
Tidak ada waktu untuk lelah. Itulah salah satu percikan energi yang disampaikan oleh Mbah Nun pada suatu kesempatan. Apa yang beliau sampaikan itu adalah sebuah energi yang melecut semangat untuk menghadapi kehidupan ini.
Pada kesempatan lain, beliau juga memberikan petuah kepada para Jannatul Maiyah untuk nandur; Nandur di kebun maiyah. Nandur kebaikan-kebaikan tanpa mengharapkan sebuah muara dari perjuangan kita; dalam artian harus berbuah. Karena di dalam kesadaran bermaiyah, kita menyadari bahwa pengharapan mutlak kita hanya kepada Allah SWT. Wa ilaa robbika farghob. Terserah-serah Allah mau dibuat apa tanduran kita ini; yang penting kita terus berjuang nandur. Di dalam kegiatan nandur itu, kita juga sebisa mungkin menemukan kenikmatan dan kegembiraan nandur kebaikan. Sehingga, tidak ada waktu untuk lelah. Malah yang sering kita rasakan adalah bertambahnya energi yang berlipat ganda yang memperkuat fisik kita. Pikiran dan hati juga menjadi jernih.
Seraya memperhatikan dan berendah hati saat mencoba masuk ke dalam dimensi keilmuan Mbah Nun, seringkali kita heran dengan daya juang beliau yang tak kenal lelah. Hari ini beliau di kota A, besok sudah berada di kota B, lusanya ada di kota C, dan seterusnya. Mengingat usia beliau yang tergolong sepuh, sebagai kawula muda, ada rasa malu yang sangat mendalam. Kita sangat mudah lelah, aras-arasen berjuang, dan mudah menyerah. Selain menemukan kegembiraan dan kenikmatan di dalam perjuangan untuk nandur kebaikan, Mbah Nun juga memberikan resep, yaitu mengupayakan Energi Sulthon yang dapat merasuki diri kita. Karena, dengan Energi Sulthon inilah, kita akan merasakan sebuah energi ekstra yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk berjuang terus demi kebaikan bersama. Demi kelangsungan masa depan anak-cucu kita.
Tentang Energi Sulthon sudah diterangkan di dalam Al-Qur’an, yaitu di surat Ar-Rahman.
Hai masyarakat jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus gugusan langit dan gugusan bumi, maka tembuslah, kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan Sulthon.
Sulthon berasal dari kata sallatho; artinya menguasai. Bila dikaitkan dengan ayat di atas berarti penguasaan. Terkadang, Sulthon juga berarti Penguasa atau Raja. Maka, maksud ayat tersebut ialah: “Kalian tidak akan mampu menembus gugusan langit dan gugusan bumi, sebelum kalian terlebih dahulu mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologinya”.
Jika kita mencari makna gugusan langit dan bumi dalam ayat di atas, barangkali kita masih berpikir untuk menafsirkan ayat tersebut dengan langit yang ada di atas kepala. Langit yang bisa dilihat dengan mata, yang ada mataharinya, ada bulan dan bintangnya. Coba kalau ayat tersebut dikaji lebih luas dan lebih dalam lagi. Di manakah letak gugusan bumi itu? Padahal bumi yang kita pijak hanya satu, serta terdiri atas tanah dan batu. Kalau demikian, bagaimana cara orang bisa menembusnya? Dengan alat apa orang mampu menggali lubang tembus itu? Siapa pula yang pernah berhasil melakukannya?
Kita sudah mengetahui, bahwa Allah SWT menciptakan tujuh lapis langit dan bumi. Oleh karena itu, mungkin yang dimaksud gugusan langit dan gugusan bumi di dalam ayat tersebut bukan langit dan bumi yang lahir saja, akan tetapi juga gugusan-gugusan langit dan bumi batin yang terletak di dalam keajaiban – keajaiban ciptaan Allah yang ada dalam jiwa manusia.
Mbah Nun adalah mursyid bagi para pejalan sunyi . Bapak ruhani bagi para Jannatul Maiyah. Mbah Nun selalu mengajak kita menyandarkan pengharapan hanya kepada Allah SWT, dan senantiasa mengajak kita mengupayakan cinta dari Rasulullah SAW lewat sholawat-sholawat. Karena energi yang tak kenal lelah itu, beliau tampak semakin bugar dan berenergi.
Energi Sulthon yang beliau ajarkan kepada kita merupakan sebuah upaya agar kita sebagai Jannatul Maiyah tidak mudah lelah dan selalu berenergi untuk nandur kebaikan dan berupaya semakin dekat kepada Allah dan Rasulullah di dalam segitiga cinta.
Rifqi Febrian Apriliansyah
Penggiat Damar Kedhaton. Aktif dalam berbagai kegiatan Maiyah.