Berguru Kepada Mbah Nun (10): Jangan Menagih Kepastian (Usai Jeda)

Berguru Kepada Mbah Nun (10): Jangan Menagih Kepastian (Usai Jeda)

(Part 10 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)

Foto: Adin (Dok. Progress)

“Orang berdoa itu seperti memanjat ke tiga lapisan langit. Maka istilah ‘memanjatkan doa’ itu memang nyata. Orang yang berdoa memanjat naik dari Langit Harapan, menuju Langit Keyakinan, dan Langit Kepastian. Kenapa orang berdoa, karena tempat tinggalnya adalah di Lapisan Langit Harapan. Manusia bisa naik sampai ke Langit Keyakinan, tetapi tidak bisa naik lagi sampai Langit Kepastian. Karena Langit Kepastian adalah wilayahnya Tuhan.”

Kutipan Tetes Mbah Nun “Tiga Lapis Langit Doa” di atas mengingatkan sekaligus meneguhkan hati saya. Tulisan itu menyadarkan kembali bagaimana semestinya cara saya berdoa, sekaligus menata hubungan dengan Tuhan—bukan sebagai penuntut jawaban, melainkan sebagai hamba yang tahu batasan.

Tulisan ini melanjutkan esai seri Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun, yang sempat sengaja saya jeda. Saya stop. Bahkan, dengan jujur saya tak benar-benar tahu: apa alasannya, bagaimana pertimbangannya, dan mengapa jeda itu terasa perlu. Semua seperti terjadi begitu saja. Mengalir seperti aliran air.

Sebagaimana pernah saya tulis sebelumnya: Memperjuangkan Sigaraning Nyawa. Apa sebenarnya keresahan saya? Mengapa keresahan itu saya anggap sebagai masalah? Keresahan itulah yang kemudian saya sebut, saya rasakan, dan selaraskan getaran alirannya dengan frasa leluhur jawa: sigaraning nyawa.

Bisa jadi, semua ini hanyalah lapisan reaktif emosional saya semata. Roso-nya memang seperti mengaduk-aduk seluruh “kehidupan dan hidup” saya saat ini. Namun, perlahan saya sadar, bahwa pernikahan tidak sesederhana membalik telapak tangan. Terlebih kehidupan pasca akad pernikahan nanti. Ia adalah perjalanan raka’at panjang yang menuntut kesiapan batin, bukan sekadar romantisme niat tanpa arah.

Maka tak heran bila pernikahan disebut sebagai ibadah sepanjang hayat. Aktivitas apa pun di dalamnya bernilai ibadah. Khalidina fiha abada.

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Az-Zariyat Ayat 49).

Saya wajib menyadari dan beriman sepenuhnya bahwa kebesaran Tuhan melingkupi seluruh semesta. Bahkan, Tuhan sendiri yang menciptakan semesta ini.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk pada perintah-Nya. Ingatlah! Hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan urusan. Maha berlimpah anugerah Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al-A’raf Ayat 54).

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah Ayat 29).

Sebagai manusia, dengan segala emosi, luka hati, kecewa, adalah hal yang wajar bila semua itu saya rasakan. Kekecewaan hadir sebagai jawaban yang saya terima apa adanya. Ia menemani harapan saya yang ternyata tak selalu sejalan dengan kenyataan.

Meski begitu, saya wajib sadar: tiada daya dan upaya, semua dari Tuhan. Seiring waktu berjalan, saya justru merasakan bagaimana Tuhan senantiasa membimbing dan mengarahkan langkah. Menguatkan keyakinan untuk terus berjalan—belajar, mencari ilmu, dan berbuat baik sebisanya.

Hingga pada detik ini, ketika tulisan ini saya ketik di laptop merk Asus warna merah milik JC, saya wajib husnudhan karena bimbingan-Nya. Segala bekal kelimuan yang Tuhan titipkan kepada saya hingga diperjodohkan dengan Maiyah.

Saya bisa menulis dengan relatif lancar pun berkat sangu dari Maiyah. Belajar sekaligus praktik. Tanpa ada teori baku seperti pendidikan formal, tetapi hidup dan bekerja dalam keseharian. Bahkan, keyakinan itu tidak berhenti pada husnudhan semata; saya meyakininya hingga pada level haqqul yaqin. Seperti pada pengalaman ketika sidang skripsi saya yang tanpa revisi. Judulnya: Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Jamaah Pada Komunitas Maiyah Damar Kedhaton Gresik.

Tak cukup bila hanya disebut sebagai Universitas Maiyah, saya menyebutnya semesta Maiyah. Di Maiyah segalanya terasa sangat jangkep. Bukan hanya rumah yang teduh meneduhkan, tetapi ruang pendadaran untuk menyiapkan jiwa kesatria manusia: mendidik diri agar berdaulat atas segala hal. Maiyah mendidik saya menjadi pendekar ilmu sejati. Khalidina fiha abada.

Semua kelengkapan yang ada pada Maiyah wajib saya syukuri. Namun syukur tidak boleh berhenti pada sikap romantisasi. Ia harus diwujudkan dalam gerak. Maka saya perlu memaksa diri untuk terus bergerak lewat tulisan. Termasuk berjuang semampu-mampunya bagaimana merawat Damar Kedhaton sepanjang ikhtiar Khalidina fiha abada.

Mengingat samudera ilmu yang didhawuhkan Mbah Nun dalam berbagai kesempatan, khususnya kesadaran Tiga Lapis Langit Doa yang saya kutip dalam tulisan ini. Saya perlu membangun kerangka berpikir sekaligus kesadaran akan kewaspadaan. Saya tidak boleh terjebak untuk memastikan doa dan harapan saya dikabulkan oleh Tuhan. Sebab, kepastian adalah wilayah Tuhan.

Saya wajib memilih berdiri di batas yang sadar. Berdoa tanpa menuntut Tuhan. Berharap tanpa memaksa kehendak-Nya.

Cerme, 7 Februari 2026.

 

Febrian Kisworo aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan