Mlaku ke Dalam Tulisan
(Jeda di Antara Kaffah Berguru kepada Mbah Nun)

23 Januari 2026.
Mata saya masih terjaga hingga Subuh tiba. Di tanggal yang sama, ada kabar yang membuat hati saya bersyukur sekaligus gembira. Motor Megapro (MP) warisan almarhum Ayah akhirnya tuntas diperbaiki—khususnya pada saraf kelistrikannya. MP itu sudah menginap di rumah Cak Imin, di Desa Slempit, Kecamatan Kedamean, selama sepuluh hari, sejak 13 Januari.
Rumahnya sederhana, tapi serba guna—warung kopi sekaligus bengkel motor rumahan—demikian saya menyebutnya. Cak Imin, dulur Damar Kedhaton Gresik ini, memiliki keahlian dalam bidang perbengkelan, khususnya motor. Pertemuan saya dengannya terasa makin akrab sekaligus menjiwai, terlebih karena dijembatani oleh Wak Kaji Bombom—salah satu sosok yang kujadikan sebagai “guru kehidupan” yang menantang diri saya sekaligus meneguhkan kepercayaan diri untuk ambil peran sebagai moderator Milad ke-9 Damar Kedhaton, Desember 2025 lalu.
Tafa’ul MP menjadi ikhtiar saya dalam memaknai momentum ini. Sekaligus menjadikannya PR bagi diri saya pribadi. Sebab, pada saat tulisan ini saya ketik, ada semacam keresahan lain yang datang menyergap. Syukurlah, saya dipertemukan dengan sahabat—kanca sambat bin curhat. Moeg adalah panggilannya.
Sebagian keresahan itu langsung saya tumpahkan seketika. Sore harinya, beberapa jam setelah MP bisa saya gunakan kembali, saya berkirim pesan pribadi via WhatsApp. Motor itu baru saya bawa pulang ba’da Jumat’an di Masjid Al-Ikhlas, kira-kira seratus hingga dua ratus meter jarak jalan kaki dari rumah Cak Imin.
Usai Jumat’an, saya dengan “gojek pribadi” rehat ngopi sebentar di warung kopi milik Cak Imin, lalu pulang ke rumah. Bawa motor masing-masing.
Saya juga wajib berterima kasih kepada “gojek pribadi” dadakan yang tabah menemani antar-jemput saya dari rumah menuju JC selama sembilan hari. Di hari kesepuluh, pukul 10.00 WIB, ia mengantar saya ke rumah Cak Imin.
Saya: “Pagi tadi aku ngimpi. Kok pagi? Soalnya aku baru turu sekitar jam setengah tujuh-an. Tangi jam sepuluh kurang. Usai ngimpi, aku langsung tangi. Lali nek nduwe janji lan rencana, isuk jupuk sepeda nang Slempit, Kedamean.”
Itu awal letupan keresahan yang saya kirim kepada Moeg.
Sebanyak 373 karakter memenuhi pesan yang masuk ke nomor WhatsApp-nya. Tak ada respons. Tak ada balasan. Tapi itu bukan soal. Sejak awal saya sadari, saya memang tidak membutuhkan respons. Saya hanya perlu didengarkan lewat tulisan. Setidaknya, ia tersimpan sebagai bahan tulisan berikutnya.
Saya: “Ngapunten, nitip bahan tulisan sekalian di sini. Tulisan yang aku ketik seketika, dalam sekejapan mata.”
Kalimat terakhir dalam isi pesan WhatsApp yang terkirim pukul 17.35 WIB.
Kabar menggembirakan lain justru datang dari melubernya bahan tulisan. Tanpa batas. Keresahan saya bukannya mereda, malah bertambah. PR yang perlu saya rumuskan kian banyak. Tulisan ini melebar, meluas, dan memanjang. Arahnya tak jelas akan ke mana. Fungsinya apa? Intinya apa? Temanya apa?
Jujur saja, saya mulai “takut”. Rasanya seperti banyak busur panah menyergap sekaligus: menusuk pikiran, membidik hati, menancap di jiwa. Berantakan. Saya seperti hancur lebur. Antah-berantah.
Jangan-jangan semua ini juga karena tulisan saya sendiri. Tanpa sadar, ia menyelinap ke lapisan alam bawah sadar. Saya kian terperangkap oleh rasa “takut” tersebut. Rasanya seolah ditarik masuk ke lorong gelap, ke sebuah gua pertapaan bernama tulisan.
Ingatan saya terlempar ke masa lalu. Dhawuh Abah Hamim Ahmad, 24 Juni 2021:
“Nek pengin dadi sastrawan, aja jupuk jurusan sastra, tapi jupuk’a filsafat. Penulis biyen iku mesthi nggawa buku catatan cilik, digawa nang endi-endi. Yen ana ide teka seketika, langsung dicathet, meskipun mung sak baris. Aku lan Cak Nun biyen nang Jerman ya ngelakoni kuwi. Yen kabotan mikir ide, ditinggal turu dhisik. Pas tangi, langsung nyatet apa sing melintas nang pikiran. Jarang turu, jarang mangan. Mangkane kuru-kuru.”
Momentum itu terjadi pada pertemuan kedua saya di ndalem beliau, Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Gresik. Saat itu saya sedang menyelesaikan tugas akhir S1, dengan Damar Kedhaton sebagai objek penelitian. Judulnya: Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Jamaah pada Komunitas Maiyah Damar Kedhaton Gresik.
Seperti bahan tulisan lain, satu kenangan datang tak sengaja pada Jumat dini hari, 23 Januari 2026. Instagram mengingatkan saya pada memori lima tahun lalu. 23 Januari 2021. Lumayan, ada tambahan bahan buat tulisan (lagi). Saya kembangkan menjadi rumusan: tulisan mentahan. Soal kapan tuntas, itu urusan lain. Yang penting, bahan ini teramankan dulu. Tulisan itu saya simpan pukul 03:44 WIB.
Berikut cuplikan awal paragraf :
Sebuah foto: laptop Asus berwarna putih terbuka. Di layarnya, baris-baris tulisan Microsoft Word memenuhi hampir seluruh bidang. Bukan satu dua paragraf—padat, penuh. Ingatan saya sontak bernostalgia ke fase pengerjaan skripsi menuju seminar proposal. Tiga bab.
Bab I Pendahuluan, lengkap dengan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, definisi konsep, hingga sistematika pembahasan. Bab II Kajian Teoretik: penelitian terdahulu, kerangka teori loyalitas beserta faktor-faktor yang memengaruhinya, paradigma penelitian, hingga hipotesis. Bab III Metode Penelitian: mixed method—kualitatif dan kuantitatif—sumber data, teknik pengumpulan, validitas, reliabilitas, hingga analisis data.
Semua tampak rapi. Akademis. Formal. Seolah tinggal selangkah menuju selesai. Leha-leha pun menunggu. Padahal, di luar layar laptop itu, hidup bergerak ke arah lain: lebih luas, lebih dalam, dan jauh lebih kompleks.
Tulisan kali ini saya cukupkan dan akhiri di sini. Ia menggantung. Dan justru menambah keresahan baru. Saya tak bisa memaksa mata tetap terjaga. Sabtu, 24 Januari 2026, saya masuk dinas pagi di JC. Tukar hari libur. Hari Minggunya baru saya ambil untuk libur. Crew JC lainnya sudah tahu sejak lama.
Sebab, Minggu pagi saya berencana menikmati Kopag—Kopi Pagi—di Semarang: mengingat ulang atmosfer, suasana, dan getaran tempat pertama kali saya dipercaya Damar Kedhaton menjadi delegasi Silatnas Maiyah 2019. Temanya: Mengenali Fadhilah, Menjadi Ahli. Digelar 6–8 Desember 2019 di Balatkop UMKM, Semarang, Jawa Tengah.
Salah satu arah gerak yang dibidik: Memasuki Kompleksitas dengan Trust.
Di antara pesan Mbah Nun yang masih melekat: “Anda memasuki kompleksitas dengan trust. Bukan hanya percaya kepada Allah, tetapi membuktikan bahwa Anda layak dipercaya oleh Allah.”
Dulu, saya berangkat sendirian naik kereta api dari Surabaya ke Semarang. Sekarang, saya ingin “mengulangi” momen itu. Mlaku, kata Umbu Landu Paranggi kepada Emha Ainun Nadjib. Bukan mlaku-mlaku. Jalan, bukan jalan-jalan. Ditulis Mbah Nun dengan judul: Presiden Malioboro. Kalau saya menyebutnya: Menepi ke Kehidupan Puisi.
Ada beda besar antara bekerja dengan hiburan, antara berjuang dengan iseng-iseng, antara makan beneran dengan mencicipi, antara jalan kaki sungguhan dengan jalan-jalan. Kalau memakai konsep waktu: yang satu menghayati, yang lain melompat. Yang satu mendalami, lainnya menerobos. Yang satu merenungi, lainnya memenggal.
Tulisan ini kembali melompat tanpa maksud yang benar-benar jelas. Saya sengaja membiarkannya demikian—melanjutkan pesan WA kepada Moeg. Sebab yang di atas hanyalah potongan paling awal.
Saya: “Dalam mimpi itu tergambar suasana sebelum keberangkatanku ke Semarang. Bukan stasiunnya. Bukan terminalnya. Apalagi perjalanannya.”
Saya: “Aku tak bisa mengingat betul ekspresi wajah Ibu, juga intonasi suaranya ketika bicara padaku.”
Saya sadar, menuliskan ulang mimpi adalah pekerjaan berat. Betapapun ingatan melekat, nuansa dan atmosfernya pasti (terasa) berbeda.
Saya: “Barang atau benda apa pun yang muncul dalam mimpi, sebut saja sebagai fakta-fakta yang hadir di sana.”
Tiket sudah saya pesan sejak 7 Januari 2026. Tiket pergi–pulang sekaligus.
Nun, wal qalami wa ma yasṭurun.
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”
(QS. Al-Qalam: 1)
Doa Malam
Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung, dalam kepalaku.
— Joko Pinurbo, 2012
Cerme, 23–24 Januari 2026
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya, dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.