Secuil Catatan Menjelang Rajab; Memperjuangkan Sigaraning Nyawa

Secuil Catatan Menjelang Rajab; Memperjuangkan Sigaraning Nyawa

(Part 4 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)

Foto: Adin (Dok. Progress)

Sebetulnya, saya masih bingung mau menulis apa. Lebih tepatnya, saya kesulitan merumuskan apa yang akan saya ketik di laptop merek Asus warna merah milik JC. Dan, ini menjadi masalah serius bagi saya pribadi.

Jangan becanda dan meledek. Halah, ngapain repot-repot nulis? Ngapain pusing mikir buat nulis? Urusin aja pekerjaanmu, lalu ambil waktu istirahatmu! Toh, ente menulis tidak dibayar kok. Hidup kan harus realistis. Gitu aja kok dijadikan sebagai masalah serius. Dasar, goblok!

Saya tidak tahu siapa yang bicara begitu kepada saya. Boleh-boleh saja Sampeyan anggap saya ini gila. Tidak realistis. Tidak bisa dipikir secara nalar. Tetapi, saya tidak menggubris itu semua. Asalkan saya masih punya waktu dan masih diberi kesehatan, saya akan tetap menulis. Saya menulis apa yang dibicarakan oleh pikiran saya, sembari berusaha menyimak apa yang dikatakan oleh hati.

Hari ini, Sabtu dini hari, 20 Desember 2025, bertepatan dengan 29 Jumadil Akhir 1447 Hijriah—bulan Jumadil Akhir yang sedang berjalan menuju dan akan segera memasuki bulan Rajab. Pikiran dan hati saya diguncang oleh keresahan. Banyak bahan tulisan mentah belum juga bisa saya selesaikan—untuk dikategorisasikan, dipilah-pilih, diolah, dan dieksekusi.

Apa keresahan saya? Mengapa saya menjadikannya sebagai masalah, lalu seolah mewajibkan diri sendiri untuk merumuskannya? Kurang gawean banget, memang—saya akui. Berulang kali seperti itu. Apa yang saya gelisahkan boleh saja disebut sebagai khayalan, fiksi, imajinasi, atau karangan belaka.

Namun, karena kegelisahan ini saya buat-buat sendiri, maka saya merasa wajib menuntaskannya. Sebenarnya, apa yang saya gelisahkan?

Ingatan saya lalu tertarik pada sebuah “janji” yang pernah saya deklarasikan di Puncak Gunung Lawu, 21 Agustus 2020. Gejala resonansi batin yang saya rasakan kala itu begitu berkesan dan membekas. Ia menyatu dalam aliran darah, setrumnya mengaliri syaraf-syaraf, dengan otak sebagai pusat kendali.

Maka Lewat Tulisan Aku BerTuhan

tiba-tiba aku terbangun
di tengah hening yang begitu bising dan diselimuti oleh udara dingin yang tidak asing
mendadak kepalaku terhentak oleh suara-suara liar yang enggan beranjak
ialah embusan angin yang membawa terbang angan yang masih kuingin

lalu kupandangi cakrawala malam yang begitu luas
tampak bintang gemintang yang begitu gagah perkasa
langit tersenyum dengan cerah
menciptakan simfoni nada yang indah; mewujud puisi dan kata-kata

bukan penyair yang pandai beretorika
aku hanya pengagum semesta kata
bukan pula sastrawan yang pandai berkata-kata,
aku hanya pecundang yang diperbudak oleh kata
yang sedang menikmati kebingungan di dalam gua pertapaan

maka lewat tulisan, aku berTuhan

Bermula dari pengalaman hidup itulah—yang saya maknai sekaligus saya tadabburi—saya seakan diarahkan untuk memasuki sebuah ruang perjumpaan melalui pintu masuk: Maka Lewat Tulisan Aku BerTuhan (terbit di Metafor.id 18 Desember 2020)

Puisi lima tahun lalu itu mengendap di benak dan perasaan. Ia berulang kali teringat, seakan memanggil nama saya. Seolah menyampaikan sebuah kabar, sebentuk woro-woro yang ditujukan khusus kepada diri saya sendiri.

Saya berupaya memosisikan diri pada koordinat frekuensi yang selaras dengan irama: membiarkan tulisan ini menemui takdirnya sendiri. Saya hanya sebagai hamba—tiada daya dan kekuatan tanpa kekuatan dari-Nya. Saya yang sebelumnya tiada, lalu di-ada-kan; meng-ada karena-Nya.

Dalam konteks ini, saya teringat apa yang disampaikan Pak Syaiful – Omah Padhangmbulan pada momen Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik. Beliau berkisah tentang persentuhannya dengan Mbah Nun, juga dengan Allahu yarham Syekh Nursamad Kamba.

Sepertinya, tulisan ini sekaligus mengawali pendalaman atas konteks Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Kholidina Fiha Abadan. Mengapa saya memakai kata sepertinya? Karena saya khawatir terpeleset. Tulisan ini, sejatinya, melebar cukup jauh dari kerangka awal yang hendak saya susun.

Seperti yang saya sampaikan kepada seorang kawan, sahabat, kanca curhat dan sambat, sekaligus guru saya dalam sinau Bahasa Arab (saat ini-red)—usianya selisih satu tahun di atas saya—“Bismillah, bengi iki mulai ta’cicil ngetik di laptop. Maksimal besok siang atau sore sudah tuntas. Btw, lokasi ngeprint di Balongpanggang sebelah mana, Gus?”

“Plan A: bahan tulisan sekalian aku i, biar bisa dicoret-coret.”
“Plan B: minimal sudah berbentuk file Word; selebihnya oret-oret manual atau mengasah ingatan kepala.”

“Dan alhamdulillah, ternyata besok malam itu momentum awal bulan Rajab. Stok bahan tulisan makin bertambah,” tulis saya, disertai emot menangis haru. Demikian pesan WA terkirim kepadanya pada Jum’at, 19 Desember 2025 pukul 22.41 WIB. Pesan itu memperjelas arah komunikasi sekaligus menyiapkan bahan untuk sinau bareng sambil nyangkruk dan ngopi di Balongpanggang.

Sehari sebelumnya, Kamis, 18 Desember 2025, saya juga mengirim pesan panjang kepadanya. Berangkat dari keresahan yang sama, saya ingin merumuskannya—memetakannya agar jelas, akurat, presisi, terukur, dan empan papan. Harapannya, langkah eksekusi dan strategi laku hidup bisa lebih terarah tujuannya, dan tidak melebar ke mana-mana yang ujungnya ketersesatan.

Keresahan itu yang kemudian saya sebut dan selaraskan getaran alirannya dengan frasa leluhur Jawa: sigaraning nyawa. Saya sengaja memakainya agar pemaknaan tidak dangkal dan tidak menyempit. Memang saya akui saja, keresahan dalam ikhtiar mengupayakan pasangan—garwa (sigaraning nyawa), bojo, istri—rasanya seperti mengaduk-aduk seluruh “kehidupan dan hidup” saya saat ini. Entahlah juga, mungkin ini hanya letupan emosional yang meledak-ledak. Sehingga perlu diselaraskan lagi ritmenya, iramanya, temponya, tangga nadanya, harmoninya, timbrenya, serta ekspresinya agar senada dan senapas dengan lirik lagu Letto:

Seandainya aku mengerti
Perihnya rasa rindu ini
Takkan berani ku bermimpi
Dan memilih untuk berlari

Karena cinta yang aku terima
Serpihan surga
Rasa itu dan senyumanmu
Sebening senja

Tak pernah aku menyesali
Perjalanan yang kulewati
Tuk memahami kata hati
Yang memanggilmu tak berhenti

Dengan mengingat, mempertimbangkan, dan mentradisikan laku hidup Mbah Nun, saya terus belajar menulis. Saya berusaha menjadikan menulis sebagai “permainan”, tetapi tidak terjatuh pada pola pikir main-main. Sebab saya sendiri menyadari, karena itu, saya terus menulis karena saya belum kaffah berguru kepada Mbah Nun.

Ingatan saya lalu kembali pada apa yang disampaikan Mas Helmi Mustofa dalam sesi ngobrol santai setelah penutupan Silaturahmi Nasional Penggiat Maiyah 2025 di Rumah Maiyah, Kadipiro, Yogyakarta, 7 Desember 2025. Bersama satu kawan delegasi dan lima romli dari Dulur Damar Kedhaton—Cak Khusnul, Cak Arip, Cak Teguh, Cak Fauzi, Cak Gogon, dan Cak Huda.

Saya menyimak setiap tutur kata yang disampaikan Mas Helmi dengan serius: tentang kebiasaan menulis Mbah Nun di sela jadwal yang padat, tentang kritikan terhadap resonansi keindahan lafal adzan yang kemudian lahir gerakan les di Kadipiro, ‘ilmu menjadi moderator, hingga ajakan untuk mentadabburi Al-Qur’an—mencintai, mengakrabi, dan mendekatinya sebagai sahabat sejati setiap hari.

Berangkat dari keresahan sigaraning nyawa itulah, saya mencoba menyelaraskan laku: menulis dan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an. Ini saya niatkan sebagai ikhtiar sajen kepada Indonesia dan kepada diri saya sendiri. Termasuk perjuangan melawan diri sendiri—melawan keresahan, melawan pikiran—agar oleh-oleh dari Silaturahmi Penggiat Maiyah 2025 tidak berhenti sebagai kenangan, melainkan menjelma sebagai laku untuk menjalani hidup dan kehidupan: menjadikan resah sebagai ‘ilmu.

“Terus laku lan nglakoni,” ujar kinasih Allah, Mbah Iman Budhi Santosa.

Bagaimana menjaga nyala optimisme agar tidak tersungkur dalam kubangan putus asa, sementara Allah sendiri dengan tegas dan terang benderang telah mengingatkan: “Tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir” (QS. Yusuf: 87).

Maka saya memilih sembilan ayat Al-Qur’an sebagai bahan tadabbur—tentu sebagai ikhtiar belajar rakaat perang panjang: QS. An-Nur ayat 26, 28, dan 33; QS. Ar-Rum ayat 21; QS. Al-Furqan ayat 74; QS. Asy-Syura ayat 11; QS. An-Nahl ayat 72; QS. Al-Kahfi ayat 29; serta QS. Al-Insyirah ayat 5. Ayat-ayat itu yang saya bawa ke Ponpes Nurul Mubin—Cahaya yang Nyata–pada Sabtu, 20 Desember 2025, di Balongpanggang.

Dan tibalah Surat Kehidupan itu kepada saya—melalui laptop yang menemani saya sejak sore hingga menjelang Subuh. Kisah Brakodin, Markesot, Tarmihim, Kiai Sudrun, Toling, Jitul, dan Sundusin seakan mengantar saya memasuki ruang perjumpaan yang luas; sejalan dengan kegelisahan dalam puisi Maka Lewat Tulisan Aku BerTuhan. Berikut cuplikan dari Surat Kehidupan tersebut:

“Menurut pengalaman saya, kurang cespleng kalau melakoni ilmu dengan berangkat dari pemikiran dan teori. Ilmu akan lebih mengakar dan mendarah daging kalau kehidupan ditemui secara telanjang apa adanya, tanpa membawa pretensi, sentimen, stigma, optimisme maupun pesimisme. Atau diganggu dan dibebani oleh tolok-tolok ukur yang diperoleh dari teks, narasi atau wacana…”

“Itu kalimatnya Mbah Markesot?” Jitul bertanya.

“Begitulah adanya,” jawab Tarmihim, “Pakde kalian ini mengenal benar jenis tulisan tangan Mbah Markesot”

“Kok bahasanya seperti bahasa anak sekarang. Kata, istilah, dan model nomenklaturnya seperti bukan orang kuno…” celetuk seseorang.

“Yang bilang Mbah Sot orang kuno emangnya siapa?” Junit menanggapi, “Setahu saya kita semua sejak awal sudah memahami bahwa Mbah Sot bukan manusia masa silam, masa kini atau masa depan. Mbah Sot adalah orang yang mengalir…”

Tarmihim melanjutkan membaca:

“Hidup bukanlah objek penelitian yang kita mempelajarinya berbekal teori dan parameter-parameter. Hidup bukan sesuatu yang berada di luar diri kita, justru kita berada di dalamnya dan dimuat olehnya. Sesekali kita melakukan pengandaian bahwa kita mengambil jarak, tapi pada hakikatnya tidak pernah benar-benar mengambil jarak. Hidup tidak bisa kita kelupas dari diri kita, dan diri kita juga tidak bisa kita kelupas darinya. Mungkin kita adalah kehidupan itu sendiri, atau kehidupan adalah kita ini sendiri…”

“Kita tidak berposisi gagah dan pandai untuk mempelajari kehidupan. Kita belajar kepada kehidupan, bukan mempelajari. Sebagaimana diri kita belajar kepada diri kita. Kehidupan itu sendiri tidak pernah dan tidak perlu belajar kepada diri kita. Karena mungkin sesungguhnya kehidupan itu tidak ada. Yang ada hanya kita dengan kesadaran kita, yang membuat kita menyadari, merasa, dan melihat ada kehidupan. Mungkin sekali yang kita sadari, kita rasa dan lihat itu hanya seakan-akan—hanya kita yang sebenarnya ada, itu pun sesungguhnya juga hanya diada-adakan oleh yang Sejati Ada”

“Retak kepala saya,” kata Toling—dan saya menganggukan kepala, merasakan hal yang sama. Diam-diam saya juga menyetujui dan menyepakati apa yang dibacakan oleh Tarmihim.

“Lalu Dia menyempurnakan dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalamnya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. As-Sajdah: 9)

Cerme, 20 Desember 2025 (01:25-04:45 WIB)

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.