Resah yang Ditemani Tulisan

Resah yang Ditemani Tulisan

Berhari-hari terasa seperti ada yang hampa. Kosong. Ada semacam keresahan abstrak yang tengah saya alami. Saya pun penasaran dengan apa yang sebenarnya saya rasakan. Ketika coba saya petakan permasalahannya—sebab-akibatnya; mengapa saya resah pada hal yang bahkan masih bersifat abstrak—ini menjadi ikhtiar kecil yang ingin saya tempatkan pada garis koordinat, semoga saja istiqomah: bagaimana menjadikan resah sebagai ‘ilmu. Salah satu metode yang saya tempuh lewat jalan menulis.

Bicara soal menulis, sebetulnya saya tidak berani terlalu ge-er untuk mengatakan bahwa setiap hari pasti menulis. Tetapi, bukti dan fakta yang berupa data itu ada; tersimpan dan tercatat di salah satu website media massa: klikmedianetwork.com. Kebanyakan tulisan saya di sana mengulas tentang sepak bola mancanegara. Bukan sekadar mengulas, tepatnya seluruh tulisan yang terbit di sana adalah hasil olah ATM: Amati, Tiru, Modifikasi.

Metode ATM senada dan seirama dengan tiga konsep Pendidikan ajaran tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara: Niteni, Niroake, dan Nambahi dalam setiap proses menulis. Seperti yang pernah disampaikan oleh Pak Iman Budhi Santosa. Niteni adalah memperhatikan dan memperbanyak referensi; niroake adalah menirukan yang terdahulu; nambahi adalah menambahkan sekaligus menyempurnakan perpaduan hasil niteni dan niroake.

Maka, coba saya runtut apa saja yang tengah saya gelisahkan belakangan ini. Mengapa saya bisa kepikiran? Apa penyebabnya? Bagaimana cara saya peka membaca situasi? Siapa saja yang membuat saya gelisah? Dan beragam pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya sendiri: sebagai upaya untuk merumuskan sekaligus memetakan duduk perkara atas keresahan itu sendiri.

Pekerjaan di laboratorium JC, Insyaallah, aman. (Mungkin) ada beberapa keresahan soal manajerial tata kelola stok data, yang untuk saat ini perlu saya harmonisasikan terlebih dahulu dengan kacamata analisis SWOT: Strengths Weaknesses, Opportunities, Threats. Dari situ, saya menemukan rumusan masalah yang lebih jelas dan terarah duduk perkaranya. Meskipun saya sadari, sebagai manusia, juga merasa ngelu. Bagi saya, itu pertanda otak saya sedang aktif bekerja.

Karena konteks tulisan ini adalah “tulisan” itu sendiri, maka saya berupaya mengaktifkan cara sistem kerja otak: memfokuskan arah, muatan, beserta kandungan konteks tulisan itu sendiri. Terutama belajar berperan sekaligus berperang melawan diri: bagaimana struktur kerangka alur tulisan tetap setia pada rel utama pembahasan.

Perlu diketahui, ada lima tulisan yang sudah saya finalisasi. Tulisan-tulisan itu merupakan upaya memetakan bahan mentahan hasil oleh-oleh dari Bangbang Wetan edisi Maret 2024. Poin-poin yang berhasil saya catat berasal dari kompleksitas pengetahuan, wawasan, serta pemahaman Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh terhadap tema: Memeluk Mukjizat.

Lima judul tulisan itu sudah saya kirim di grup Sajen Pawon DK sejak 9 Februari 2026. Tinggal menunggu review dari Cak Fauzi. Soal ini, saya tidak menagih, tidak pula menanyakan kembali bagaimana progress-nya. Sikap saya jelas: membiarkan saja tulisan itu berjalan bersama takdir waktu. Setelahnya, saya belum membuat tulisan lagi selain Isyarat Fatwa Hati dan Kesadaran Bernegara ala Damar Kedhaton Gresik. Juga beberapa artikel bola, serta tulisan-tulisan lain yang antah berantah tujuannya—yang masih setia saya tulis setiap hari.

Maka, tulisan ini, saya anggap sebagai proses “mengawali” lagi proses menulis saya dalam konteks khusus yang sengaja saya kirim di damarkedhaton.com. Eh, ternyata ada yang terlewat dari pengamatan saya. Bahwa, ada satu tulisan lagi yang sebenarnya sudah saya kirim di grup serupa, setelah lima tulisan dalam serial : Tadabbur, Tazakkur, I’tibar, dan Tafakkur 5W+1H Mukjizat. Tulisan itu saya kirim dalam bentuk file bernama HPN, pada 10 Februari 2026.

Sejujurnya, saya bahkan sampai lupa sudah mengirim tulisan HPN tersebut. Ini saja, ingatan saya kembali menguat ketika membuka kembali grup WhatsApp Sajen Pawon DK—yang saya buka lagi dalam proses menulis tulisan ini (19 Februari 2026). Dari kejadian ini, saya belajar bahwa ingatan saya tidak dapat dipastikan berusia lama. Terkecuali diingatkan lagi oleh catatan atau tulisan itu sendiri. Alhamdulillah…

Mengingat hari ini masuk dalam daur momentum puasa, naluri mengajak saya mengunjungi website caknun.com. Dari beberapa highlight judul tulisan yang disajikan google, secara sengaja dan sadar saya memilih tulisan yang ditulis oleh Mas Helmi Mustofa. Judulnya: Puasa sebagai Hakikat Hidup.

Dari keseluruhan isi tulisan itu, saya menaruh perhatian serius terhadap sub judul tulisan: Tauhid, Menemukan Keterkaitan. Berangkat dari konteks momentum puasa, Mbah Nun menjelaskan bagaimana cara memahami puasa dengan menarik ke sisi mendasarnya: mindset berpikir.

Sebagaimana yang telah kita saksikan bersama dalam forum-forum Maiyahan, Mbah Nun menanamkan sepercik ilmu di dalam Maiyah, bahwa kita harus bisa menemukan kaitan antara satu hal dengan hal lain. Tak ada hal yang tak ada hubungannya dengan hal lain. Tidak ada ‘apa’ tanpa yang selain ‘apa’. Tak ada ‘siapa’ tanpa yang selain ‘siapa’.

Mengapa mesti menemukan hubungan satu hal dengan hal lainnya?

Menurut Mbah Nun,, keterkaitan satu hal dengan hal lain itulah yang sebenarnya merupakan salah satu makna utama tauhid. Di depan penglihatan kita, realitas tampak bukan hanya beda-beda tetapi mungkin kita pahami terpisah satu sama lain.

Namun, dalam perspektif tauhid, semua itu ada kaitannya. Maka, menurut Mbah Nun, tauhid adalah menyatukan apa-apa yang oleh mata dan pemahaman kita tampak terpisah-pisah menjadi berada dalam suatu keterkaitan. Tauhid berumpun kata dengan wahhada yang berarti menyatukan. Dan, wahid yang berarti satu. Dengan kata lain, tauhid mengajarkan pemahaman yang utuh, integral, tidak parsial, dan tidak terpisah-pisah.

Barangkali, seluruh tulisan saya, yang berangkat dari titik awal serial edisi 9 tahun Damar Kedhaton Gresik, saya husnudzoni menemukan resonansinya lewat dhawuh Mbah Nun yang ditulis Mas Helmi Mustofa dalam rangkaian acara “Menjelang Senja Bersama Cak Nun & KiaiKanjeng”, khususnya edisi perdana di bulan Ramadhan 1443 Hijriyah (2022 Masehi).

Di situlah keterkaitan itu saya maknai menemukan resonansinya dengan tulisan Cak Fauzi: Tak Sekadar Perlu Dibaca, Tapi Ditemani. Sebagai upaya saya untuk memaknai keterkaitan dari tiga tulisan ini—tulisan yang saya ketik ini, tulisan perdana acara Menjelang Senja Ramadhan 1443 H, dan tulisan oleh Cak Fauzi itu—saya menemukan kegembiraan batin yang terasa sunyi. Tak tampak, tapi menenteramkan jiwa saya seketika.

Rasanya seakan jiwa saya dibasuh oleh air dari sumbernya langsung. Saya pribadi membutuhkan peran Cak Fauzi untuk menjaga ritme, irama, nada dari seluruh tulisan saya. Tujuannya agar menemukan titik temu simfoni. Seperti paragraf awal yang ditulis oleh Cak Fauzi: letupan sunyi yang dilempar ke tengah keramaian.

Terlepas ‘siapa’ yang akan membaca tulisan saya; saya bodo amat. Sejujurnya, saya juga dibuat frustasi oleh kegelisahan yang saya alami sejak saya menjanjikan diri menulis sembilan esai untuk merayakan sembilan tahun Damar Kedhaton Gresik: Menulis Tanpa Arah Tunggal, Serpihan Surga di Sisi Pena, Puisi Tuhan dan Rumah Keabadian, Biarkan Tulisan Ini Menemui Takdirnya Sendiri, Menjembatani Lahir Menuju Tafakkur, Fino Alla Fine: Perjalanan Lahir Batin yang Tak Pernah Usai, Membaca Reminisensa dari Pintu Halaman 9, Ketika Angka 26 Mengubah Arah Tulisan, Zikir Perjalanan 9 Tahun Lewat Tulisan Aku BerTuhan.

“Agama tidak hanya berisi perintah, tetapi juga deretan afala ta’qilun (Tidaklah kalian berpikir?) sebagaimana Allah menyerukannya di dalam Al Qur’an,” tegas Mbah Nun.

Dari seluruh keresahan dan kegelisahan itu, yang membuat saya makin frustasi, justru saya menemukan kenikmatan tiada tara. Kesegaran batin yang betul-betul nikmat. Dan, saya akan terus mengembarai rasa frustasi tersebut. Sepanjang Demi Masa.

Cerme, Kamis, 19 Februari 2026

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.