Menepi dari Puisi, Menyapa Syafaat, Mewiridkan La Ubali
(Part 6 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)

Seharusnya, tulisan part 6 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun ini berurutan melanjutkan part 5 sebelumnya, yakni tentang Menepi ke Kehidupan Puisi. Tetapi, masih saya simpan saja sebagai bentuk keresahan. Bersyukur dan beruntung, bahan mentahan itu tiba di hadapan saya untuk nantinya akan saya olah dan kembangkan lagi. Bismillah, mohon do’a.
Kendati bahan mentahan ini hanya saya baca sekilas dari judul tulisan Rezeki Perjumpaan dengan Umbu dan Kyai Ghozali, tapi rasa-rasanya batin saya bergetar hebat. Seperti kesetrum tegangan listrik berkekuatan daya watt yang tinggi.
Sebagai pengingat diri saya sendiri, maka berikut kutipan tulisan Umbu Landu Paranggi dalam bahan mentahan tulisan yang saya maksud; “M (sebutan untuk Emha) itu sudah betul. Memang jalan sunyi itulah. Dia selalu optimis. Anda bayangkan 22 provinsi lho. Tentang plot road generasi 80-an sudah betul, ya. Jadi biarlah kita ini, yang lain-lain, yang tuwek-tuwek, mbah-mbah, ayah-ayah, om-om, paman-pamannya itu kacau balau, ya sudahlah, biarlah ini yang nyelonong-nyelonong ini anak-anak muda, yang mendidik dirinya sendiri. Ketemu sendiri. Negara yang besar ini hanya bisa ditolong oleh orang yang jujur, mereka yang setia. Kita yang tua-tua ini supaya kuliah sama pohon-pohon. Masak masih cengegesan itu lhoo”—Umbu Landu Paranggi.
Ketika coba saya ingat-ingat lagi, judul tulisan yang sementara saya simpan endapkan sebagai bahan mentahan tulisan selanjutnya, agaknya cenderung cocok sebagai persambungan lanjutan dari tulisan Part 4 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun. Jujur saja, saya kebingungan. Gelisah datang menyergap begitu saja. Bahkan, rasanya saya seperti kehilangan arah, mau dibawa ke mana tulisan itu?
Sempat hal tersebut saya curhat-kan di grup Pawon – DK, sambil nyolek Cak Fauzi untuk meminta arahan, saran, dan masukkan. “Kirim saja,” responnya.
Kembali fokus pada tulisan Part 6 ini, saya bersyukur hidup di zaman perkembangan media sosial. Saya tidak perlu repot mencari jejak sejarah saya di masa lalu. Pada tulisan part kali ini, saya diingatkan oleh fitur kenangan di akun Instagram saya. Kenangan itu terjadi delapan tahun lalu, persis di tanggal 30 Desember 2017.
“Monggo sinau bareng”, demikian tulisan singkat dalam status Instagram saya.
Pada saat itu, saya diperjalankan untuk hadir dalam Sinau Bareng Cak Nun & KiaiKanjeng dengan tema “Guyub Rukun Seduluran”, lokasinya di Pasar Burung Bratang, Surabaya. Saya lupa, dengan siapa saya hadir di momen tersebut.
Yang pasti, saat itu saya masih kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya. Do’a saya, semoga Tuhan melimpahi kegembiraan batin kepada sosok teman yang saya lupa, yang saat itu juga hadir.
Saya kemudian berupaya menelusuri catatan momen Sinau Bareng di caknun.com. Syukur alhamdulillah, ada tulisan yang memotret situasi dan kondisi Sinau Bareng Cak Nun & Kiai Kanjeng dalam rangka Maulid Nabi Muhammad Saw.
Dalam kesempatan itu, Mbah Nun mengajak kita memahami logika dan wujud-wujud syafaat dalam hidup. Beliau memberi perspektif mempelajari Sirah Nabawi, bagaimana melihat Nabi bukan dari posisi Nabi, agar kita tidak mengatakan, “ya wajar, namanya juga nabi.”
Rahasia syafaat mengandung pelajaran bahwa hidup tidak sesederhana yang kita perhitungkan. Tidak hanya menurut kalkulasi ekonomi dan politik. Ada perhitungan lain yang sama sekali berbeda. Yakni, dengan bershalawat, kita akan mendapatkan perhitungan-perhitungan yang lain yang tak terduga.
Seturut dengan tema yang disinaui, tradisi Maulid Nabi diperkembangjan kandungannya: ilmu, kegembiraan, kebersmaan, dan dimensi-dimensi lainnya. Akan berjalan terus, bergulir dari zaman ke zaman. Abadi mengarungi lorong-lorong waktu. Dijalankan, dihidupkan, dan memberi makna bagi setiap orang yang mensetiainya.
Bahwa, kedatangan Nabi Muhammad Saw saat itu di Madinah disambut dengan gembira dan suka cita. Masyarakat sana menunjukkan wajah cerah berseri-seri seraya mengucapkan Thala’al badru ‘alaina min-tsaniyatil wada/wajabasy syukru ‘alaina..
Dalam lafal yang sering kita lantunkan itu, terdapat kata-kata ayyuhal mab’utsu fiina… (Duhai sosok yang diutus Tuhan kepada kami). Ya, sosok lelaki itu tidak lain adalah utusan Allah, dia adalah Muhammad Saw.
Menurut hemat Mbah Nun, kegembiraan itu bersifat universal, cair, dan menyentuh lapisan setiap jiwa manusia. Muhammad dikenal sebagai pribadi manusia yang baik dan penuh kasih sayang.
Lalu disambung ke kisah hikmah tentang seorang pelacur yang masuk surga karena menolong anjing kehausan menjadi jembatan pemahaman tentang kebaikan yang bersifat universal. Bahwa melakukan kebaikan yang menggembirakan dan kegembiraan yang baik, itu tidak penting dari sumur mana air itu diambil, tetapi bagaimana pentingnya air itu diulurkan.
Pesan ini menjadi penting, dan ditekankan oleh Mbah Nun ketika kita melihat kondisi sosial-politik yang gemar saling menghancurkan kepada yang berbeda dengan kita. Di mana, pada konteks itu, kita hanya mau menolong mereka yang sama dengan kita. Kondisi seperti itu tak ubahnya seperti yang digambarkan Al-Qur’an: tahsabuhum jami/an wa qulubuhum syatta.
Beberapa poin padatan yang saya tulis dalam tulisan part 6 hari ini, Selasa 30 Desember 2025, mengantarkan saya pada tulisan edaran informasi Mbah Nun pada November 2010. Momen di mana saat itu Gunung Merapi sedang nduwe gawe. Adapun tulisan yang saya maksud: Maiyah Cinta Segitiga dan Abadi Meyakini Wa’dullah dan Syafa’at Rasulullah.
Butiran-butiran padatan itu antara lain: logika peta syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad Saw, segitiga cinta sebagai ilmu dasar Maiyah, Surat Al-Hasyr, dan konsentrasi lelaku Maiyah. Jika dipadatkan lagi dalam versi saya, tulisan part 6 ini bermuara pada dua hal:
- “Asalkan tidak ada kemarahan dari-Mu kepadaku, aku tidak peduli.”
- “…Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr ayat 18)
Bersambung…
Cerme, 30 Desember 2025
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.