Jurnalisme, Roso, dan Wilayah Abu-Abu
(Part 9 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)

Keresahan ini bermula dari sesuatu yang sebetulnya biasa saja. Tidak heboh. Tidak pula mengejutkan, apalagi viral. Sebuah pengumuman di grup WhatsApp Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gresik tentang update keanggotaan. Namun entah kenapa, pagi itu—pukul 07.33 WIB, Rabu, 21 Januari 2026—informasi tersebut tidak bisa saya lewatkan begitu saja.
Informasi yang kemudian menjadi pemantik awal kenapa tulisan ini saya buat. Entah kenapa, saya (merasa) pengen menulis seketika. Rasa kantuk hilang mendadak. Semalam hingga dini hari mata saya tetap terjaga. Bahkan sampai siang benderang: matahari tepat berada di atas ubun-ubun kepala. Saya belum tidur, dan memang tidak ingin tidur.
Moeg: “Piye kabar sepeda motor e? heuheuheu.”
Satu notifikasi pesan masuk di WhatsApp, pukul 08.59 WIB.
Sementara itu, saya masih duduk nyaman di Warkop 86 Dalean ketika kopi jahe Sidomuncul yang mulai dingin – yang saya pesan sejak terbit fajar—setia menemani fokus saya menganalisis krisis pemain lini belakang yang menimpa The Reds: Liverpool Krisis Bek, Manajemen Pilih Bersabar dan Ogah Belanja. Dinginnya udara pagi, sisa air yang masih menempel di tubuh, dan kesegaran usai mandi Subuh masih saya rasakan.
Saya: “Aman, wkwkwk. Paling besok atau Jumat. Sabtu ta’gawe ke Lamongan. Sepeda nginep di sekitar Stasiun.”
Saya: “Jam tujuh-an, ada pengumuman di grup WA PWI Gresik (anggota aktif 2025–2026). Informasi tentang update keanggotaan.”
Momentum “sebelum cahaya”, ketika embun pagi menyatu dengan hijau dedaunan, menjadi suntikan energi. Saya bergegas mengayuh sepeda ontel milik ibu menuju Warkop 86: mencari cantolan Wi-Fi, bekerja dalam diam, sembari mengamati lalu-lalang kendaraan di jalan raya—padatnya jam berangkat kerja dan anak-anak menuju sekolah.
Saya: “Dari situ, kok rasane kudu pengin nulis ae… Yawis, jadilah tulisan sepanjang itu.” (10.938 karakter bahan mentah sebelum tulisan ini tuntas. Saya sertakan tangkapan layar keseluruhan isinya. Saking panjangnya, setiap kata tak bisa dibaca satu pun).
Saya menangkap momentum itu sebagai bentuk “Puisi Tuhan”. Namun, saya juga cemas dan waswas bila disalahpahami—apalagi jika jatuhnya justru mengajak orang lain terperosok ke dalam jurang ketersesatan yang dipicu dari tulisan saya ini.
Moeg: “Lhukk, iki tangi turu opo sik durung turu blas?”
Saya: “Durung turu blas. Jam setengah lima isuk adus, sholat Subuh, langsung budhal ngopi.”
Keresahan itu kemudian mengaduk-aduk ingatan lama: tentang pabrik kayu tempat saya pernah bekerja, tentang Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang tidak bisa saya ikuti, serta tentang perasaan-perasaan yang tak pernah benar-benar menemukan bentuknya. Dari sanalah tulisan ini bermula—sebagai ekspresi jujur mengakui adanya hutang roso, istilah yang saya pinjam dari Presiden Jancukers.
Saya mulai diperjumpakan dengan Maiyah—secara fisik menyelami atmosfernya—pada akhir 2016. Saat itu saya masih calon mahasiswa, belum tahu selepas lulus akan menjadi apa, dan tidak terlalu pusing memikirkan masa depan.
Bertahun-tahun kemudian, saya baru menyadari bahwa fase itu—ber-Maiyah—adalah Universitas pengolahan roso batin. Kampus tanpa Satuan Kredit Semester (SKS), tanpa gedung fisik, tetapi dengan konsekuensi yang mau tidak mau wajib saya terima: belajar jujur pada diri sendiri. Saya datang, duduk, menyimak, lalu pulang membawa pertanyaan. Tidak ada sertifikat, tidak ada target karier. Yang ada hanyalah kebiasaan mendengarkan dan belajar merumuskan keresahan: lewat tulisan.
Tahun 2021, hidup saya masuk pada fase yang lebih konkret memadat: sebut saja sejatinya kehidupan fase orang dewasa. Saya bekerja di sebuah pabrik kayu di Gresik. Awalnya sebagai helper produksi—mengangkat, menyusun, menata, menerima kayu dari mesin, dan berurusan dengan getah kayu yang meninggalkan bekas di kulit. Tidak sampai sepekan, saya dipindah menjadi tallyman: menghitung, mengukur, dan mencatat barang. Pekerjaan yang menuntut ketelitian, disiplin, dan kesabaran membaca kode tiap gudang yang berbeda-beda.
Di sana, hidup terasa stabil. Jam kerja jelas. Upah pasti. Tetapi justru di tengah keteraturan itu, batin saya sering terasa kosong. Ayah wafat beberapa minggu sebelum fase ini dimulai—sebelum Pak Pur mengajak saya bekerja di pabrik kayu tersebut. Saat itu, saya masih berstatus mahasiswa semester akhir yang menunggu jadwal sidang skripsi. Secara administratif, hidup berjalan. Secara psikologis, saya limbung.
Juni 2022, ketika masih berstatus karyawan outsourcing pabrik, saya memutuskan mengikuti wawancara sebagai calon wartawan. Hari itu saya izin tidak masuk kerja. Sehari setelah wawancara, saya langsung ditugasi liputan lapangan—tanpa masa adaptasi, tanpa teori panjang tentang bagaimana jurnalisme seharusnya bekerja.
8 Juni 2022 adalah kali pertama tulisan berita saya dimuat di media massa. Tentang aksi demonstrasi di Polres Gresik: Demo ke Polres Gresik, Tuntut Dugaan Korupsi di Desa Tambak Rejo Diusut Tuntas. Nama penulisnya memang bukan saya—saya masih magang. Tetapi di keterangan foto, tercantum nama saya. Bagi saya saat itu, itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti kredit foto.
Selang dua hari setelah liputan pertama itu, saya resmi mengundurkan diri dari pabrik kayu. Saya sempat masuk kerja untuk terakhir kalinya, berpamitan dengan beberapa rekan dan Kepala Bagian (Kabag) gudang KD 2.
Saya berpindah dari pekerjaan dengan upah stabil ke profesi yang serba “tidak pasti”. Honor per tulisan sepuluh ribu rupiah. Tidak cukup untuk banyak hal, tetapi entah kenapa terasa lebih hidup dan bermakna. Tiga bulan saya jalani sebagai masa magang di beritautama.co. Setelahnya, saya mendapat sistem bulanan.
Dua tahun saya belajar, dididik, dan ditempa di beritautama.co. Hingga tiba momentum untuk pamit dan berpindah ke media lain: klikmedianetwork.com, sekitar akhir 2025—bulan pastinya saya lupa.
Hampir tiga tahun saya menjalani kerja-kerja jurnalistik: meliput, menulis, membaca peristiwa, dan memahami bahwa realitas sering kali lebih rumit daripada judul berita. Saya pun sadar, judul clickbait dan sensasional adalah bagian dari strategi media.
Setelah dua tahun lebih berproses dan meng-alami hingga menjadi pengalaman yang menubuh serta mendarah daging, saya “resmi” menjadi anggota PWI Gresik. Mengikuti ritme irama kerja-kerja profesi jurnalis. Namun sejak awal saya sadari: relasi saya dengan jurnalistik tidak pernah sepenuhnya administratif semata. Ada lapisan kedalaman jiwa, psikologis, batin, hingga roso yang abstrak bin suwung.
Ketika UKW menjadi tahapan yang semestinya dilalui, saya memilih tidak ikut. Bukan karena merasa “lebih suci”, juga bukan karena menolak “standar profesionalisme”. Saya hanya merasa belum selesai dengan diri sendiri. Ada jarak batin yang belum sanggup saya lintasi.
Hari ketika tulisan ini saya tuntaskan—dalam sekali duduk di Warkop 86 Dalean, pukul 07.00–11.33 WIB—pengumuman update keanggotaan itu datang. Prosedural. Rutin tahunan. Namun di kepala saya, ia menjelma keresahan: apakah semua yang saya jalani bisa diringkas dalam status keanggotaan? Apakah hutang roso pada profesi, redaksi, dan sesama wartawan bisa dianggap lunas hanya oleh terpenuhi atau tidak terpenuhinya administrasi?
Saya teringat tulisan Mbah Nun: Wartawan Kaos Oblong—tentang kerja jurnalistik yang seharusnya berangkat dari kejujuran batin, bukan atribut permukaan. Saya pun sadar, mengutip sebagian tulisan beliau dengan rasa bersalah: karena belum sepenuhnya mampu menjalani apa yang beliau maksud. Termasuk kekhawatiran akan perbuatan sop buntut: memotong tulisan sesuka selera ego, lalu mengutak-atiknya agar seolah relevan dengan konteks yang sebetulnya berbeda.
Yang saya rasakan bukan marah, bukan takut, bukan pula keberanian. Yang hadir justru kosong. Kekosongan setelah terlalu lama menyaksikan dilema, ironi, dan konflik—di lapangan maupun di dalam diri.
“Sudah pasti saya merasa bersalah dan ikut minta maaf. Tetapi yang saya alami dalam hati atau psikologi kejiwaan saya adalah sesuatu yang luar biasa dan baru pertama kali itu saya mengalaminya. Saya tidak marah atau tersinggung, tidak takut atau berani, tidak ada perasaan apa-apa, kosong saja, seolah-olah saya tidak sedang mengalami benturan sosial apa-apa.” tulis Mbah Nun.
Perlu saya sampaikan lagi, pada frasa “sesuatu yang luar biasa” dan “baru pertama kali” tersebut, pemaknaannya tidak sepenuhnya bisa dibaca secara harfiah. Ia tidak berdiri tunggal sebagai susunan kata yang kaku dan baku, melainkan membuka ruang tafsir baik secara denotatif maupun konotatif.
Bagi saya pribadi, sepanjang kurang lebih tiga tahun menjadikan diri sendiri sebagai semacam “kelinci percobaan”—mengeksperimenkan diri sebagai objek, dengan kesadaran sebagai subjeknya—pengalaman hidup yang saya jalani justru terasa dilingkupi berlapis-lapis makna. Bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan proses panjang yang pelan-pelan mengantarkan saya pada kedalaman batin itu sendiri—Ngreksa Wasita Sinandhi.
Saya tidak sedang “meninggalkan” jurnalistik. Tetapi saya juga tidak sepenuhnya melanjutkan dalam bentuk aplikasi yang sama. Saya berada di wilayah abu-abu: masih menulis, masih belajar, tetapi tidak lagi sepenuhnya hidup dalam ritme pada umumnya.
Tulisan ini bukan untuk “pamit” dan “melepas total” kerja-kerja jurnalistik itu sendiri. Juga bukan pembelaan diri. Ia adalah upaya kecil untuk jujur pada diri sendiri—bahwa ada hutang roso jurnalistik yang tidak bisa dituangkan dalam tulisan. Hutang kepada mereka yang memberi kepercayaan, ruang belajar, dan kesabaran. Hutang kepada profesi yang pernah saya jalani dengan sadar.
Mungkin hutang itu tidak akan pernah lunas. Tetapi saya tidak ingin pura-pura sudah membayarnya. Selama masih menulis, saya memilih mengingatnya. Barangkali, menjaga ingatan itulah bentuk tanggung jawab paling minimal yang masih bisa saya lakukan.
Tulisan ini sengaja saya biarkan tidak sepenuhnya tuntas. Sebab menulis, bagi saya, adalah ikhtiar peran(g) jangka panjang: merawat rasa penasaran, kegelisahan, dan keresahan. Bukan kerja grusa-grusu seperti arus media sosial—sekali viral lalu lekas hilang dari ingatan. Tiga tahun menjalani rutinitas jurnalistik di media massa pun, bagi saya, adalah bagian dari “ketidaksengajaan” yang saya pilih dengan penuh kesadaran.
Berkat nama “Fauzi” pula—calon Pemimpin Redaksi pertama saya—langsung menemu momen “klik”. Belakangan baru saya tahu, “Fauzi” yang dimaksud Cak Sho, Pemred beritautama.co, adalah salah satu pejabat di OPD Pemerintah Kabupaten Gresik. Bukan sosok Cak Fauzi yang belakangan ini saya repoti: saya tugasi menelaah tulisan-tulisan saya sejak menjelang Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik hingga detik ini.
Seirama dengan pola Menulis Tanpa Arah Tunggal: spontan, tanpa rencana, dan sering kali secara tak sengaja. Yang kemudian menemukan titik temu gelombang resonansinya pada salah satu judul puisi karya Mas Madno WK dalam buku terbarunya Reminisensa (2025):
Aku ingin menyuguhimu
sebuah kenangan yang buta
agar ia menyakitimu
—secara tak sengaja
lalu mendekap tubuhmu
untuk meminta maaf setulus-tulusnya.
Aku ingin menghidangkanmu
seorang bayi yang durhaka
agar ia menyadarkanmu
—secara tak sengaja
tentang perjalanan dan harapan
yang kadang tak sesuai rencana.
Aku ingin menyulingkanmu
secangkir amarah yang membara
agar kau memusuhiku
—secara tak sengaja
lalu mencintaiku lagi
dengan kadar sewajarnya saja.
Aku ingin mencintaimu
—secara tak sengaja
baik itu di surga
maupun di neraka.
Bandung, 2018
Matur sembah nuwun, Mas Madno. Puisi sampeyan betul-betul mewakili keresahan yang tengah saya rasakan saat ini—dibungkus diksi yang membeningkan jiwa, hati, batin, ruhani, dan pikiran.
Warkop 86, Dalean–Gresik, 21 Januari 2026
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.