya fokus saya tidak terpecah.
Dari momen yang tampak remeh temeh itu, saya kembali diingatkan oleh bahan tulisan saya sendiri—catatan pribadi yang dulu saya simpan di handphone saat hadir di Bangbang Wetan edisi Maret 2024. Catatan itu seolah “njawil”, meminta ditengok kembali, dibaca ulang, dan dilanjutkan agar tuntas dijadikan sebagai tulisan serial. Yang pada akhirnya, momen ini juga saya maknai bahwa setiap Tulisan Menemui Takdirnya Sendiri.
Persis chat WhatsApp yang terkirim kepada salah satu orang yang saya anggap sebagai guru, terhitung 616 hari ke masa lalu dengan pijakan pada hari ini, Rabu, 3 Desember 2025. “Ape ta’kirim ke grup DeKa (Damar Kedhaton-red) gedhe, aku khawatir. Ada limitasi penangkapanku dalam membaca apa yang disampaikan oleh Mas Sabrang. Nah, limitasi ini membuatku khawatir. Mengko ndang tulisanku ini berdasarkan opiniku sendiri (setelah ikut hadir langsung di BBW-red)”.
“Semalam, ngetik manual. Semua yang dijelaskan Mas Sabrang di hape. Lalu, sejak siang tadi, dan baru kelar bengi iki sudah ta’poles lagi,” demikian pesan WhatsApp saya terkirim pukul 20.04 WIB.
20 menit kemudian, guru saya itu menjawab, “Siapapun, menuliskan apapun, termasuk menceritakan peristiwa semalam, tentu harus dibaca dalam kerangka limitasi penulis. Jadi, limitasi yang kau rasakan bukanlah kendala yang menghambatmu mengirimkan tulisan itu ke grup DK”.
“Ada soal lain, menurutku, yakni eman. Tulisan yang begitu panjang—dan tentu saja berharga itu—jika dilesakkan begitu saja di grup, rasane sing maca akan kewaregen. Malah bisa-bisa, belum tuntas baca sudah enggan lanjut sebab melihat (tulisan-red) sebegitu panjangnya. Eman kan?”.
“Maka, kalau boleh aku mengusulkan, jadikan itu sebagai bahan baku, lalu kau olah menjadi sekian seri tulisan—yang masing-masing lebih pendek, tapi lebih reflektif—untuk dimuat di website damarkedhaton.com.”
3 Desember 2025
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.