Maiyah yang Bekerja di Dalam Diri Seorang Anak TK
(Part 8 Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)

Saya terus menulis karena saya belum kaffah berguru kepada Mbah Nun. Semua ini saya lakukan dengan modal sederhana: keresahan. Ternyata, merawat keresahan itu perlu. Hal tersebut saya dapat belakangan ini dari Mas Sabrang MDP di Rumah Maiyah, Kadipiro, Yogyakarta Desember 2025.
Bekal itu membuat saya kian mantab untuk setia belajar me-manage keresahan. Bagaimana menjadikan resah sebagai ‘ilmu. Sebetulnya, saya sendiri tidak tahu kenapa saya menulis. Mengapa saya terdorong untuk menulis, bahkan menantang diri untuk terus menulis karena (merasa) belum kaffah berguru kepada Mbah Nun.
Barangkali, agak tepat jika aktivitas menulis ini saya tempatkan sebagai bagian dari benih dan tanaman Maiyah itu sendiri. Semoga saja begitu. Sebagai bentuk tahhaduts binni’matil Ma’iyah. Bagaimana beliau—Mbah Nun—sangat bersyukur dan bergembira ketika anak cucunya—jamaah Maiyah—menuliskan kenikmatan Maiyah itu sendiri.
Saya pun, sejujurnya, tidak berani-berani amat mengatakan hal tersebut. Apa sih yang saya punya? Hak apa yang saya punya? Jemari tangan? Otak di dalam kepala? Pikiran? Hati? Toh, semua itu juga pemberian dari-Nya.
قُلْ اَرَاَيْتُمْ اِنْ اَخَذَ اللّٰهُ سَمْعَكُمْ وَاَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ مَّنْ اِلٰهٌ غَيْرُ اللّٰهِ يَأْتِيْكُمْ بِهٖۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُوْنَ
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang (kepada mereka) tanda-tanda kekuasaan (Kami), tetapi mereka tetap berpaling. (QS. Al-An’am: 46).
Saya memang sengaja mengutip Surat Al-An’am ayat 46. Tidak lama, beberapa jam sebelumnya, hati dan jiwa saya bergetar hebat. Detik waktu seakan berhenti berdetak. Di tengah gelap yang sunyi dan sepi, Surat Al-An’am mengantarkan saya memasuki ruang suwung yang (terasa) meneduhkan.
Sepanjang dua jam di waktu dini hari itu: bibir terasa membeku. Bukan karena kelelahan tidak kuat membaca ayat-ayat dalam satu surat, melainkan karena tubuh saya, jasad saya, wadag saya—tidak mampu menjangkau kebesaran ayat-ayat-Nya. Persis seperti perasaan saya ketika Ayah dipanggil pulang ke rumah keabadian. Suwung. “Puisi Tuhan,” demikian saya menyebutnya. Tetapi kali ini, rasanya sangat berbeda: lebih dingin, senyap, gigil. Hampir ambruk tubuh saya mencoba “merasakan” lewat roso.
Jujur saja, seharusnya roso itu batal ketika saya rumuskan dan alihwahanakan menjadi bahasa tulisan. Lewat kata. Lewat tulisan ini. Tetapi saya tidak bisa, dan tidak berani, untuk mengatakan tidak: roso itu nyata adanya.
Dalam tulisan itu, Mbah Nun menuliskan:
“Maka saya menuliskan kenikmatan Maiyah ini. Sekalian mendambakan anak-anakku merenungkan kemungkinan-kemungkinan judul buku itu. Bisa “Hikmah Maiyah”, “Sorga Maiyah”, “Maiyah Menyapa Dunia”, Maiyah Untuk Ummat Manusia” atau apapun. Kalau perlu anak-anaku sehari-hari sesempat-sempatnya mendzikirkan wirid “Allahummahdini”, dikasih sandal Istighfar dan berpakaian Shalawat. Atau syukur sekalian bersembahyang Istikharah.”
Menurut Mbah Nun, sambung tulisannya, beliau menemukan kebanyakan tulisan yang dibuat berpijak pada semacam keberangkatan pondasi muatan akademis. Mbah Nun tidak bilang itu buruk. Bahkan mengapresiasi setinggi-tingginya, dan membanggakannya.
“Tetapi saya merindukan ekspresi, impresi, atau refleksi Maiyah yang lebih otentik, alamiah pada pengalaman kalian masing-masing,” tulis Mbah Nun.
Setelahnya, arah tulisan ini tiba-tiba meloncat begitu saja. Refleks. Spontan di luar “kendali” saya sendiri. Lantas saya menuruti apa yang dikehendaki oleh tulisan ini. Sebagai upaya saya secara sadar: (mem)Biarkan Tulisan Ini Menemui Takdirnya Sendiri.
Ila jami’i masyayikhina wa mu’allimina wa dzawil huquqi ‘alaina.
“Ini bagiku sudah mencakup semua guru sejak kita lahir, baik itu yang kita akui atau tidak, atau mereka mengakui kita atau tidak,” kata guru Bahasa Arab saya yang usianya masih sepantaran, Senin dini hari (19/01/2026) lewat chat WhatsApp.
Sepertinya, dasar argumen itu sudah cukup untuk menjadi landasan awal kenapa saya terus menulis karena belum kaffah berguru kepada Mbah Nun. “Kalau ditambahi wa khusushon juga tidak ada masalah. Baik juga,” imbuh guru saya.
Otak saya. Pikiran saya. Meledak-ledak. Saya tak cukup energi untuk mengerem. Seakan ada beberapa pernyataan guru saya yang tidak saya sepakati. Saya tolak. Saya sangkal dengan jujur, tegas, dan berani.
Betapa lancangnya diri saya. Kok berani-beraninya menyangkal pendapat guru saya sendiri. Memang, usianya masih sama-sama muda dengan saya. Padahal, soal kapasitas keilmuan—Bahasa Arab lengkap dengan turunannya—jelas lebih mumpuni daripada saya. Tetapi, saya perlu menyanggah dengan argumen (roso), bukan membantah tanpa tahu aturan alias awur-awuran.
“Karena semua padha apik-e, juga tidak ada yang salah,” tanggapan saya.
“Secara sadar, aku mewajibkan diri menambahkan wa khusushon,” lanjut saya.
Sebetulnya, pertimbangan saya cukup sederhana dan logis. Bahwa, seluruh “pencapaian” saya, jika bukan karena “guru kehidupan”, mustahil bisa sampai pada titik saat ini.
Saya bisa membaca karena digembleng keras oleh almarhum Ayah sejak sebelum duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Seingat saya, kalau tidak salah, di rentang usia tiga tahunan. Ba’da maghrib televisi wajib dimatikan. Meja belajar kecil disiapkan tepat di hadapan saya. Penggaris, bahkan kayu, juga setia menemani di samping saya. Buku bantuan ejaan di atas meja: a-a, a-yah, i-bu, ba-ca, mem-ba-ca, tu-lis, me-nu-lis, sa-ya be-la-jar mem-ba-ca d-a-n me-nu-lis, dan seterusnya. Ibu “hanya” terdiam membisu. Melihat diri saya “dihajar” habis-habisan oleh Ayah. Sesekali, Ibu meminta belas asih kepada Ayah saya.
Didikan almarhum Ayah nyatanya berhasil. Saya bisa lancar membaca pada masa-masa TK. Ada cerita konyol. Saat itu, aturan dalam dunia pendidikan tidak seketat sekarang. Tak ada batas minimal usia berapa baru boleh masuk TK. Dan, saya menjadi saksi sejarah atas diri saya sendiri.
Karena sebetulnya, usia saya saat itu belum cukup memenuhi standart masuk TK. Di usia tiga tahun, saya “hanya” dititipkan di TK. Dititipkan karena tidak terdaftar resmi sebagai murid secara administratif. Lokasi gedung sekolah TK berjarak sekitar tiga-empat meter berada di selatan rumah.
Karena merasa bukan sebagai murid administratif, ada “hak” yang saya perjuangkan. Lebih tepatnya, saya memilih jalan sak karepe dhewe. Ketika jam istirahat, saya pulang ke rumah. Tetapi saya tidak kembali ke sekolah. Saya nonton televisi di rumah—menyetel kaset power rangers kesukaan saya.
Satu tahun ajaran berjalan. Aktivitas seperti itu nyaris saya lakukan berulangkali, meski tidak setiap hari. Begitu tiba momen tahun ajaran baru, saya protes. Saya tidak terima lantaran tidak ikut “dinaikkan” ke TK B. Naik ke lantai dua yang difungsikan sebagai TK B. Bangunan TK YPLP PGRI Guranganyar Cerme ada dua tingkat: lantai pertama untuk TK A. Lantai dua untuk TK B.
“Dulu, sampeyan tidak terima begitu melihat teman-teman sampeyan naik ke TK B. Terus, bilang ke Bu Utami,” cerita Ibu kepada saya.
Ibu menyampaikan aspirasi saya kepada Bu Ut—panggilan akrab Bu Utami. “Bu Ut, Febri ini pengennya juga kayak temen-temen lainnya.”
Jika peristiwa itu terjadi pada dunia pendidikan hari ini, saya meyakini bakal sangat sulit bin repot dengan sistem alur birokrasi yang ada. Sungguh, saya wajib bersyukur, saya bisa ikut naik tingkat ke TK B. Pendidikan formal TK saya di rentang tahun 2003-2004 silam.
Namun tentu ada persyaratan. Saat itu, Bu Utami berkenan mengikutsertakan saya—yang sebelumnya tidak berstatus murid resmi administratif—naik ke tingkat TK B dengan satu syarat: diuji terlebih dahulu. Ujiannya adalah membaca dan menulis. Dan, saya lulus. Sejak itu, saya resmi menyandang status murid TK YPLP PGRI Guranganyar. Sah secara administratif.
Perlu saya sampaikan lagi, kerangka awal tulisan ini sebetulnya tidak pernah membayangkan akan memuat cerita pengalaman saya. Kisah awal pendidikan formal saya di TK. Harusnya, tulisan ini saya arahkan untuk memperteguh makna momentum sinau bareng dadakan dengan seseorang yang saya anggap sebagai Guru Bahasa Arab.
Dia tinggal tidak jauh dari rumah saya. Hanya sekitar 30 menit perjalanan yang perlu saya tempuh menuju rumahnya. Namun saat ini saya menyadari: waktu dia sangat terbatas. Sejak ia menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Jawa Timur, kami semakin jarang ngopi darat.
Dulu, sebelum ia menjadi dosen, pertemuan ngopi masih rutin. Bisa dua sampai tiga kali seminggu, bahkan lebih. Kini situasi berbeda. Upaya bertemu berulang kali hampir tidak pernah menemukan titik temu.
Maka, jalan sinau bareng perlu beradaptasi. Perkembangan teknologi masa kini patut disyukuri. Tanpa bertemu secara fisik, ikhtiar komunikasi tetap berjalan. Intensitas chat WhatsApp memang sudah tidak setinggi dulu. Apalagi ia telah berkeluarga.
Persamaan saya dengan dia: menekuni aktivitas menulis. Yang membedakan: saya belum punya istri, heuheu. Saya harus sadar diri: belajar mengambil jarak sekaligus memberi jeda “komunikasi”. Namun, sekali berdiskusi—lewat chat WhatsApp—muatannya tidak tanggung-tanggung: menguras pikiran, energi, sekaligus ingatan lama yang kerap bersemi kembali.
Tiba-tiba saya teringat dhawuh Mbah Nun, “Sinau iku merga awakmu butuh sinau. Karena anda dianjurkan dan diwajibkan oleh Allah untuk sinau. Iqra’. Setiap hari itu iqra’, iqra’, dan iqra’.”
“Makanya, iqra’ itu kita wujudkan dengan pendidikan, dengan madrasah,” sambung Mbah Nun. “Madrasah itu dari kata dirasah.”
Menurut Mbah Nun, dirasah punya arti meneliti, atau riset. Namun, riset yang beliau maksud bukanlah metodologi akademis sebagaimana yang kita kenal selama ini dalam dunia penelitian.
“Pokok’e awakmu duwe kesadaran riset,” imbuh Mbah Nun.
Melanjutkan dan mengingat kembali tulisan Mbah Nun Tahhaduts Bini’matil Ma’iyah, tulisan part 8 ini saya posisikan dalam koridor “semoga”, “mudah-mudahan”. Sebab saya sadar, sebagai makhluk ciptaan-Nya, saya tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun selain yang diparingi oleh-Nya. Sehingga saya wajib berdo’a: Semoga tulisan ini menjadi bentuk ekspresi personal atas rasa syukur telah diperjalankan dan dipertemukan dengan Maiyah.
Lanjut dhawuh Mbah Nun dalam tulisannya:
“Tentu saja boleh dan tetap bagus apabila tulisanmu mengandung hasil pengamatan, penelitian, atau pengalaman. Tetapi engkau tidak harus menjadi ilmuwan meskipun tetap berada dalam disiplin ilmu,”
“Tidak harus akademis, meskipun pola, peta, dan sistem berpikir tetap harus menjaga objektivitasmu. Engkau tidak harus menjadi perseptor dan analis, meskipun ketepatan pandang dan ketajaman analitik tetap menjadi bekal kematangan ekspresimu,”
“Jadi tulisanmu bisa ‘sekadar’ bersumber dari pengalaman kecil dan seakan-akan remeh atau tidak penting. Yang sedang kita himpun ini adalah ‘Hikmah Maiyah’, bukan ‘Kitab Maiyah’, atau ‘Ilmu Maiyah’ dalam nuansa yang kaku dan kering.” Tulis Mbah Nun.
‘Kan datang waktu di harimu
Saat kau merasa tak menentu
Jangan kau bimbang pada waktu
Akan Ku ingatkan kepadamu
Tentang kita dan tentang cinta
Tentang janji yang kau bawa
Jika nanti saat kau sendiri
TemukanKu di fatwa hatimu
(Potongan lirik lagu Letto berjudul “Fatwa Hati”)
Cerme, 17 – 21 Januari 2026
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.