Membaca Reminisensa dari Pintu Halaman 9
(PART 7 EDISI 9 TAHUN DAMAR KEDHATON)

Secara Tak Sengaja. Demikian judul salah satu puisi karya Mas @madno_wk dalam buku terbarunya, Reminisensa.
Mungkin Sampeyan bertanya-tanya: mengapa judul itu yang saya pilih sebagai status WA? Apakah puisi-puisi lainnya tidak sepadan? Tentu tidak. Banyak judul lain yang tak kalah kuat dan menohok punya daya letup magisnya. Tetapi mengkhususkan satu judul tidak selalu mengikuti pertimbangan selera; terkadang ada sesuatu lain yang menyentuh lebih dulu, muncul tanpa aba-aba, dan—secara tak sengaja—menjadi pintu masuk menuju lapisan-lapisan lain yang sebelumnya tak terbaca sama sekali.
Teori tentang puisi, ragam bentuknya, hingga sejarah panjang kelahirannya, bertebaran dalam berbagai buku dan penelitian. Namun kegelisahan saya yang tampak remeh dan personal ini tidak layak untuk Sampeyan baca, terutama di tengah hidup yang memaksa banyak orang berkejaran dengan realitas pahit yang wajib diperjuangkan; situasi dan kondisi yang tak menentu. Misalnya mencari pekerjaan, menafkahi keluarga, menyekolahkan anak, mengurus cicilan, dan segala rupa beban hari-hari.
Tulisan ini pun lahir dengan cara yang sama seperti Menulis Tanpa Arah Tunggal. Spontan, tanpa rencana, tanpa kerangka garis besar. Jujur saja, tulisan ini memang tidak layak dibaca. Seperti kata Cak Fauzi dalam tulisannya, Tak Sekadar Perlu Dibaca, Tapi Ditemani.
Apakah saya hanya haus perhatian? Ingin divalidasi? Atau berharap diperhatikan? Silakan berspekulasi. Saya tidak peduli. Saya menulis untuk menepati janji pada diri sendiri. Maka Lewat Tulisan Aku BerTuhan. (Puncak Gunung Lawu, 21 Agustus 2020).
—
Kembali ke status WA itu. Mengapa foto judul puisi Secara Tak Sengaja yang saya pilih? Padahal ada banyak halaman lain yang tak kalah menggetarkan isinya.
Saya pun tidak merencanakannya. Saat membuka halaman itu, ada semacam getaran kecil yang langsung menancap di benak hati dan pikiran. Berulang kali saya baca isinya. Tak disangka, sepertinya, getaran yang saya rasakan itu bersinggungan dengan momen Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik. Itu saya maknai ketika melihat tulisan puisi itu dimuat di halaman 9.

Bukan romantisasi angka. Bukan pula klenik. Hanya permainan utak-atik gathuk batin yang muncul tiba-tiba dan terasa begitu presisi ketika saya maknai.
Jujur saja, alur tulisan yang saya buat terkadang memang perlu dibiarkan liar. Tetapi itu bukan tanpa risiko. Pembaca bisa hilang arah, terlempar, atau gagal menautkan persambungan maksud yang jelas. “Namun, membiarkan tulisan tetap liar, bukanlah tanpa risiko. Pembaca bisa hilang arah, bisa tersingkir di tengah. Dan saya percaya Febrian paham betul soal itu,” tulis Cak Fauzi.
—
Di titik itulah Reminisensa, barangkali, mulai membuka struktur resonansinya kepada diri saya. Ada rangkaian pertemuan–perjodohan–kebetulan yang membentuk radar sensitivitas yang muncul. Garis itu melintas pada tiga koordinat pengalaman batin-lahir yang saya alami: Njoso, Jogja, dan Kediri.
Njoso menjadi titik pijak mulanya, latar yang membentuk akar radar sensitivitas terhadap gelombang-gelombang yang tidak tersurat itu. Saya dan DUlur Ainu, punya latar belakang dari sana.
Sedangkan Jogja adalah tempat DUlur Ainu menjalani studinya S1, sekaligus kota yang mempertemukannya dengan Mas Madno. Di sana, jejaring resonansi pertama terbentuk—yang, entah bagaimana, ikut memantul kepada diri saya sejak sebelum nama Mas Madno sampai di telinga.
Dan Ke(diri) sepertinya menjadi titik krusialnya. Setelah bertahun-tahun hanya mengikuti jejak lewat dunia maya, saling tegur sapa lewat medsos, dan pertemuan fisik dengan DUlur Ainu akhirnya terjadi di kota itu. Pertemuan sederhana yang kemudian menyangga jembatan antara pengalaman batin-lahir saya di Njoso dengan lingkar pertemanan Ainu dan Mas Madno di Jogja.
Dari jembatan itulah “kedekatan” saya dengan Mas Doktor muda—yang gemar memancing ikan—muncul, bukan dari tatap muka, melainkan dari topografi lembut perjalanan batin. Sebuah pola yang tampak acak-acakan, tetapi terasa begitu rapi, seperti jarak yang menyelesaikan diri. Di sini, saya sendiri yang mengaku “dekat” dengan Mas Madno.
Poros Bangkalan–Jombang–Jogja kembali berdiri sebagai garis edar orbit yang tarikan energinya sangat kuat, dan terasa sangat nyata. Dan seperti banyak hal lain dalam hidup, semua kerangka tulisan yang saya buat ini berawal dari DUlur Ainu asal Kediri.
—
Jika Sampeyan tiba di bagian akhir tulisan ini, mungkin Sampeyan telah menjadi bagian dari rangkaian “pertemuan–perjodohan–kebetulan” yang sama. Sebab hal-hal besar saya kira, umumnya, banyak yang datang secara tak sengaja—tanpa aba-aba, tanpa rencana, tanpa prediksi.
Termasuk tulisan saya satu ini. Termasuk buku itu. Termasuk pertemuan kami. Dan, barangkali, termasuk Sampeyan yang membacanya.
Pada akhirnya, hidup jarang memberi penjelasan yang tuntas. Ia lebih sering bekerja lewat tanda-tanda kecil, tapi berpola. Terkadang samar, kadang begitu terang benderang. Ngreksa Wasita Sinandhi, yang menunggu kita tangkap dengan kepekaan cermat tanpa terburu-buru.
Tidak semua pertemuan memerlukan alasan, dan tidak setiap pengalaman menuntut adanya penjelasan. Sebagian hanya meminta kita memberi jarak, memberi waktu, dan memberi ruang: untuk didengarkan, dimaknai, dan ditadabburi.
Secara Tak Sengaja menjadi salah satu celah kecil itu, yang saya maknai. Pintu yang tampak remeh, tapi ketika saya masuki justru membuka jejaring pengalaman yang selama ini berserakan: Njoso, Jogja, Kediri; Ainu; Mas Madno; hingga buku Reminisensa yang memantulkan semuanya kembali seperti cincin. Dari rangkaian yang tampak acak itulah, saya belajar bahwa hal-hal baik kerap datang tanpa aba-aba, namun tidak pernah sepenuhnya tanpa arah.
Ada masa ketika hidup terasa seperti sebuah jaringan benang yang diam-diam menjahit pertemuan, menunda sebagian, mempercepat lainnya, dan mempertemukan sisanya tepat ketika kita siap membacanya; ketika kita siap menerimanya. Tulisan ini hanyalah upaya kecil saya untuk menangkap kembali jejak pola-pola itu—bukan untuk menuntaskan makna, tetapi untuk mengakui bahwa ada pola-pola besar yang terus bekerja, meski belum selesai terbaca.
Dan jika tulisan ini tiba kepada Sampeyan, mungkin Sampeyan pun adalah salah satu titik dalam jaringan itu: bukan kebetulan, tidak sepenuhnya perencanaan. Sesuatu di antara keduanya. Semoga saja begitu.
Saya kira—dan barangkali juga saya yakini, meskipun keyakinan itu tidak harus menjadi keyakinan orang banyak—bahwa tulisan ini lahir pada waktunya. Bahwa ada rasa “ayem tentrem” yang menuntun tangan saya untuk menuliskannya sekarang.
Karena menulis, bagi saya, adalah bagian dari ikhtiar jangka panjang. Bukan sesuatu yang dikerjakan dengan grusa-grusu seperti arus media sosial yang sekali viral lalu lekas hilang dari ingatan. Meskipun saya sadari juga pernah masuk dalam lingkar arus tersebut. Maka, pada titik-titik tertentu, saya menyebut aktivitas menulis adalah cara memproses takdir anak cucu, dan menulis rajutan harapan, setekun mungkin.
Saya pernah disebut sebagai penulis generasi kedua, didampingi seorang “senior” yang sabar membimbing sejak tahun-tahun awal Damar Kedhaton. Delapan tahun berlalu, dan rezekinya mengalir ke profesi saya hari ini: bekerja di dunia tulis-menulis sebagai wartawan—meski saya sendiri tidak menggantungkan identitas pada sebutan itu.
Pada akhirnya, sebutan boleh ada atau tidak. Saat tulisan ini disiapkan, di Gresik akan berlangsung Uji Kompetensi Wartawan (UKW) pada 25-26 November 2025. Dan saya memutuskan untuk tidak mengikutinya, padahal peluangnya masih terbuka lebar. Mungkin keputusan itu tampak “nekat”, namun bagi saya setiap pilihan harus sejalan dengan arah batin yang sedang saya perjuangkan.
Karena menulis, bagi saya, tetap sebagai jalan pulang. Jalan bertumbuh. Jalan mempertajam harapan. Dan barangkali, jalan untuk menjaga ketenteraman itu tetap hidup dalam diri sendiri.
Gresik, 22 November 2025
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton tinggal di Guranganyar, Cerme