Menepi ke Kehidupan Puisi
(Part 5 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا ٢٤
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad ayat 24).
Syukur alhamdulillah saya dipertemukan dan diperjalankan untuk bisa menikmati keindahan gelombang frekuensi Maiyah sepanjang kurang lebih 11 tahun. Persentuhan itu bermula dan saling melingkar di antara Njoso, Majalah, Padhangmbulan. Ruang tak terbatas yang kemudian saya yakini membentuk lanskap batin saya hari ini.
Dari situ, tumbuh berbagai keresahan yang saya alami. Keresahan yang pada mulanya masih terasa abstrak; belum menemukan rumusan, belum juga menjumpai jalan solusi bagaimana seharusnya ia dikelola.
Bahkan, saya kerap bertanya pada diri sendiri: mengapa hal-hal semacam itu justru membuat saya resah? Atau jangan-jangan, saya sendiri yang dengan sengaja menjadikannya sebagai bahan resah. Yang kemudian saya terus menguliknya, terus bertanya, dan tak kunjung merasa tuntas.
Syukur untuk kedua kalinya, saya mengiringi niat menulis ini agar tidak kehilangan fondasi akarnya. Termasuk doa dan harapan; membiarkan tulisan ini menemui takdirnya sendiri.
Saya tidak punya nyali keberanian untuk menegasikan, apalagi merasa besar kepala, seolah tulisan ini sepenuhnya adalah hasil buatan saya. Tulisan ini memang lahir melalui ketikan jemari saya di laptopnya JC, tetapi yang tertuang di dalamnya adalah pengalaman panjang yang terserap di ingatan kepala, juga yang beresonansi di aliran darah dan syaraf tubuh.
Saya akui, tulisan ini bergerak tidak lurus. Ia berlapis-lapis, melingkar, kadang meloncat. Tentu, yang saya tulis ini bukan sebagai bentuk mengabaikan nalar logika pikiran, melainkan karena saya meyakini bahwa pengalaman batin tidak selalu hadir dalam garis edar kronologi peristiwa yang lurus.
Saya sengaja membiarkannya demikian, sebagaimana pengalaman batin yang datang dan terus bekerja di dalam diri. Soal ini, abaikan saja, dulur.
Meminjam bahasa Kamituwa Damar Kedhaton, Wak Syuaib; “Ke Jogja atau Kadipiro itu seperti men-tashih-kan diri,” Kalimat itu menemukan resonansinya ketika saya diperjalankan mengikuti agenda Silaturahmi Nasional (Silatnas) Penggiat Maiyah 2025 di Rumah Maiyah, Kadipiro, Yogyakarta, 6-7 Desember 2025.
Peristiwa yang bermula dari keresahan sebelas tahun lalu, kemudian saya maknai menemukan titik tashih-nya pada pembukaan Silatnas Penggiat Maiyah 2025, 6 Desember 2025, oleh Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh. Tidak mengapa jika pemaknaan itu baru saya rasakan saat ini. Barangkali memang begitulah hidup bekerja; setia pada proses yang dijalani, sepanjang waktu, dan sepanjang hayat.
Untuk memperteguh makna setiap peristiwa yang bersentuhan dengan diri—termasuk Maiyah itu sendiri—saya belajar menjadikan resah sebagai ‘ilmu. Bagi saya, ini adalah sebuah pintu untuk menengok kembali perjalanan yang telah dilalui; apakah masih berada sesuai koridor “aman-mengamankan”dan “selamat-menyelamatkan”, atau justru melenceng tanpa disadari.
Dalam perjalanan “tashih” ini, memang tidak ada “guru” yang menguji pengalaman agar ia sah atau dinyatakan lulus. Sebab, bagi saya pribadi, perjalanan itu sendiri terus bergerak, berputar, melingkar, dan bersifat siklikal. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Pada tulisan sebelumnya, yang mengawali rangkaian tulisan ini saya menandai diri bahwa saya terus menulis karena saya belum kaffah berguru kepada Mbah Nun. Catatan itu saya simpan sebagai pengingat pribadi, agar di tengah perjalanannya saya tidak lupa, tidak abai, atau justru sengaja melupakan arah.
Pada tulisan part kali ini, saya berupaya mencari irisan tulisan-tulisan Mbah Nun dengan semesta dunia puisi. Alasannya sederhana, dan sangat personal; Maka Lewat Tulisan Aku BerTuhan. Kalimat itu adalah satu baris terakhir puisi yang saya tulis tepat di samping warung Mbok Yem, di Gunung Lawu.
Wakiyem—yang akrab dipanggil Mbok Yem oleh para pendaki—telah berpulang ke pangkuan-Nya. Beliau mengembuskan napas terakhir pada Rabu, 23 April 2025, pukul 13:30 WIB. Tanpa Mbok Yem dan pecel “Termahal”-nya, Mendaki Gunung Lawu Terasa Tidak Sah dan Tak Menarik Lagi.
Namun saya wajib bersyukur, meski tidak sempat mengabadikan foto bersama beliau, saya telah diperjalankan secara batiniah untuk menikmati “kehidupan puisi” yang seutuhnya di sana.
bukan penyair yang pandai beretorika,
aku hanya pengagum semesta kata
bukan pula sastrawan yang pandai berkata-kata,
aku hanya pecundang yang diperbudak oleh kata
yang sedang menikmati kebingungan di dalam gua pertapaan
Apa yang saya tulis (potongan puisi di atas) bukan untuk menunjukkan diri saya yang seolah-olah pandai dalam meracik kata. Toh, saat kuliah, saya tidak mengambil disiplin jurusan sastra, melainkan Manajemen Dakwah. Dan memang tidak pernah menyiapkan diri untuk menjadi penyair. Itu hanya usaha dan strategi saya bertahan dalam ruang “kebingungan”.
Bukan berarti saya sengaja memelihara kebingungan. Justru dari sanalah saya belajar untuk mendekat dan mengakrabi makna. Kebingungan yang saya alami itu pada akhirnya menemani, membawa, sekaligus mengarahkan langkah saya menempuh takdir hidup dan kehidupan ini.
Saya teringat narasi utama Umbu Landu Paranggi yang diwariskan kepada Mbah Nun dan para muridnya di Yogyakarta maupun di Bali. Tentang “kehidupan puisi”. Bukan “puisi kehidupan”, melainkan kehidupan ini sendiri adalah puisi. Seluruh ciptaan Allah adalah puisi. Adalah poetika. Adalah inti keindahan. Bahkan seluruh isi Kitab Suci adalah puisi.
Sebagaimana kesadaran saya makin mengendap ketika membaca tulisan Mbah Nun berjudul Mi’raj Sang Guru Tadabbur. Saya membacanya perlahan-lahan, dari awal hingga tuntas, sembari mengingat-ingat kembali momen sepanjang pendakian di Gunung Lawu. Pada titik-titik tertentu, saya melepaskan “diri” secara total untuk ditata ulang oleh makna.
Keyakinan saya seolah ditemani dan diantarkan oleh “sesuatu” menuju taraf haqqul yaqin. Di mana, hidup ini tidak lagi saya jalani sebagai rangkaian peristiwa yang monoton; tidur, bangun, mandi, ngopi, bekerja, bersosial dengan lingkungan, menikah, dan seterusnya. Dalam versi pemaknaan saya, hidup ini seperti “kehidupan puisi” yang penuh keindahan.
“Itulah yang dirasukkan Umbu ke dalam jiwa saya. Kehidupan ini sendiri adalah puisi. Agama justru sebagai alat atau metode agar dilatihkan oleh hati dan jiwa manusia untuk mengenali ‘kehidupan puisi’,” tulis Mbah Nun.
“Apa yang tidak indah dari segala sesuatu mengenai Allah? Yang mana yang bukan puisi dari apa saja pun yang ditakdirkan, dilakukan, dikehendaki, diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya?” tanya Mbah Nun dalam tulisannya.
Dan, untuk sampai ke situ, sambung Mbah Nun dalam tulisannya, tidak ada jalan tafsir. Yang ada adalah jalan “tadabbur” sebagaimana yang dirintiskan di masyarakat Maiyah.
Cerme, 24-25 Desember 2025
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.