Sudah Saatnya Kita Disapih

Sudah Saatnya Kita Disapih

(Part 2 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)
Foto : Adin (Dok. Progress)

Mbah Nun punya rekam jejak sejarah perjalanan yang begitu panjang di Indonesia sejak usia muda. Begitu banyak—bahkan terlalu banyak—untuk seluruhnya ditulis demi memotret perjalanan beliau. Sebut saja beberapa di antaranya; Lautan Jilbab, Kedung Ombo, hingga Reformasi 1998. Itulah bekal yang kemudian membuat cara baca beliau terhadap zaman tak pernah dangkal. Jika melihat rentetan peristiwa yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, saya kira Sampeyan semua sudah tahu dan tidak perlu lagi untuk memetakan persoalan apa saja yang sedang terjadi di sekitar kita: jalan buntu, frustasi, dan putus asa seakan menjadi menu makanan wajib yang kita lahap dalam sehari.

Melanjutkan ikhtiar untuk Terus Menulis Karena Saya Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun adalah sesuatu yang tak mungkin saya sangkal. Justru saya merasa perlu mewajibkan diri untuk terus belajar dan membaca—iqra’ secara jangkep. Bagaimana mungkin saya yang masih sangat muda ini—dibandingkan dengan pengalaman beliau yang sudah sepuh oleh tempaan sejarah—berpikir mampu menyamai? Saya ini hanyalah butiran debu yang beterbangan di bekas jejak kaki beliau.

Bekal, berkah, dan sangu dari Maiyah pun sudah sangat banyak saya ambil, terima, tampung, dan endapkan. Sayangnya, yang mampu saya terapkan masih sangat sedikit. Terlalu sering justru saya abaikan, bahkan saya lupakan. Sungguh kurang ajar rasanya.

Saya pernah tiba di momen “tegangan tinggi” untuk menerapkan ilmu-ilmu Maiyah dengan tujuan eksternal, untuk mengubah lingkungan sekitar. Ternyata tidak mampu, dan tidak bisa. Bukan karena bekal yang dibawa tidak berbobot atau ber-value dan relevan dengan zaman, tetapi karena saya masih terjebak oleh ego dan ambisi. “Jangan-jangan ini ego pribadi. Jangan-jangan ini hanya ambisi untuk memuaskan diri,” gumam saya.

Lalu saya seakan ditampar keras oleh dhawuh beliau, yang dengan terang benderang ditulis (dari CN kepada anak-cucu dan JM. Yogya, 7 Pebruari 2016), dalam tulisan Anak Asuh Bernama Indonesia.

“Bahwa keberhasilan dan kebahagiaan hidupmu tidak terutama tergantung pada keadaan-keadaan yang baik atau buruk di luar dirimu, melainkan tergantung pada kemampuan ilmu dan mentalmu menyikapi keadaan-keadaan itu.”

Saya sangat meyakini betul bahwa berkah barokah Maiyah itu sangat nyata. Minimal, ia terasa menyejukkan di ruang kedalaman batin. Tanda-tandanya itu sejatinya sudah teramat jelas, dan terang benderang. Tetapi, dalam konteks ini saya tidak bisa menuliskannya secara detail soal itu. Saya sedang terus belajar memosisikan diri agar mampu tersambung dengan koridor frekuensi Menyimak Kata Hati.

Pertanyaan berikutnya muncul: bagaimana mendengarkan kata hati? Dalam tetes yang ditulis oleh Mas Sabrang, “Lihatlah sesuatu sebagai apa adanya. Kelihatannya ini sederhana. Tapi itu tingkat yang menurut saya sangat susah. Karena saat kita melihat sesuatu, itu pasti muncul sebuah konsep di dalam pikiran kita.”

Pertanyaan kedua pun muncul kepada diri saya sendiri, “Apa yang akan kau lakukan dari bekal dan sangu yang kau yakini barokah itu?” Pertanyaan-pertanyaan ini justru menimbulkan kegelisahan. Saya khawatir kualat jika tidak dengan sungguh-sungguh mengamalkannya.

Dulu, saya selalu rindu mendengar dhawuh dari beliau langsung, baik dalam Sinau Bareng CNKK, ataupun rutinan Majelis Ilmu Masyarakat Maiyah seperti di Padhangmbulan, dan Bangbang Wetan. Atau setidaknya menyimak lewat kanal YouTube CakNun.com atau ketika beliau di Kenduri Cinta—ketika jauh dari jangkauan secara jarak peta geografis untuk didatangi.

Itu terjadi saat saya masih kuliah di Surabaya, dan saya selalu berusaha agar bisa hadir demi mendengar keteduhan pesan-pesan dari beliau di tengah terik panasnya zaman. Ngalap Berkah dari Cak Nun atau saya menyebut sebagai bentuk ikhtiar belajar kepada Mbah Nun secara kaffah. Total. Sungguh-sungguh. Terus berjalan.

Beberapa tahun belakangan ini, tidak hanya saya, Sampeyan sing ngaku anak-putune Simbah atau JM, tentu sangat rindu sekali untuk memandang keteduhan wajah beliau. Rindu pada petuah-petuah yang menyegarkan hati; yang mampu mengisi ulang energi semangat ketika diri ini merasa ingin menyerah.

Saya sendiri banyak mengalami hal itu. Misalnya, ada banyak sedulur baru yang saya temui dan diperjumpakan dalam silaturahmi di Maiyah, seperti Mawali Pisang dan Kitab Dipertemukan dalam Ruang Pewaris Cincin.

Ada banyak ilmu, bekal, beserta spirit yang saya dapat dari Maiyah dan Mbah Nun. Bagi saya pribadi, Maiyah adalah sebuah laboratorium kehidupan. Ia dapat dijadikan sebagai arena untuk mengeskplorasi banyak hal, terutama melalui Damar Kedhaton Gresik. Saya bersyukur diperjalankan dan dipertemukan untuk terlibat di dalamnya.

Sependapat dengan yang ditulis oleh Mas Fahmi Agustian Kenduri Cinta, “Sudah bukan saatnya lagi kita sebagai Jamaah Maiyah, anak ideologis Cak Nun menuntut untuk disuapi lagi oleh beliau. Sudah saatnya kita disapih, sudah saatnya kita yang meneruskan nilai-nilai perjuangan Cak Nun. Nilai-nilai yang kita yakini di Maiyah ini.”

Sebagaimana Mbah Nun, yang tidak pernah mencita-citakan kapan benih yang sudah ditanam itu akan tumbuh dan berbuah, apakah beliau akan menikmati panennya atau tidak, justru proses menanamnyalah yang beliau nikmati.

Gresik, 5-6 Desember 2025

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.