
Malam Jumat Pahing, 23 Rabiul Awal 1438 H bertepatan dengan tanggal 22 Desember 2016, sejak ba’da Isya satu per satu jamaah DK berdatangan di halaman MTs Nurul Islam Pongangan, Manyar, Gresik. Tanpa komando, mereka bergotong royong menggelar alas duduk, men- setting sound system , dan menata ini itu. Sambil menunggu acara dimulai, lingkaran-lingkaran kecil terbentuk. Sangu dari tas kresek (kopi, gorengan, camilan) dikeluarkan dan ditawarkan. Ngobrol ringan, dan saling mengakrabi, nyedulur. Kebetulan, di seberang jalan sedang ada hajatan. Lalu lalang kendaraan dan rancak ramai lagu dangdutan, memaksa tiap orang untuk sedikit berteriak tiap kali bicara. Situasi demikian menggiring mereka untuk beradaptasi. Maka, kebisingan pun tak jadi soal. Melepas gelegak tawa pun tak perlu sungkan mengganggu orang. Toh, bisa terredam oleh gelegar musik di seberang.
Sekitar pukul sembilan malam, Cak Teguh membuka acara dengan mengajak sedulur yang hadir agar duduk semelingkar mungkin. Tak ada yang ditonton, tak ada yang menonton. Seluruh yang duduk adalah jamaah dengan posisi yang setara. Jika ada yang sedang pegang mic, itu sebatas soal fungsi belaka. Begitulah atmosfir yang hendak dibentuk di telulikuran edisi kedua.
Setelah itu, Kang Farhan memandu jamaah untuk berbareng melantunkan wirid dan sholawat nabi. Suasananya khusyu’ nan menggetarkan. Betapa tidak, keriuhan dangdutan di seberang, seolah hilang pengaruh. Jamaah larut dan hanyut dalam frekuensi cinta pada Tuhan dan RasulNya.
Sesi berikutnya adalah identifikasi jamaah. Pada telulikuran edisi kedua ini, melingkar sekitar empat puluh jamaah DK. Proses kenal akrab pun dilangsungkan. Masing-masing berbagi informasi diri, beserta kesan ketersentuhan dengan Maiyah.
Pasca itu, Cak Teguh mempersilakan Gus Baydhowi dan Gus Himam untuk menuturkan perjalanan terbentuknya DK. Dua orang itulah yang menginisiasi lahirnya group Jamaah Maiyah Gresik, baik di FB maupun WA. Berangkat dari momen Ihtifal Maiyah, di mana beberapa pemuda JM dari Desa Wonokerto saat itu ikut hadir, dan mendapat kontak Mas Alay dan Mas Harianto, mereka tergerak dan terdorong untuk mengumpulkan JM Gresik via dunia maya. Dari silaturahim di grup FB dan WA itulah, para JM Gresik diperjalankan, berproses hingga bersepakat untuk rutin melingkar mendalami ilmu dan nilai-nilai Maiyah.
Sesi selanjutnya, jamaah diajak untuk menikmati sharing informasi dan refleksi dari Cak Gogon. Dia termasuk pegiat DK yang paling rajin keliling nyambangi sedulur untuk ngopi. Sekaligus, dia yang aktif menjalin silaturahim dengan pegiat simpul-simpul maiyah di sekitar Gresik : BangbangWetan, Linkar Barat, dan Semesta, untuk ngangsu kawruh. Pada sesi ini ia hendak berbagi pengalaman yang ia dapat, dan dari itu diharap DK bisa belajar menata langkah.
Berikutnya Cak Teguh mengantarkan jamaah untuk menyimak dan menimba ilmu dari Pak Kris, seorang pegiat budaya dan sejarah Gresik. Pak Kris membabar sejarah penyebaran islam di Gresik, dan mengajak jamaah menelusuri jejak sejarah kota Gresik. Dimaklumi bahwa, pada umumnya pemahaman anak muda akan sejarah kotanya memang kian luntur. Untuk itu, suntikan dari Pak Kris tersebut dirasa cukup membuka mata dan memantik minat jamaah yang hadir. Tak ayal, berbagai pertanyaan pun terlontar saat dibuka sesi tanya jawab. Dan diskusi pun berlangsung seru hingga tengah malam.
Sesi selanjutnya, dulur-dulur pegiat BbW yang telah hadir, diminta untuk untuk berbagi. Cak Amin, berkenan membagi oleh-oleh dari Silatnas Pegiat Maiyah III. DK merasa bersyukur, karena sebagai bayi, yang belum berkesempatan ikut Silatnas, tetap kecipratan ilmu dan poin-poin penting dari Silatnas. Cak Fajar berikutnya yang berbagi. Ia ditodong untuk memberikan wacana mengenai “struktur organisasi” Maiyah, yakni Dzat-Sifat-Isim-Jasad Maiyah. Ia berpesan bahwa penataan organisasional tersebut janganlah kemudian mengekang kreatifitas dan kemerdekaan simpul. Tetap luwes, dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Ia menambahkan bahwa faktanya didapati simpul maiyah yang tidak menerapkan “struktur”, pun baik-baik saja dan bisa terus berproses melingkar Maiyahan.
Acara telulikuran disambung dengan tadabbur atas beberapa alternatif logo DK. Cak Saiful Ghozi, Cak Azza, dan Cak Dwi yang menemani jamaah mengelaborasi sisi filosofi dari beberapa alternatif logo. Menyadari bahwa logo bukan sesuatu yang mendesak, jamaah menyepakati untuk melanjutkan rembugan di edisi telulikuran berikutnya.
Gema sholawat tarhim berkumandang dari masjid sekitar. Jamaah menutup acara dengan terlebih dulu menyepakati untuk melingkar telulikuran edisi tiga di daerah Gresik utara. Berdoa bersama, lalu bareng-bareng mengemasi barang dan membersihkan sampah. Datang bersih, pulang pun harus bersih.
*terima kasih dihaturkan kepada Cak Danang, Wakil Kepala MTs Nurul Islam, yang dengan mesra memersilahkan dan memfasilitasi DK melingkar telulikuran edisi dua. (aif/ddk)