Reportase Telulikuran DK Edisi #3 – Januari 2017 “Merasakan Atmosfer Nandur Katresnan”

JMDK di acara Telulikuran edisi 3.

Malam itu, 21 Januari 2017, semangat cinta terpancarkan dari kawasan Gresik utara, di mana para sedulur JMDK sedang menyiapkan kebutuhan acara rutinan Telulikuran Damar Kedhaton. Ndilalah, hujan turun dengan deras, sampai air masuk ke dalam area Musholla Padhange Ati, seperti mengantarkan berkah dari Sang Maha Cinta. Setelah hujan reda, para pegiat pun bahu-membahu membersihkan area musholla dari genangan air.

Adik-adik remaja dari Ds. Wonokerto membawakan beberapa nomor lagu sebelum telulikuran.

Acara diawali dengan nderes Al-Quran oleh beberapa sedulur DK. Kang Farhan, Cak Fikri, Cak Ibad, dan Cak Haris bergantian hingga mengkhatamkan tiga juz pertama. Selanjutnya, jamaah diajak menikmati sekian nomor lagu yang dibawakan oleh adik-adik remaja dari Ds. Wonokerto. Gundul Pacul, Suwe Ora Jamu, Lir Ilir, Syiir Tanpo Waton, dan Tombo Ati dikemas dengan memadukan aransemen ‘ala arab, jawa dan dangdut.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan pembukaan. Kang Yusuf, pegiat DK yang sehari-hari adalah seorang guru ekstra kurikuler di SMA Hidayatus Salam, didapuk untuk membuka dan mengantarkan acara.

Sesi selanjutnya, jamaah telulikuran membawa diri untuk khusyuk melantunkan wirid dan sholawat Nabi yang dipimpin oleh Kang Farhan, Cak Zulfan dan Mas Mizan. Suasana sejuk, khusyuk, dan khidmat, mengatmosferi wirid dan sholawat malam kemarin.

Pembukaan acara oleh Kang Yusuf.

Usai sholawatan, Kang Yusuf mempersilahkan Abah Misbah (Ahmad Misbahul Abidin), Ketua Yayasan Pendidikan Hidayatus Salam, untuk  memberikan sambutan. Dalam wejangannya, Abah Misbah menekankan  tentang cinta dan kedekatan diri dengan Sang Khalik, juga berbagi mengenai bagaimana perbedaan sholawat & wirid.

Pada bagian awal wirid yang dibawakan JMDK malam itu, ada beberapa wirid yang dimulai dengan memanggil Allah, menggunakan awalan ‘Ya Allah’ ( Ya Allahu Ya Mannan Ya Kariim). Kemudian, berlanjut ke wirid yang langsung menggunakan kata ‘Allah’ tanpa kata ‘Ya’ ( Allah Allah Allah Allah maa lana maulan siwallah) . Dijelaskan oleh Abah Misbah, bahwa pola ini seperti sebuah perjalanan rohani. Awalnya, panggilan “ya” menggambarkan jarak kita jauh dari Allah. Lama kelamaan, tanpa “ya”, posisi kita seolah-olah telah lebih dekat denganNya. Abah Misbah juga berpesan, bahwa usaha harus diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan, bukan keinginan. Karena, sebetulnya Allah itu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Di akhir sambutannya, dengan nada agak guyon Abah Misbah mengutarakan kekagumannya pada jamaah DK. “Biasane, sing khusyu’ wiridan sholawatan iku jubahan putih, surbanan. Lha arekarek iki gak e. Masiya bungkus’e ngene, ta’dilok maeng pas sholawatan ya khusyu’e. MasyaAllah..”, ujar beliau.

Abah Misbah (Ahmad Misbahul Abidin), Ketua Yayasan Pendidikan Hidayatus Salam, memberikan sambutan.

Sesi berikutnya, jamaah telulikuran diajak sinau kepada tamu, yakni JSP (Jamaah Siwalan Peduli) dan Sehati. Mereka memberikan contoh output dan pembelajaran bagi JMDK, bahwa apa yang kita pelajari dalam Maiyahan kali ini harus memberikan output bagi sesama.

Secara singkat mengenai JSP; JSP konsen dalam membantu orang-orang sakit, yang tidak mempunyai biaya untuk berobat. Terlebih lagi jika orang tersebut sudah sepuh dan tidak mempunyai sanak famili. JSP sangat ingin dibubarkan. Sebab bila bubar, artinya situasi telah menjadi baik dan sudah terpenuhi kebutuhannya. Akan tetapi, sampai saat ini, peran JSP masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar.

Mengenai Sehati; merupakan organisasi yang fokus dalam membantu anak-anak yatim piatu di wilayah Lowayu dan sekitarnya. Saat ini, Sehati lebih terkonsentrasi untuk menangani pendidikan anak yatim piatu.

Soft launching logo, website resmi, dan akun resmi sosial media.

Alhamdulillah, sebelum memasuki tema acara Nandur Katresnan, JMDK bisa melakukan soft launching logo, website resmi, dan akun resmi sosial media. Di sela-sela peluncuran tersebut, Cak Dahlan, seorang jamaah senior asal Panceng mengatakan, “Untuk logo dan lain-lain, saya merasa bangga. Pastilah sudah terpikirkan filosofi yang dalam. Tapi, jangan lupa untuk mengaplikasikan apa-apa saja yang dipelajari dari Maiyah”. Sebuah pesan yang sangat dalam. Memberikan kesadaran berpikir kepada kita, bahwa jangan cuma belajar tanpa ada aksi.

Memasuki tema Nandur Katresnan, Cak Fauzi memandu jalannya diskusi dengan membagi seluruh yang hadir menjadi 4 kelompok. Tiap kelompok dipersilahkan untuk melakukan tadabbur dan elaborasi terhadap tema. Diskusi berjalan gayeng dan menarik di tiap kelompok, sehingga waktu yang diberikan sepertinya masih kurang. Rentang diskusi diperpanjang, dari 30 menit menjadi 45 menit.

Diskusi Nandur Katresnan dipandu oleh Cak Fauzi.

Diskusi yang dilakukan tiap kelompok berhasil memberikan banyak sudut pandang mengenai tema malam itu. Memberikan kesadaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Mbah Nun, bahwa kita harus selalu nandur. Nandur Katresnan, salah satunya, bisa diartikan dengan nandur kebaikan. Kalau pun ketika kita nandur ternyata tidak ikut menikmati hasilnya, ya tidak apa-apa. Sebab, Jannatul Maiyah tidak berharap buah. Shodaqoh yang diberikan oleh Jamaah Maiyah dalam rangka rangkaian cinta semesta. Seluruh yang hadir menyepakati, bahwa inilah nandur katresnan itu.

Cak Gogon dan Cak Adib membagikan pengalaman di beberapa maiyahan sebelum telulikuran.

Kang Thobib, salah seorang mutiara Maiyah asal Gresik yang kebetulan pulang kampung, memuncakinya. Beliau berkata, bahwa konten diskusi semacam yang dilakukan malam ini adalah suatu upaya penyempurnaan manusia sebagai khalifah di bumi.

Usai melakukan diskusi, Kang Yusuf mempersembahkan sebuah komposisi dari Iwan Fals yang berjudul Ujung Aspal Pondok Gede, dan Lagu Satu. Lalu, dilanjutkan oleh Cak Fauzi dengan Darah Juang.

Sejak semingguan sebelum acara telulikuran, Cak Gogon dan Cak Adib berkesempatan menemani Kang Thobib untuk menghadiri acara PadhangmBulan, Bang-bang Wetan, dan Macapat Syafaat. Oleh-oleh dari Jogja dibagikan kepada seluruh yang hadir, bahwa rasanya seperti mimpi bisa menemani Kang Thobib. Sangat banyak hikmah yang dipungut dari perjalanan tersebut.

Do’a oleh Kang Thobib.

Menuju akhir acara, seperti Telulikuran sebelumnya, dilakukan penentuan lokasi untuk bulan depan. Tawaran lokasi dari sedulur Driyorejo, langsung diiyakan dan disepakati. Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Cak Adib yang berjudul Hening. Acara pun sukses dipuncaki dengan gelak tawa. Keindahan, yang kalaupun bisa ditulis di sini, tak akan bisa mewakilkan susana tersebut. Pada penghujung acara, semua jamaah bersama-sama menikmati talaman yang telah disiapkan oleh Cak Adib.

Mendekati pukul 03.00 acara selesai dengan diakhiri oleh doa dari Kang Thobib. (eby/ddk)